Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

 

 

Pada Dua Media Yang Berbeda

Pernahkah anda menulis pada dua media yang berbeda? Misalnya di Kompasiana, di Weblog, atau di Media cetak? Bagaimana rasanya setelah anda menulis disana? Pasti sensenya beda.

Let say sebagai Blogger, anda rajiiinn banget jenguk blog anda dan corat-coret disana, utak atik widget, download-download templat-templat untuk mempercantik weblog anda. Kemudian cari-cari inspirasi untuk content nya. Apa yang anda rasakan setelah itu? Seneng kan. Bahagia banget setelah klik button publish. Rasanya lega tidak kepalang setelah menulis satu post.

Tapi apakah anda pernah menulis dengan tantangan adrenalin yang kuat seperti di Kompasiana?

Saya sudah menulis di berbagai media termasuk di media cetak. Contoh di Jawa Pos. Setelah saya kirimkan artikelnya, beberapa hari kemudian dimuat. Kemudian pagi-pagi beberapa teman sms dan menghubungi via hp kalau mereka sudah membaca artikel saya. Dua hari saja hebohnya. Setelah itu sudah, finish. Tidak ada lagi komentar-komentar masuk, baik komen menyanjung maupun komen miring. Benar-benar sudah hilang dari peredaran. Kecuali kalau anda copy guntingan artikel anda, kemudian anda bagi-bagikan dan sebar. Mungkin anda bisa dapatkan ketenaran kedua. Wahhh..mungkin gak?

Nah kalau Kompasiana gimana? Koq bisa memacu adrenalin?

Coba kalau begitu, anda pasang artikel disana. Syukurlah cukup, mudah tidak begitu ribet. Tidak seribet memiliki weblog dengan basic templat wordpress. Saya sudah menjadi anggota disana meski akhirnya saya menerima untuk menjadi penulis pasif tanpa adrenalin di wordpress ini. Sebagai blogger anda harus rajin mencari pembaca dengan cara meningkatkan kualitas tulisan dan share di berbagai macam media dan tempat. Tapi tidak dengan Kompasiana. Disana pembaca sudah tersedia tanpa harus bingung mencari pembaca. Ribuan kompasianer (sebutan untuk penulis Kompasiana) sudah siap memberi klik dan mengomentari tulisan anda. Sehingga anda akan menyaksikan tulisan mana yang dikomen atau dicaci, tulisan mana yang masuk pada trending topic atau higlight, tulisan mana yang sering dihinggapi pembaca atau sepi, dan juga tulisan mana yang menjadi terkenal karena penulisnya dan jumlah kuantitas artikel yang dia tulis. Semua itu selalu update setiap menit tanpa henti. Saat kita menulis maka tanpa jeda waktu judul dan artikel kita langsung nongol di kolom Tulisan Terbaru. Tapi jangan salah, jumlah penulis Kompasiana yang ribuan akan siap menggeser kedudukan anda  sehingga judul dan artikel anda tidak lagi terpampang di halaman depan Kompasiana. Dan itu benar-benar bikin sense kita anjlog.

Nah kecuali kalau tulisan anda bagus :p

Selain itu apabila tulisan anda benar-benar menyentuh hati dan pikiran para admin Kompasiana, bukan tidak mungkin tulisan anda minimal nampang di kolom tengah yaitu highlight atau kolom kanan si trending topic. Maka anda bisa berbangga nama, foto dan artikel anda nampang sekaligus narsis. Lumayan bisa terkenal, paling tidak di Kompasiana, Koran Nasional ini lo! Tapi Highlight dan Trending Topic tidak lama bertahan, beberapa waktu, orang lain akan menggeser kedudukan anda. Terutama kalau kolomnya sudah tidak muat dan tulisan anda sudah mulai berbau basi. Nah maka anda harus rela digeser kedudukannya oleh tulisan-tulsan yang lebih fresh dan baru. Berarti anda harus rela tergeser. Namun dampaknya memacu adrenalin juga, anda kemudian bingung nyari-nyari inspirasi yang akhirnya ingin membuahkan satu tulisan lagi untuk bisa (siapa tahu) menggeser kolom-kolom yang sudah ada.

Sebagai weblogger, anda cukup puas dengan menulis tanpa direspon langsung oleh pembaca anda. Hal itu bisa anda lihat pada dashbor, siapa-siapa yang-datang dan berkomentar. Jangan-jangan hanya spammer, tak ada satupun komentator yang nongol. Ada satu, itupun temen sendiri! Kcian.. aku.

Tapi lama-lama kemudian muncul opini begini, Kompasiana memiliki ribuan penulis yang mereka benar-benar menyediakan fasilitasnya untuk itu, tanpa banyak syarat. Seolah-olah Kompasiana ini memang membebaskan penulisnya agar mendapatkan banyak artikel dan author tanpa kesulitan. Semua serba dimudahkan disana. Seorang teman mengatakan, “kenapa harus memperkaya orang lain?” Lama saya berpikir tentang kata-kata itu “memperkaya orang lain” . Apakah kita memberi kontribusi berupa financial? Saya rasa tidak. Kemudian apakah kita memberikan sesuatu kepada Kompasiana karena kita disediakan space disana? Itu juga tidak. Malahan kita menjadi lebih terkenal dengan menulis disana karena ribuan pembaca Kompasiana, dan juga pembaca yang tidak menjadi member pun bisa mengakses.

Kalau berpikir tentang mengoptimasi weblog kita pribadi, terutama menuju kepada financial reason, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk menulis di Kompasiana. Kecuali kalau kita mau dua-duanya. Dan kita memiliki kemampuan menulis, bahan-bahan inspirasi yang cukup banyak, dan terutama waktu. Nah kalau tidak, pilihlah satu diantaranya. Anda ingin terkenal atau anda ingin mencari uang dengan menulis di weblog.

Jangan dua-duanya la 😀

 

 

Haji Indonesia

Fenomena Haji di Indonesia sungguh dahsyat dampaknya. Haji bagi masyarakat Madura adalah prestisius.  Seorang Madura tulen belum bisa dibilang orang Madura apabila belum berhaji. Itulah pernak-pernik masyarakat berciri khas pulau di seberang kota Surabaya ini yang begitu dinamis, mengartikan ibadah dengan sangat nyata. Seorang Madura apapun profesianya, akan berusaha sebesar-besarnya mengumpulkan dana untuk berhaji. Itu bagi orang Madura dimanapun tempatnya. Hal ini disebabkan orang Madura tersebar di seluruh dunia karena kegemarannya yang juga suka merantau.

