Sarung Lipa Sabe

Lipa sabe

Sarung atau lipa adalah jenis kain khas Indonesia. Berbagai macam jenis sarung tersebar di belahan bumi nusantara ini dengan corak dan warna yang khas.

Perjalananku ke Makassar awal puasa lalu berikan pengalaman tentang apa lipa itu. Bagi budaya Sulawesi atau khususnya Makassar, sarung adalah kain yang sangat penting dibutuhkan  pada semua kegiatan. Saat melaksanakan ibadah, sarung menjadi hal wajib yang rutin dipakai sehari-hari. Saat tidur sarung pun menjadi perangkat penting. Tidak sekedar mengusir dingin, sarung juga mengusir nyamuk dan kain yang aman dipakai untuk tidur melungker.

Setiba dirumah sahabat, saya diajak berkenalan dengan orangtua sahabat. Beliau seorang tetua yang dihormati di Galesong Makassar. Secara turun temurun, beliau masih keturunan langsung dengan Karaeng Galesong I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na.  Ibunda sahabatku, Ibu Nadhir Larigau mempersilahkanku ke kamar yang sudah beliau persiapkan untukku. Aku jadi kikuk berada disana. Sebuah suasana baru, budaya baru yang kupelajari, dan orang2 yang  baru kukenal, begitu ramah dan bersahaja.

Sempat kutermenung di dalam kamar itu. Sepertinya kuingat kamar ini, tapi dimana ya..

Hmm baru kusadar, kamar ini adalah kamar kakak sahabatku yang fotonya terpampang di internet. Kakak sahabatku ini sedang melaksanakan pernikahan dengan mempergunakan adat istiadat yang cukup kental. Hmm baru sadar diriku, ini adalaah kamar pengantin. Sahabatku bilang ini adalah kamar tamu dan bukan kamar pengantin. Tapi masuk akal juga, disitu kulihat ada kamar mandi yang menyatu dengan kamar ini.

Sembari termenung, kupandangi langit2 kamar. Nggak jauh beda dengan kamarku di Malang.. Tempat tidur..sama juga dengan milikku. Tempat tidur kayu ini benar2 kokoh. Tapi sepertinya masih baru, maklum baru dipakai oleh pengantin. Tapi yang buat kumerasa aneh.. Ada dua buah sarung tergeletak di kasur. Satu berwarna agak ungu gelap dengan corak kotak2 yang tidak terlalu besar, dan yang satunya lagi kotak2 hitam dengan selingan garis kecil.

Lama2 kupandangi kedua sarung itu, walhasil ngantuk sudah. Mataku tak bisa kubuka lagi. Dan kedua lipa unik itu hanya kupeluk saja, tidur dengan penuh tanda tanya. Tapi perjalanan panjangku dari Malang ke Makassar membuatku lelah tanpa daya. Aku tak sanggup lagi membuka mata. Dan tidurlah aku berpeluk dua lipa.

Sore itu panas masih merambat di Galesong. Saatnya mandi tiba sepertinya. Baru kuingat aku belum buka backpack ku yang berisi baju dan mukena. Baru kuingat, hari itu hari pertama puasaku, dan hari pertama puasa yang kujalankan nun jauh di belahan bumi bagian utara. Yaa..aku saat ini berada di Galesong. Beberapa kilometer dari Makassar. Perjalanan kutempuh hampir selama satu jam. Tok Tok ibunda sahabatku, Wandy .. ketok pintu kamarku.

“Mbak Ika kalau mau mandi itu ada sarung di kasur”, kata Ibu Larigau dari luar kamar. Kudengar suaranya jelas. Hmm kuberpikir2 sejenak. Sambil mengernyitkan dahi ‘sarung untuk mandi’.. Belum selesai kuhilangkan kernyit di dahiku.. Ibu Larigau sudah mengingatkan lagi..  “Mbak Ika kalau mau sholat Ashar sarungnya juga saya letakkan di kasur”..kata beliau pelan.

