Relativisme dan Enaksionisme Bahasa Daerah

Relativisme sangat sesuai dengan enaksionisme atau pendekatan praktik yang diwujudkan dalam pengetahuan: pengetahuan tidak dikodekan dalam pikiran seorang peneliti, namun diwujudkan dalam kebertahanan sejarah dari praktik budaya atau bahasa dari suatu komunitas. Pemahaman adalah hasil dari sejarah interaksi seseorang, sejauh apapun perbedaannya, hasilnya sangat relatif bagi siapa saja (Foley, 1997).

Misalnya, dalam budaya Jawa, makanan yang khas salah satunya adalah pecel lele. Pecel lele merupakan sebuah hidangan yang terdiri dari nasi putih, ikan lele goreng, sambal terasi, dan lalapan yang terdiri dari kemangi, kol, dan timun.

Berdasarkan komposisi hidangan tadi, maka dinamakanlah pecel lele. Sementara itu, dalam bahasa Angkola pemahaman tentang konsep pecel dalam bahasa Jawa tadi yang diimajinasikan adalah pecal bahasa Angkolanya adalah pocal. Pocal terdiri dari beberapa rebusan sayur kacang panjang, daun ubi, jantung, genjer, mie kuning, irisan telur rebus, kerupuk merah yang dicampur dengan ulekan kuah kacang berbumbu dan langsung digabungkan di atas penggilingan batu. Ketika orang Angkola pertama kali mendengar kata pecel lele yang dibayangkan adalah ikan lele dicampur dengan sayuran rebus berkuah kacang tadi karena background knowledgenya seperti yang sudah dijelaskan tadi. Dengan demikian, relativitas dan enaksionisme tidak dapat dipisahkan karena terwujud dalam pengetahuan seseorang.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#relativisme

#enaksionisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *