Guyonan Pendek Mas Walkot

Pernah sekali bertemu dengan pak Walikota Surakarta yaitu Gibran Rakabuming Raka atau putera dari Presiden Indonesia Bapak Jokowi. Saat itu mas Gibran, orang lebih sering memanggilnya begitu, sedang mengunjungi kampusku UNS Surakarta. Dan selalu ada kerumunan wartawan saat walikota hendak beranjak pulang.

Ada dialog pendek yang dibicarakan saat wartawan berkerumun. Sebuah pembicaraan unik, yaitu saat wartawan iseng menanyakan latar belakang studi Gibran Rakabuming. Tentu saja orang nomor satu di Solo ini menjawab sekenanya. Hal ini karena semua sudah tau kalau  latar belakang pendidikannya terakhir adalah di Singapura.

Sehingga mas walkot ini pun menjawab dengan ringan

“cek’en dewe nang kampusku kono loo, nang Singapura”

(red) Cek saja sendiri di kampusku sana, di Singapore”

Sebuah jawaban yang menohok.

Karena siapa juga yang mau cek latar belakan pendidikan Gibran yang harus ngeloyor ke Singapura. Habis di ongkos.. 😀

Untungnya pertanyaan ini tidak ditanyakan ke arema seperti aku.. 😀

Coba kalau pertanyaan tersebut dilayangkan pada arema. Jawabannya menjadi seperti ini :

Cek’en nang kampusku kono lo ndeng!

Ada kata ndeng di akhir kalimat. Ndeng kependekan dari kata gendeng atau gila. Kadang terms of address dengan phatic communion ini juga menggunakan kata cuk. Dua kata ini seolah sudah menempel tanpa sadar saat berbicara dua arah. Darah arema memang..

#slangwords

#phaticsommunion

#termsofaddress

#arema

Arca Dwarapala Singhasari

Dwarapala Singosari

Dari sekian arca Dwarapala yang pernah saya temui, baik di kompleks percandian maupun di gerbang gedung atau kota, mungkin Dwarapala di Singosari Malang inilah yang paling unik. Bukan karena saya yang tinggal dekat Dwarapala kemudian ingin mengekspos patung ini. Tapi memang patung Dwarapala di Singosari ini sangat bisa disebut dengan patung keren.

Dwarapala adalah sesosok patung yang memiliki tugas menjaga sebuah bangunan. Meski dia berbentuk patung, Dwarapala membawa misi seperti security. Yaitu misi menjaga gedung atau bangunan. Gedung yang dimaksud disini contohnya adalah bangunan suci seperti candi atau gedung-gedung yang lebih kekinian seperti misalnya musium, gedung bersejarah, dan juga gedung modern lainnya. Dwarapala juga ditemukan di pintu masuk sebuah kota atau kabupaten, keraton, makam, dan jembatan besar.

Sosok dwarapala di singosari cukup unik karena desain ukirannya adalah dimulai dengan tangan yang menunjukkan dua jari seperti simbol Peace. Simbol ini sangat cocok sebetulnya dengan ciri khas anak-anak muda Arema yang selalu mengacungkan dua jari. Sehingga simbol dua jari ini adalah salah satu inspirasi juga untuk para arema dan aremanita yang mencintai damai dan kedamaian, tidak mengunggulkan tawuran dan sejenisnya. Simbol dua jari atau sebutlah dengan simbol peace ini sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kedamaian dalam memberikan makna sebuah patung dwarapala. Simbol dua jari ini ternyata adalah sebuah ajakan untuk taat beragama. Ini adalah termasuk dalam salah satu ajaran Buddha karena patung ini dibangun di masa  Hindu-Buddha.

Seperti bangunan candi, arca atau patung dwarapala dibangun dengan bahan batu andesit. Batu andesi memiliki ciri khas tidak mudah ditumbuhi oleh lumut. Ternyata para seniman pahat ini memikirkan membangun sebuah patung ini sampai segitunya ya. Dan memang ternyata kita masih bisa menikmatinya hingga detik ini. Patung dwarapala singosari ini masih berdiri tegak dan tersenyum pula. Untungnya ini patung dibangun dengan bahan batu andesit, coba kalau dibangun dengan bahan roti tawar, lak wes mbok krokoti. Kwkwk.. canda.

Satu tangan yang lain dari dwarapala ini memegang gada terbalik. Gada ini juga unik karena cukup gemoy, gemoy seperti tubuh dwarapala yang lumayan gede, chubby dan gemoy pulak. Mata dwarapala yang melotot tapi senyumnya menawan seperti senyum Michael Jackson. (jauh amat Michael Jackson). Senyum dwarapala ini sangat khas karena tersungging dengan gigi taring yang panjang. Jangan-jangan senyum-senyum membawa modus, ingin menerkam siapa-siapa yang mengganggu.