Pun juga dengan orang Bugis yang juga gemar merantau. Hal ini sangat jelas memang disebutkan bahwa dari sejak ditanda tanganinya Perjanjian Bungaya, orang Bugis mulai meninggalkan tanah Sulawesi secara besar-besaran, exodus hingga ujung dunia manapun. Dengung suara Sultan Hasanuddin masih membekas di telinga Orang Bugis bahwa dimanapun kamu berdiri disitulah langut dijunjung. Dimanapun kamu berada disitulah tanah dimana kita hidup, tanpa memandang bangsa apapun. Karena tanah dan langit adalah milik Allah adanya.

Seperti orang Madura juga, fenomena Haji Bugi berdampak sangat besar terhadap kehidupan di Sulawesi. Seorang Bugis yang akan mempersiapk keberangkatan menuju tanah Makkah adalah orang yang memiliki kecukupan spiritual, kecukupan ekonomi, dan kecukupan sosial. Berangkat haji bagi orang Bugis tidaklah mudah. Tidak seperti orang Madura yang bermodalkan ONH only. Apabila ONH 25juta, sedini mungkin orang Madura akan mengejar sepeser demi sepeser untuk mendapatkan dana sebesar 25juta. Apabila sehari bisa mengumpulkan 20ribu mungkin butuh bertahun-tahun bahkan dekade untuk bisa terkumpul uang sejumlah itu. Tak pernah terbersit mereka mengumpulkan uang sampai sebanyak misalnya 100juta untuk biaya haji tersebut. Asal sudah ngumpul 25juta maka segeralah mereka mendaftarkan diri mereka untuk segera berangkat ke Makkah.

Bagaimana dengan orang Bugis, mungkin agak rumit. Orang Bugis akan mengumpulkan uang yang lebih dari biasanya karena persiapan yang harus betul-betul matang. Mereka justru mempersiapkan pula dana untuk kegiatan penjemputan di bandara atau di embarkasi. Menjemput orang yang pulang dari tanah Makkah adalah sebuah kegiatan yang harus diatur sedemikian rupa, direncanakan matang-matang. Siapa yang akan menjemput, kemudian mobil apa yang akan digunakan untuk menjemput. Hal ini karena apabila belum ada mobil yang rencana akan dipergunakan untuk menjemput, maka biasanya seorang haji Bugis perlu mempersiapkan mobil dengan membelinya terlebih dahulu. Sehingga mereka sudah merasa aman dan nyaman nanti saat tiba di Indoensia. Dan mobil-mobil penjemput haji ini sudah barang tentu mobil yang berkelas sehingga seorang haji Bugis bisa mempersiapkan dana yang sangat besar, jauh lebih besar dari ONH yang mereka bayarkan.

Kostum yang akan dipakai saat nanti pulang pun sangat penting karena akan ada perbadaan antara Haji Bugis dan Orang Bugis. Tentu ini sangat berbeda. Inilah yang membedakan mereka yang sudah menunaikan ibadah haji dan yang belum. Kostum Haji Bugis baik wanita maupun pria berbeda dengan mereka yang belum berhaji. Terutama kostum wanita. Seorang wanita Bugis akan mengenakan baju kebaya panjang dan sarung khas Bugis, kemudian memakai jilbab topi yang kadang berwarna hitam. Topi khusus penutup rambut ini disambung dengan kain tile tipis yang juga bercorak hampir sama atau bahkan sama dengan kebayanya. Hampir mirip seperti kerudung yang dipergunakan pengantin barat.

Oleh-oleh haji juga beragam. Hampir semua orang yang pulang dari Makkah selalu disibukkan dengan oleh-oleh Haji. Meskipun begitu ada pula orang-orang yang cukup hanya dengan memberi makan, yaitu dengan hidangan khas Sulsel seperti Coto Makassar. Oleh-oleh ini pula menjadi kegiatan wajib bagi semua orang yang berpulan dari haji. Yang sering dipakai setiap haji yang pulang dari tanah suci adala tasbih dan sajadah. Namun kemudian hal ini berkembang karena makin banyak orang berziarah haji, maka  harus disiapkan pula oleh-oleh yang tidak terlalu mahal tapi berjumlah banyak

 

Out bond

Out Bound

Seorang teman sedianya akan mengajakku rafting di sungai Batang Merangin Jambi. Namun karena jadwal yang tidak sinkron dengan kegiatan akademik kampus maka terpaksa kurelakan keinginanku untuk mengunjungi lokasi rafting terbaik di pulau Sumatera tersebut. Di Sulawesi ada sungai Sa’dang yang berhulu di Toraja dan bermuara di Danau Tempe. Sungai Sa’dang memiliki kesulitan teknik rafting yang cukup kuat pada sungai yang lumayan panjang tersebut. Dibandingkan dengan sungai Batang Merangin yang berhulu di danau Kerinci Jambi ini cukup dikenal para rafter dan kayaker di seluruh Indonesia.

Mungkin anda sering mendengar Aji Massaid (alm) yang sering melakukan rafting arung jeram di lokasi sungai Citarik, Sukabumi Jawa Barat. Beliaulah yang mempopulerkan olah raga sungai ini. Bahkan Aji juga memperkenalkan atraksi dayung pura, yang seharusnya hanya para perwira yang biasa melakukan pesta pedang pura saat prosesi pernikahan. Namun Aji bias-bisanya mengadakan atraksi dayung pura saat menikah dengan Reza.

Sungai Batang Merangin juga memiliki kelebihan tersendiri, sama dengan sungai-sungai Rafting yang lain. Itulah sebabnya saat teman mengajakku kesana, dan ternyata saya tidak menyanggupi karena kesibukan akademik, saya lumayan menyesal. Saya ingin banget menyusuri sungai melegenda tersebut. Seorang sahabat, Amin (alm) adalah wartawan Sriwijaya Pos yang meliput berita bersama bupati Jambi dan meninggal di salah satu jeram yang ekstrim. Sehingga jeram sangat memacu adrenalin itu kemudian diberi nama Jeram Amin. Al Fatihah untuk bang Amin.