Wah seketika itu pula kulihat dengan tatapan mata pada kedua Lipa tersebut. Pelan2 kusentuh sudutnya dan kubuka kedua lipa yang ada di kedua tanganku. Ternyata dua sarun ini berbeda fungsi. Satu untuk mandi, dan satu untuk sholat.

Kusadari benar2 pengalaman yang tak terlupakan. Keluarga baruku berikanku pengalaman hidup bahwa begitulah cara orang menghormati tamu. Apalagi apabila tamu tersebut hendak menginap. Seperti biasa, mereka selalu akan menyediakan dua buah sarung buat tamunya.

LIPA

Galesong, 1 Ramadhan 2011

Ribet Sarungan

Make sarung Bugis? Wah belum pernah. Baru kali ini nyobain dengan segala macam rasa dan upaya. Tapi akhirnya berangkat juga aku ke lokasi preliminary cultural night yang diadakan IKAMI Malang. Mereka bilang akan ada cultural dances. Wah kalau denger-denger dance aku langsung bergejolak. Pengen lihat maksudnya. Aku selalu antusias kalau disuruh menyaksikan tari-tari adat SULSEL.

Etapi kalau kostumnya nggak mendukung ya nggak asik dong. Itulah kemudian kubongkar almariku, masih inget aku punya satu koleksi baju bodo yang belum pernah sama sekali kupakai. Lucu juga bikin baju bodo tapi nggak tau akan dipakai kapan. Aku hanya berharap aja, siapa tau terpakai. E-bener ternyata baju bodo itu sudah kurencanakan akan kupakai di kegiatan IKAMI Malang nanti. Malam tlah tiba, dah pasti hari semakin dingin. Ini Malang bro, dan aku lupa bahwa malam itu dingin sekali.

Cepat kupakai sarung yang kubeli di Sidrap bulan Oktober lalu. Ini berhubung sudah malam, aku belum sempat browsing-brosing tutorial gimana pakai sarung Bugis. Koq tutorial youtube yang ada cuma hijab mulu. Beghh.. Aku berusaha make sarung ini dengan segala cara sampai keringetan gobyoss. Kipas angin dah kustel nomor 3 tapi masih aja gobyos. Mbuh nggak tau goobyos itu apa bahasa Indonesianya. Tapi yang jelas belum berangkat ke Asrama Hasanuddin aku sudah berpeluh-peluh gara-gara ini sarung. Pengen jadi orang Sulawesi koq susah amat yak. Ini belum berangkat ke kondangan dah kayak gini. Kulihat prof. Andi Ima Kesuma nggak gini-gini amat. Penampilan baju bodo beliau selalu sangat bersahaja.

Ya maklum lah, belum pernah. Tapi akhirnya jadi juga dengan teknik mbulet-mbulet trampil. Berangkat lah kukesana. Ini kedodoran atau tidak aku nggak paham. Yang panting dah kupake dan nggak ketinggalan jaket hijauku dari almamater Humaniora sudah pasti tak ketinggalan. Setelah kustar motor melajulah aku menuju asrama Hasanuddin. Sesampai di belakang kampus UIN yang masih ada beberapa petak sawah koq jadi terasa agak semriwing gitu ya. Alias dingin menggigit. Aku nggak sadar kenapa.. Baru kutau dan baru nyadar aku nggak pakai rok dalam.. Jadi cuma sarungan aja nih!

Pantesan dinginnya, nusuk!

Aku nggak lihat temen-temen cewek IKAMI itu biasanya pake rok, celana panjang atau legging. Nah aku?

Aku lupa.. hahahay

Nah waktu dah duduk dengan temenku, baru kenal disana sebenarnya, Daeng Muhammad Nur namanya.. Wah jadi agak salah duduk dan salah tingkah gara-gara ni sarung. Agak gengsi juga karena tadinya sombong-sombong bilang beli sarung Bugis di Sidrap. Eh ternyata jangankan duduk, naik motor aja kedinginan.. Weleh-weleh :D