Maklumlah, patung dwarapala memang memiliki misi security yaitu menjaga bangunan suci. Bangunan yang sudah dipastikan untuk tempat peribadatan, dan tempat penghormatan kepada Raja atau tokoh yang sudah meninggal.

Disamping menunjukkan dua jari dan memegang gada, dwarapala singosari juga berkalung selempang ular, beranting-anting dan berkalung tengkorak. Ada semacam ikat kepala yang unik di kepala dwarapala yaitu berhias tengkorak. Sebagian penutup kepala tersebut lebih banyak menutupi kepala bagian belakangnya. Saya melihat itu seperti penutup kepala baju zirah. Namun ada terpikir bahwa itu adalah rambut dwarapala yang berbentuk keriting. Hampir mirip seperti abis dikribo oleh salon pas.

Bagaimanapun bentuknya, keunikannya, dwarapala ini adalah yang terbaik diantara yang pernah kutemui. Keren mujinya.

Bahasa Arema

Pernahkah anda bercakap-cakap dengan orang Malang? Arema? Inilah fenomena yang muncul selama berpuluh-puluh tahun berbahasa di kota Malang. Tadinya kita sebagai warga asli kota Malang tak pernah menyadari bahwa bahasa yang kita pergunakan sehari-hari adalah sebuah rekayasa linguistics genealogy antropology dan sociolinguistics non contemporer. Nah loh..bribet kan!

Saya juga bingung membayangkannya.

Namun inilah kenyataannya. Bahasa Malang Walikan atau bahasa Arema sangat unik. Disebut unik karena kosakatanya yang tidak lazim. Dan kemungkinan besar tidak akan diikut sertakan dalam daftar kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Malang Walikan atau boso Arema ini memiliki struktur dibalik atau vice versa, dibalik dari belakang ke depan. Namun demikian tidak semua huruf-huruf pada kosakata standard bisa dibalik dari belakang ke depan. Hal ini disebabkan karena munculnya dua diftong atau dua vowel yang tidak memungkinkan dibalik secara berurutan. Contohnya akan saya sebut dibawah ini.

Apa sebenarnya yang terjadi saat zaman lampau, zaman penjajahan, Belanda, Jepang dan lain2..? Di Malang saat itu para pemuda bergerilya, mereka bahu membahu membawa bamboo runcing menantang penjajah. Nah Belanda yang licik benar-benar menguasai budaya, bahasa dan adat di kota Malang. Mereka begitu menguasai bahasa di kota Malang hingga kemudian warga Malang mulai membiasakan diri untuk mengungkapkan bahasa-bahasa rahasia, Bahasa Malang Walikan.

Bahasa yang diduga dipergunakan oleh para gerilyawan di kota Malang ini banyak dipakai para pelajar saat itu. Salah satu perang yang paling dahsyat terjadi di jalan Ijen di depan gereja Besar Ijen, perang yang banyak mengorbankan para pelajar itu kemudian mentahbiskan sebuah jalan tepat di perempatan Gereja Besar Ijen, sehingga jalan tersebut dinamakan Jalan Pahlawan TRIP. Kependekan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar.

Bahasa Malang Walikan ini secara kontinyu kemudian menjadi bahasa anak muda sehari-hari di kota Malang. Namun kemudian karena banyak sekali penggunanya dari tahun ke tahun penggunanya menjadi dari seluruh kalangan, anak-anak muda usia minimal SMP atau SMU, usia dewasa dari mahasiswa hingga orang tua pun banyak menggunakan bahasa Malang Walikan.

Namun demikian bahasa khusus ini memang dianggap informal, jadi hanya digunakan pada saat-saat non formal. Misalnya saat guyon, bercanda, ngobrol sesame teman, antara penjual dan pembeli, dengan orang yang sudah lama kenal dan lama tidak bertemu, dengan sesame warga Malang / Arema saat bertemu di luar kota Malang atau di luar negeri dll. Saat-saat formal bahasa ini tidak pernah dipergunakan.  Dan jangan sampai dipergunakan, nanti bisa jadi lawakan kalau salah tempat.

Mungkin tidak semua kosakata bahasa Malang Walikan akan saya bahas disini karena jumlahnya ada ribuan. Bisa penuh blog ini nanti. Heheh..

–         Rudit = tidur

–         Nakam = makan

–         Ngalup = pulang

–         Orang = gnaro

–         Lanang (laki-laki) = nganal

–         Wedok (perempuan) = kodhe

–         Rumah = hamur

–         Melok (ikutan) = kolem

–         Ebes (ayah) = sebe

–         Raijo (uang ‘madura’) = ojir

–         Mlaku (jalan-jalan) = uklam

–         Sekolah = halokes

–         Kathok (CD) = kothak

–         Metu (keluar) = utem

–         Mobil = libom

–         Malang = ngalam

–         Sikil (kaki) = likis

–         Sego (nasi) = oges

–         Goreng = ngerog

–         Pecel = lecep

SIngo (singa) = ongis

Edan (gila) = nade

–         Tahu = uhat