Disamping tingkat kesulitan sungai Batang Merangin yang cukup tinggi dibandingkan sungai Citarik, Sa’dang, dan Brantas, sungai ini juga melengkapi agenda wisata siapapun yang dating kesana karena terdapat Taman Batu tertua Geopark berumur 300tahun. Sehingga wah nyesel nggak selesai sampai saat ini. Hmmfth..

Namun memang rencana tinggal rencana, untunglah kemarin kampus  mengadakan kegiatan outbond Rafting dan Airsoft Gun. Ini kesempatan yang tak mungkin kutinggalkan. Rafting harus terlaksana, berhubung hobby. Heheh.. 😀

Saya dan teman-teman bergerak menuju kecamatan Ngantang dimana ada sungai Brantas untuk rafting disana. Bukan hanya rafting atau arung jeram, kami pula mengadakan outbond Airsoft Gun di dekat hotel dimana kami tinggal di danau Selorejo, tepatnya di tengah danau yaitu di pulau Jambu. Kegiatan Airsoft Gun yang sama-sama memacu adrenalin bersama kolega-kolega saya menyisakan cerita-cerita lucu. Banyaknya buah jambu saat itu yang membuat saya lengah. Berkali-kali terkena lecutan cat panas yang membuat paha bengkak selama seminggu. Tapi lumayan lah buat kenang-kenangan dan pengalaman. Bengkak memang.. hihih.. 😀

Esoknya setelah melakukan outbond di pulau Jambu, tibalah saatnya untuk rafting arung jeram di sungai Brantas Ngantang. Mirip dengan sungai Citarik, namun kesulitannya lebih sedikit disbanding sungai Citarik. Tikungannya juga lebih banyak. Saat melalui dam, skipper tidak mengizinkan kami untuk melalui. Mereka bilang tidak ada seorang rafter dan kayaker pun yang sanggup melalui dam bertembok tinggi ini. Sehingga hanya kayak nya saja yang dijatuhkan. Kami menunggu di bawah sambil menikmati heci dan kopi yang dibawakan oleh panitia. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan arung jeram menuju finish di selorejo.

Ini harusnya ada foto-foto ‘narsis’ kami selama berafting di Brantas tapi begitulah memang kalau niatnya sudah pengen narsis saja. Sehingga perjalanan rafting kami sama sekali tidak berdokumen. Ini disebabkan karena masalah administrasi. Yaelah.. 😀

Padahal aku dah eksyen seperti James Bond .. ihik!

 

Lama Tak Bertemu

Lama tak Bertemu

Lama tak bertemu, mungkin sekitar 12 tahun yang lalu. Lama tak bertemu secara fisik dengan pimpinanku, rector UIN Maulana Malik Ibrahim, rektor yang jabatannya baru berakhir, 2013 lali. Beliau Prof. Imam Soeprayogo, orang yang sebenarnya sudah lama kukenal dari sejak saya masih kecil.

Awalnya saya tidak mengira akan bertemu beliau kembali. Terakhir saya melihat beliau setahun yang lalu saat pertemuan antar dosen dengan pejabat. Tentu saja beliau tidak begitu perhatian pada satu-satu undangan karena banyak, ada sebanyak 400 dosen di ruangan gedung aula rektorat lantai 5. Mungkin itulah kali terakhir saya melihat beliau namun tidak secara dekat seperti 3 hari yang lalu, saat saya bertemu beliau secara langsung. Saat itu kebetulan saya mendapat amanah dari kepala langsungku, ibu Mufidah untuk menyerahkan sesuatu ke Prof. Imam. Dan kemudian saya berangkat menuju kampus Pasca UIN di kampus II, Batu.

Pak Imam yang masih saja duduk berkoantor meskipun beliau sudah mendapatkan gelar Professornya, memiliki ruang khusus bertuliskan nama beliau di pintu. Persis seperti ruang Prof. Sutandyo, guru besar di UNAIR. Saya ingat betul pak Imam pernah mengatakan tentang ruangan prof. Sutandyo di UNAIR yang tetap dibiarkan seperti itu tanpa ada perubahan. Pak Imam mengatakan bahwa ruangan prof Sutandyo menjadi spirit bagi semua mahasiswanya sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk maju seperti beliau. Begitupun dengan pak Imam, beliau mendapatkan ruangan yang tidak terlalu luas namun lengkap dengan satu set computer dan LCD di atap. Saat saya kesana, seperti biasa beliau menhadap ke computer, tetap dengan kesehariannya, menulis.

Teringat saat itu beliau selalu bertanya kepada semua kolega, mana buku yang sudah kamu buat. Ini suatu hal yang tidak mudah. Lama saya jajaki pernyataan itu. Bagaimana saya bisa seproduktif beliau, ratusan buku sudah dikarang. Belum lagi ribuan tulisan, jurnal dan artikel. Menurut pak Imam itu adalah aktifitas rutinnya saat pagi setelah subuh. Ada sedikit waktu sampai menjelang keberangkatan beliau ke kampus sehingga kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Apabila sehari satu tulisan saja, bisa dibayangkan dalam setahun ada lebih dari 300 sentuhan jari-jarinya kedalam tulisan. Entah bagaimana saya bisa membayangkan saya pribadi, apakah saya bisa seperti beliau. Saya sendiri baru mencapai 175 artikel dalam kurun waktu 3 tahun, dan baru satu buku yang sudah terbit. Yaelah broo!

‘Asslamualaikum’, saya mencoba menyapa beliau pelan. Takut mengganggu aktifitasnya, beliau seperti sedang sibuk di depan PC. Saya yang masih berada di luar ruang beliau, tepat di depan pintu. Saya melirik beliau yang masih sibuk menggerakkan jarinya menuliskan dan mencurahkan ide-idenya. Dan segera beliau menjawab ‘Waalaikum salam’ dan segera saya masuk ke dalam ruangan beliau. Saya katakan maksud kedatangan saya dan menyerahkan berkas yang dimaksud untuk ditandatangani. Sambil memeriksa kertas-kertas tersebut beliau sempat menanyakan saya bertugas di fakultas apa, dan saya pun menjawab dengan jujur bahwa saya di humaniora namun berkantor di LP2M. Oh di bu Mufidah situ, responnya. Saya pun mengangguk. Hari sudah menjelang Jumatan, beliau segera berdiri dan mempersiapkan akan berangkat shalat, sambil beresin ini itu, masih saja bertanya. Sedianya saya sudah akan meninggalkan ruang beliau dan berpamit.

Tau-tau pertanyaan lain muncul lagi, “lha sampean itu namanya siapa?”.. Saya terperanjat. “LHAH!”.. jadi dari tadi pak Imam itu lupa sama saya. Ya ampun.. Jadi inget, saya terakhir bertemu dekat dengan beliau itu tahun 2002. Lama sekali memang. Saat itu saya juga bertemu untuk menyampaikan ‘amanah’ kepada beliau. Dan memang sudah kebiasaan pak Imam dari dulu sampai sekarang, masih aja tetep sama. Pak Imam dengan kesederhanaannya, tak pernah mau menerima honor. Alasannya katannya beliau tidak ikut-ikut bekerja dalam kegiatan itu. Dan kemarin itu saya masih membuktikkannya, beliau masih saja lagi-lagi mengeluarkan lembaran-lembaran tersebut dari amplop. Perasaan saya berkecamuk, ingin sekali menolak pemberian beliau itu, dalam kepala saya ada suara-suara mengatakan rejeki koq ditolak. Entah kenapa, setelah 12 tahun tak bertemu perasaan saya jadi iba.

Beliau sudah seperti bapak bagi saya karena memang sejak kecil saya sudah mengenal beliau, Pak Imam pun paham sekali kronologis saya dari sejak kecil. Saat bertemu kemarin sempat mengatakan tentang itu, mengingatkan bapak saya almarhum yang berjuang sejak awal UIN berdiri bersama beliau hingga saya masuk UIN pada 1999. Sayapun mengiyakan. Saya sempat pula ungkapkan saat beliau berhaji bersama-sama dengan keluarga, juga dengan bapak dan ibu saya ke tanah Suci, saya sempat bilang, bapak yang mendampingi orangtua saya dan sempat mengambil banyak gambar foto bapak dan ibu saya yang kemudian menyerahkan foto-foto tersebut kepada orangtua saya. Masih sempat-sempatnya beliau mengafdruk ratusan foto tersebut dan menyerahkannya kepada masing-masing rekan beliau dalam kelompok haji ini.

Dan sambil mengunci ruangan beliau yang bertuliskan Prof. Dr. Imam Soeprayogo, MA tersebut, beliau masih saja bertanya dan bercerita. Padahal sedianya saya sudah berpamitan pulang. Saya tak mungkin jalan bersama beliau, rikuh rasanya. Eh ternyata enggak. DI sebelah ruangan beliau di lantai 3 tersebut ada lift . Bahkan beliau sampai di lift pun masih saja berceritera tentang nostalgianya dengan orangtua ku. Saya jadi kikuk, masak mau turun satu lift dengan beliau, nggak pantas rasanya. Saya masih saja melongo saat beliau memencet tombol lantai satu. Sedianya biarlah saya turun lewat tangga. Tidak terlalu berat karena turun, kalau naik emang iya. Heheh..

“Ayo masuk” katanya. Saya yang ndlahom aja di luar segera maju dan masuk ke dalam lift. Untung tidak terlalu lama. Namun masih saja beliau tidak diam dan bercerita. Saya hanya senyam-senyum aja, lha mau gimana lagi. Jadi bingung ini. Sesampai di lantai satu, saya yang masih kebingungan karena jarang masuk di kampus pasca, masih sempat bertanya sambil bingung. “Lantai berapa ini prof?”.. Sambil clingak clinguk. Bingung saya kemudian hilang karena pak Imam bilang “yaa ini sudah nyampe”

Hahaha..dasar blo’on aku

Dan sambil berlalu beliau masih saja berbicara, padahal sudah beda arah. Saya tunggu sampai bayangan beliau menghilang, baru kemudian saya berlari menuju parkiran. Olala sungguh pengalaman yang unik.

Pribadi beliau memang saya akui, kesederhanaannya yang begitu bergema pada kita semua rekan kerjanya terutama yang sering dekat dan melihat. Makanan kesukaan beliau adalah pecel dan tahu tempe. Sekali pernah putra-putri pak Dimyati Akhyat (alm), sahabat pak Imam, mereka pernah mengatakan..pada suatu saat pernah pak Imam datang ke rumah pak Dimyati yang saat itu masih di dalam perumahan kampus UIN. Sempat pak Imam melihat meja makan yang ditutup oleh tudung saji. Kemudian beliau membuka tudung saji tersebut dan mengatakan Waaaaahhhh. Hahahaha saya jadi ketawa ketiwi diceritain mereka. keluarga Pak Dim, panggilan pak Dimyati, biasa menyajikan masakan-masakan seperti jerohan sapi. Kata pak Imam, wah disini ternyata makanannya enak-enak yah.. sambil berkelakar pak Imam melihat lauk-lauk yang tersaji di rumah pak Dim.

Suatu saat dating tamu-tamu dari luar negeri, para duta besar dari Negara-negara Timur Tengah. Pak Imam menyarankan untuk menyajikan kue dan buah di meja tamu. Dan orang yang sering disuruh beliau adalab ibu Luluk sahabatku, sehingga saya tau betul ceritanya dari bu Luluk. Dia bilang, pak Imam selalu menyuruh memotong kue yang berukuran besar menjadi kecil. Beliau bilang kalau ukurannya besar itu tidak pantas disajikan, orang akan susah memakannya karena harus membuka mulut lebar-lebar. Pak Imam nggak mau hal seperti itu terjadi. Sehingga ibu Luluk selalu siap dengan pisau-pisa di pantry yang dipersiapkan untuk memotong kue-kue ini. Pada suatu saat ada acara lain di ruang beliau, yaitu kedatangan tamu Negara. Saat itu bukan ibu Luluk yang mempersiapkan konsumsinya, sehingga kue-kue yang masih asli dari took itu tidak dipotong-potong. Sehingga setelah acara beliau mulai menyindir dengan bahasa Jawa, “wong opo kon arep maaangapp!” (apakah orang disuruh membuka mulut lebar-lebar)

Ahahaha, saya nggak habis-habis tertawa saat diceritain ibu Luluk. Memang benar kalau dipikir-pikir. Saya bayangin kalau makan lapis Surabaya itu bingung karena lebar banget. Belum lagi kalau makan bikang, roti bikang itu selebar lepek cangkir..xixixi. :D.

Pernah juga saat beliau akan berangkat ke Jakarta, saya dan ibu Luluk berangkat ke loket tiket pesawat untuk membelinya. Ibu Luluk mengatakan sambil melihat-lihat jadwal pesawat, “Pak Imam itu harus dibelikan tiket pagi Ika, supaya berangkatnya aman dan nyaman”, kata nya begitu. Suatu saat pak Imam kembali akan melaksanakan perjalanan jauh menyuruh orang lain untuk membeli tiket. Sehingga dia tidak tau jam-jam berapa yang biasa dipakai oleh beliau apabila. Dan ternyata benar, tiket pesawat tersebut dibeli dengan jadwal berangkat jam 2 dini hari.

Apa yang dikatakan pak Imam saat tau akan berangkat jam 2, “wong opo kon budal bareng maling!” beliau menggerutu.

Saya nggak habis-habis ketawa cara beliau berbicara dalam bahasa Jawa ala Trenggalek, kota kelahiran beliau. Sangat medok.

Lagian beli tiket aja susah amat. Pilih jadwal koq jam 2 pagi. Bingung bayanginnya, brangkat malem-malem. Owalah!

Pak Imam, mudah-mudahan anda membaca tulisan saya. Hehe.

Terimakasih bapak.. J

Mitos Lagi

Mitos Lagi-lagi

Berapa kali saya harus menghela nafas panjang karena tidak diijinkan melakukan ini, tidak diijinkan melakukan itu.  Dan sayangnya tidak ada penjelasan yang masuk akal tentang larangan-larangan itu. Itulah mitos, sebuah fenomena yang sering saya dapatkan dari sejak masih anak-anak. Sebagai orang Jawa asli meski keturunan Ambon, orangtua dan nenek saya banyak menunjukkan hal-hal yang kadang tak masuk akal, tapi saya alami juga waktu itu, walau bagaimanapun. Hal-hal yang mengandung pembelajaran panjang ini ternyata belum tentu berdampak buruk. Banyak sekali segi-segi positif yang bisa saya dapat dari sini.

Pernahkah anda saat makan ayam pada bagian-bagian tertentu kemudian ketauan oleh nenek atau orang tua kemudian anda dilarang memakannya. Saya pernah. Saat saya makan sayap ayam kemudian ayam tersebut diambil seketika oleh nenek. Beliau bilang anak kecil nggak boleh makan ini. Saya cuma mrengut aja, kemudian sayap ayam yang sudah diambil nenek diganti sama kaki ayam alias cakar. Duh betapa kasian aku ini, makan cakar yang nggak ada daging-dagingnya.  Belum lagi setelah makan pantat ayam (brutu), nenek malah bilang kalau makan ayam bagian ini akan bikin kita jadi cepat lupa atau pikun. Ini lagi yang bikin saya bingung. Apa hubungannya pantat ayam dan gejala lupa atau pikun. Kasihan bener aku ini.

Baru nyadar setelah itu bahwa pantat ayam mengandung lemak cukup tinggi sehingga memiliki rasa beda dengan daging di bagian lain.  Dan itu adalah bagian favorit  orang-orang dewasa sehingga anak kecil tak boleh mengkonsumsinya. Jadi kesimpulannya mereka tidak mau terlihat anarkis mengatakan bahwa ini tidak boleh, itu tidak boleh. Cukup sederhana hanya dengan mengatakan bahwa makan ini bikin pikun. Yaelah!

Mungkin anda tidak mengira bahwa makan dengan duduk di tengah-tengah pintu adalah mitos juga yang mengatakan bahwa nanti akan terjadi fenomena, anda tidak akan dapat jodoh yang cepat. Wah saya pernah juga mengalaminya. Secara tidak sengaja saya duduk di tengah pintu dan makan dengan membawa piring. Tidak ada yang saya pikirkan kenapa tau-tau duduk di pintu kemudian makan. Nah yang terjadi saat itu adalah nenek melarangku makan disitu dan sesegera mungkin pindah ke tempat lain. Beliau bialng nanti jauh jodoh. Dengan sedikit mengernyit kupikir-pikir hingga habis sepiring makanku. Apa hubungannya makan duduk di pintu dengan jauhnya jodoh?

Saat ini mitos seperti itu kadang tidak relevan apabila dibunyikan. Apa pasal? Saya pernah melihat beberapa orang sudah tak lagi mengacuhkan mitos ini. Hal ini karena aspek-aspek efektifitas. Kadang kita terpaksa makan duduk di pintu atau dekat pintu karena tempatnya sudah tidak cukup. Beberapa teman sudah menggunakan ruang tamu sekalian sebagai ruang makan karena sempitnya. Rumah-rumah type RSS memang sudah diset tanpa ruang makan sehingga aktifitas sudah dilaksanakan di ruang tamu. Dapur yang super mini tidak pula memberikan space untuk makan keluarga. Nah akhirnya ungkapan-ungkapan mitos seperti ini menjadi kurang relevan.

Dan sekarang lagi-lagi, pernahkah anda makan sayap ayam yang bagian ujung? Saya pernah. Dan lagi-lagi seseorang melarang. Kali ini pembantuku sendiri. Ini terjadi dulu saat saya masih remaja SMP. Si mak pembantuku itu mengatakan, tulang ujung sayap itu jangan dimakan karena nanti akan dibenci sama mertua. Olala..saya waktu itu yang masih hijau jadi membayangkan yang tidak-tidak. Apakah semua mertua galak seperti gambaran yang kubayangkan saat itu. Padahal sejujurnya kenapa makan saya ayam menimbulkan larangan-larangan tanpa alasan empiris. Kita tau semua bahwa pada sayap ayam banyak terdapat banyak kulit-kulit yang notabene rasanya gurih. Dan kemungkinan besar rasa yang berlebih itulah yang mengakibatkan orang melarang anak-anak untuk mengkonsumsinya. Dan cara yang dipakai untuk melarang mengkonsumsi sayap ayam itu lagi-lagi dengan cara-cara anarkis agar supaya kita melepaskan sayap ayam tersebut dan menggantinya dengan cakar. Hufft!

Sekali lagi ingin saya ungkapkan, mitos memang bagian dari budaya kita orang Indonesia dan saya sebagai orang Jawa asli. Mitos tidak bisa dilepaskan karena sudah mendarah daging dalam jiwa kita masing-masing sebagai seorang Jawa yang berbudi luhur tinggi,luhung, adigung dan adiguna. Mitos adalah seni orang Jawa mengatakan hal tanpa menyakitkan perasaan orang yang diajak bicara. How to say NO is difficult for Javanese.

And this is true.

Jangan Makan Brutu

“Jangan makan brutu’ Itulah yang dikatakan nenek saat ku mengunjungi beliau di sebuah dusun bernama Jambewangi, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Saat itu kumasih berumur 9 tahun dan saat itu sedang ada perhelatan acara pengantin tante, adik ibu yang menikah dengan om yang sama2 berasal dari Jawa. Hiruk pikuk mengolah berbagai macam penganan pun digelar di belakang rumah nenek yang cukup luas. Ada yang menyiapkan kue, ada yang meracik bumbu, memasak nasi dan lain2.
Sesaat kemudian ku melihat seorang ibu di depan tungku siap dengan sebuah wajan penggorengan yang cukup besar dengan minyak yang telah siap di dalamnya. Di sebelah dia duduk terdapat panci yang cukup besar berisi potongan ayam yang siap akan digoreng. Panci lain juga tersedia disana berisi ikan2 mujair yang ditangkap dengan menggunakan jaring yang bentuknya tidak terlalu besar.
Sambil iseng kuajak ngobrol ibu yang sedang memasukkan ayam satu persatu ke dalam wajan. Satu panci lagi disebelahnya berisi ayam yang sudah digoreng dan siap disajikan. Aku pun melirik panci tersebut siapa tau ada ayam kriwil2 yang kecil2. Biasanya potongan kecil2 itu tidak disajikan ke depan nanti. Tapi itu hanya pikiranku semata. Ku mendekat dan kuambil sepotong kecil yang aku nggak tau ini bagian tubuh ayam yang mana, asal kecil aja. Dan kumengendap2 lari pelan membawa secuil ayam yang kukira nggak laku dan nggak berguna. Hahaha..nggak berguna.
Dan voila! Ada nenekku menghampiriku dan mencabut ayam dalam genggaman tanganku.
Ojo mangan brutu nduk! (jangan makan pantat ayam nak)
Waduh..malu sekali, udah kecolongan, ayam dalam genggaman ditilang lagi. Apes banget.
Emang kenapa mbah? Ku penasaran bertanya pada beliau.
Mengko nggarai pikun. (nanti jadi pelupa kamu)
Ouwh..baru kutau bahwa brutu (pantat ayam) itu membuat orang menjadi pelupa. Tapi apa benar akan membuat orang menjadi pelupa. Dan dibawah ini adalah bagian2 potongan ayam yang menurut mitos di Jawa memberikan sensasi2 khas yang membuat orang akan berpikir beberapa kali untuk makan ayam.
Brutu : memberikan pengaruh kelupaan
Sayap : membuat mertua tidak menyayangi menantu
Kepala : Nanti akan bisa jadi pemimpin (katanya bisa jadi presiden)
Paha : Hanya diberikan pada orang dewasa (anak kecil tidak diberikan izin)
Dada : Hanya diberikan pada orang dewasa (anak kecil tidak diberikan izin)
Cakar : Memang selalu diberikan pada anak2 seumurku dulu (9tahun) Kasihan deh aku!
Leher : Diberikan pada anak2, bukan orang dewasa
Jerohan ayam (usus, hati, ampela) : Hanya diberikan pada orang dewasa (Dulu saat ku masih kecil, hanya kakek yg boleh makan)
Telur dalam tubuh ayam : Tidak boleh diberikan pada wanita hamil
Telur ayam : Kalau ketemu telur berisi dua kuning harap dibagi dua (untuk wanita hamil).
Oh my God susah sekali mau makan ayam..
Dan untung ibuku sudah tidak ingat mitos2 itu lagi. Mungkin dulu sering makan brutu.

Fakta Tentang Korea Selatan

Fakta tentang Korea (Selatan)

Puluhan judul drama Korea telah ditayangkan, akhirnya bisa memberiku gambaran tentang bagaimana orang Korea itu hidup dengan adat, tradisi dan budaya yang telah mengakar dan masih kental. Secara keseluruhan bangsa Korea masih ketat dengan tradisi adat dan sopan santun yang kuat. Pergaulan sesama remaja maupun dewasa masih dalam batasan-batasan norma yang baik. Inilah sebagian analisa saya :

  1. Orang Korea bila bertemu sesekali membawa buah tangan yaitu sebotol jus hangat karena suhu udara Korea yang cukup dingin. Kadang sebotol jus ini adalah tanda pertemanan atau minta maaf.
  2. Karena suhu yang dingin, salah satu pendekatan seorang pria terhadap wanita adalah memasangkan jaket, syal atau jas yang sudah dipakai kepada wanitanya. Jas atau jaket ini sudah barang tentu bersuhu hangat karena terkena panas tubuh sang pria.
  3. Orang Korea memiliki pepatah terutama bagi pasangan kencan, dekatilah ibunya maka kamu akan mendapatkan anak laki-lakinya. Hal ini disebabkan peranan ibu sangat penting dalam mendapatkan menantu.
  4. Sebagian ibu-ibu Korea memang memperlakukan menantu perempuannya seperti pembantu. Namun apabila menantunya tahan terhadap hal ini, maka lama-lama juga ibu mertuanya akan luluh hatinya.
  5. Para remaja Korea sepengetahuan saya memang masih menjaga adat dengan tidak mencium atau bersentuhan. Namun faktanya memang perlu dilihat lebih jauh lagi.
  6. Orang Korea selalu lari ke bar atau café untuk sekedar melepas stress dengan minum minuman beralkohol namanya Soju.
  7. Minum Soju bagi orang Korea adalah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka apabila ada event tertentu seperti misalnya tahun baru, ulang tahun atau saat-saat tertentu dalam kegiatan makan sehari-hari.
  8. Apabila sedang minum Soju dengan orang yang lebih tua, maka yang muda wajib menuangkan botol Soju ke gelas orang yang lebih tua. Namun yang tua juga kemudian membalas dengan menuangkan Soju ke dalam gelas yang lebih muda.
  9. Soju adalah minuman yang beralkohol tinggi seperti Sake Jepang, oleh karena itu banyak kejadian setelah minum minuman beralkohol ini orang Korea kemudian melantur dan bicara yang tidak-tidak. Banyak kejadian tak diinginkan dikarenakan orang Korea yang suka mengkonsumsi Soju berlebihan.
  10. Penawar minuman beralkohol adalah air madu hangat oleh karena itu seseorang yang telah mabuk dan pulang ke rumah, bukannya malah dimarahi tetapi malah disuruh tidur dan minum air madu sebelum tidur dan saat bangun dari tidurnya.
  11. Bisnis di Korea sangat kuat pengaruhnya di kehidupan masyarakat Korea sehari-hari. Masyarakat Korea sangat peduli terhadap keluarga dalam berbisnis. Maka mereka benar-benar mengkader putra-putrinya agar bisa berbisnis dan mewarisi bisnis mereka nanti.
  12. Menampar adalah hal yang lazim yang biasa dilakukan oleh orang Korea apabila mereka marah. Bahkan terhadap anaknya sendiripun, terhadap istri, terhadap pasangan kencan dll. Sekali pernah saya melihat seorang ayah yang pebisnis terkuat di Korea menampar anaknya hingga berdarah. Hal ini disebabkan karena anaknya melakukan kesalahan yang cukup fatal dalam menjalankan bisnisnya.
  13. Sex sebelum nikah sebenarnya tidak dibenarkan di dalam tradisi Korea. Namun ada satu kejadian pada satu judul film yang saya lihat, tentang seorang gadis yang berperilaku cukup baik dan santun yang menjalin hubungan dengan seorang jejaka kaya. Hubungan mereka diwarnai dengan kehamilan sang gadis. Dialog antara ibu terhadap putrinya yang benar-benar saya sayangkan. Saya tidak mengira percakapannya jadi begitu
  14. Gaya menunduk orang Korea sangat khas. Mereka akan selalu lakukan itu untuk memberikan penghormatan kepada siapapun di depannya yang dianggap patut untuk dihormati.
  15. Gaya memberikan penghormatan dengan cara adat khas Korea juga sangat khas, yaitu dengan cara berdiri kemudian menyatukan kedua tangan dan kiri di depan dahi. Setelah itu mereka melakukan sujud, dan itu bisa dilakukan lebih dari satu kali. Penghormatan ini bisa dilakukan saat pernikahan antara manten lelaki dan perempuan, dan atau penghormatan kepada orang yang sudah meninggal.
  16. Busana sehari-hari orang Korea cenderung mengikuti tren mode yang cukup kuat. Namun sebenarnya kebanyakan kostum orang Korea ini seolah-oleh mengikuti gaya berbusana orang Amerika yaitu menggunakan setelan jas. Apapun aktifitasnya. Para wanita Koreanya pun begitu. Mereka cenderung mengenakan jas atau setelan. Bahkan berlapis karena untuk mengusir hawa dingin. Pada suatu event tertentu mereka akan mengenakan busana khas Korea Hanbok yaitu pada tahun baru, menghadiri upacara pernikahan atau kematian.
  17. Ciuman menurut para remaja Korea, mereka mengandalkan ciuman pertamanya untuk menentukan siapa pasangan pernikahan nanti. Mereka anggap ciuman pertama ini adalah ikatan awal menuju jenjang pernikahan.

 

Katakan Kepadaku

Maaf saya tak bisa memilihmu

Saat ini ada pemilihan ketua jurusan di universitas dimana saya bekerja. Ada dua calon kuat, A dan B. A adalah seorang bapak yang notabene sangat dekat denganku, dan beliau sahabatku. Dan B adalah seorang ibu, teman kerja di kampus.

Suatu ketika ada telpon bordering melalui telpon rumah, saat itu belum ada hp. Terdengar dengan merdu suara sang ibu yang bertanya tentang pemilihan seorang rector di awal 2000an. Ibu ini dengan penuh curiga mencecar pertanyaan tentang siapa yang kupilih dan mengapa aku memilih calon rector tersebut. Dalam hati kubertanya-tanya, sampai sedemikian rumitkah proses pemilihan rector dengan mengusung tema suksesi segala. Kuyakin tidak ada proses-proses pra pemilihan semacam kampanye, suksesi dan segala macamnya. Tapi ibu ini semakin ingin menegaskan, siapa yang kupilih.

Masih kutak habis pikir tapi kujawab dengan santai, “emang kalau saya tidak memilih calon yang kamu dan kawan-kawan usung, kamu mau apa?”

Itu sekelumit peristiwa tidak enak antara saya dan sang ibu. Dan entah kenapa peristiwa yang lain pun berentetan mengikuti peristiwa ini selama lebih dari 17 tahun aku berteman dengan dia. Sahabat terdekatku, ada 1 seorang wanita yang sangat kupercaya selama ku bekerja bahkan kurang paham dengan apa yang kusampaikan. Dan semakin tidak paham lagi saat ada pemilihan ketua jurusan.

Kutegaskan bahwa saya tidak akan memilih yang jauh, saya hanya akan memilih yang dekat. Itu prinsip saya. Apapun yang terjadi pada saya, saya tidak terlalu peduli. Hal itu karena saya hanya bisa baik dengan teman yang. Dan apakah dia bisa dibilang sebagai teman? Apa definisi teman? Dan seperti itukah teman?

Yang disebut dengan teman itu adalah sosok yang dekat dengan kita, bukan yang jauh dari kita. Atau bahkan orang yang menyakiti hati kita, disebut teman?? Tentu tidak!

Kalau teman, kita pasti akan berhutang budi baik, karena dia baik kepada kita. Bahkan kalau teman tersebut dekat kemudian menjadi sosok sahabat maka semakin banyak hutang kebaikan yang akan kita bawa. Dia baik maka kita juga akan membayar kebaikannya.

Nah kalau menyapa di jalan aja nggak mau atau nggak digubris, bertemu di ruangan saja nggak tegur sapa, atau bahkan menyakiti hati perasaan kita..apa itu bisa disebut dengan teman?? Hemat saya tidak. Orang itu bukan teman dan sebaiknya memang tidak bisa disebut dengan teman. Anggap saja orang tersebut adalah orang lain yang kita tidak kenal sama sekali. Mengapa begitu? Ini disebabkan karena dia sama sekali tidak menganggap saya ada, meskipun dia kenal nama saya.

Suatu saat beberapa mahasiswa di bawah perwalian saya mengeluh karena mendapatkan layanan yang kurang baik dari sang ibu. Saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa karena saya tidak memiliki wewenang sama sekali untuk mengingatkan sang ibu agar lebih bijak kepada mahasiswa. Ibu yang sok sibuk ini seringkali menelantarkan mahasiswa dengan alasan sibuk kuliah, mengerjakan disertasi dll. Entah kenapa hal ini terjadi pada mahasiswa di bawah perwalian saya, sehingga saya hanya bisa menangis aja saat mereka curhat. Dan itu terjadi tidak pada satu orang, tapi beberapa mahasiswaku mengeluh akan pelayanan ibu dosen ini yang tidak menyenangkan.

Pada suatu ketika kami bertiga mengendarai mobil menuju ke kota Surabaya. Bersama seorang pejabat juga dalam mobil tersebut. Si bapak pejabat ini menanyakan makanan bekal yang bisa dinikmati di perjalanan. Tentu saja sebagai sekretaris sang ibu saat itu saya kelabakan dan tidak menahu. Sayangnya si ibu malah menyalahkan di depan bapak pejabat ini mengatakan bahwa saya tidak mempersiapkan akomodasi perjalanan ke Surabaya tersebut.

Baru kuingat beberapa drama Korea yang telah sering kusaksikan. Adegan menuduh yang sering terjadi tidak dibarengi dengan pembelaan, seringkali begitu. Sang tertuduh hanya diam saja dan tidak berusaha membela diri. Dan hal ini terjadi padaku. Aku sama sekali tidak bisa mengatakan dan membela diriku. Padahal kutau, sang ibu ini sama sekali tidak memberiku instruksi untuk mempersiapkan akomodasi selama perjalanan. Uangpun tidak diberi. Lalu apa yang harus kulakukan dalam keadaan tidak memegang uang sepeserpun?

Saat pra jabatan, ini yang tak pernah kulupakan sampai seumur hidupku nanti. Dan kuharap kamu (sang ibu) baca tulisanku. Acara prajabatan di kampus bekas STPDN di jalan Kawi Malang ini sangat menyiksa, terutama kegiatan fisik. Aku sudah tak pernah merasakan kegembiraan sama sekali disana, semua serba menakutkan. Para pelatih ini sangat disiplin, keras dan cukup galak. Dan saat itu aku masih tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Terutama apalagi karena para pelatih militer di kegiatan pra jabatan ini tidak begitu banyak memberikan kesempatan untuk ibadah.

Sangat kusesalkan!

Dan semua yang terjadi di kampus ex-STPDN benar-benar di luar dugaan. Setiap hari terjadi hal-hal yang di luar dugaanku, di luar kemampuanku. Misal seperti contoh listrik yang tau-tau dimatikan malam-malam tapi bel berbunyi untuk pelaksanaan apel. Sebenarnya gonjang-ganjing hal ini pernah terdengar dari pra jabatan sebelumnya. Namun saat sekarang ini isu tersebut tidak terdengar oleh telingaku. Dan apa yang terjadi, temenku yang kusebut sang ibu ini sudah tau hal itu, karena dari awal dia memang sudah akrab dengan pengawas dan pengurus ruangan. Entah kenapa hatiku langsung ciut. Kukira dia yang satu-satunya teman di ruanganku akan baik padaku dan saling menjaga karena kita berdua berada di tempat yang sama dan jauh dari keluarga.

Setelah itu baru kusadar bahwa memang sang ibu tersebut sama sekali tidak mempedulikan aku. Ada atau tidak adanya aku bukan urusan dia. Sering bertemu atau berada dalam satu ruangan tidak menjadikan dia kemudian memperhatikanku. Tidak sama sekali!

Dan apabila disuruh memilih? Maaf saya tidak bisa bu.

Saya tau saingan ibu seorang bapak  yang  kinerjanya kurang bagus, kehidupan sosialnya juga. Tapi setidaknya dia baik pada saya. Orang yang baik pada saya berarti teman saya. Saya berhutang budi baik pada beliau. Artinya saya pula akan baik kepadanya. Saya akan memilih yang dekat dari pada yang jauh, itu sudah pasti. Ibu perlu tau itu.

Dan lagipula anda sudah berada pada titik tertinggi di kampusku, ada atau tidak adanya aku tidak akan ada pengaruhnya pada kehidupan anda sebelumnya, saat ini dan nantipun.

Oleh karena itu katakan pada tim suksesimu, tidak ada yang bisa mempengaruhi saya untuk memilih engkau.

Maaf!

 

Dzikir Senin

Dzikir Tanpa Akhir

Sapanjang adalah saksi dari kegiatan ritual Dzikir Senin, sebuah fenomena religi yang telah berlaku berates tahun. Dzikir ini dilaksanakan pada tiap malam Senin di lokasi yang tetap, di desa Sapanjang Galesong kota Makassar. Banyak dzikir yang dilaksanakan dengan berbagai macam variasi doa dan quantitas yang berbeda-beda. Namun mungkin ada perbedaan yang bisa saya saksikan pada Dzikir Senin di desa Sapanjang Galesong.

Seperti yang telah diceritakan oleh keluarga besar di desa Sapanjang, salah satu diantaranya adalah bapak Rahman Uriansyah Manaba, beliau tinggal di Balikpapan namun sering mengikuti dzikir tersebut bahwa dzikir ini adalah warisan dari Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syech Yusuf Al Makassari. Sebagai seorang wali klasik dari masa abad ke 17, beliau mengalami berbagai tantangan seiring dengan kodrat kewalian yang dibebankan kepadanya. Syech Yusuf yang konon khabarnya adalah putra dari Nabi Khidir mengikuti kodrat Allah tiba di SULSEL sebagai putra atau diangkat putra oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa I yang menganut agama Allah, Islam.

Dari silsilah yang saya dapatkan disana, Syech Yusuf kemudian memiliki putra dan keturunan yang salah satunya dimakamkan di Sapanjang, namanya adalah Syech Sirajuddin. Beliau pula disebut dengan wali oleh masyarakat setempat. Makam Syech Sirajuddin berdampingan dengan istri dan makamnya dinaungi oleh sebuah rumah kecil. Dari kunjungan saya disana terlihat bahwa makam beliau sering dikunjungi orang karena banyak terdapat bekas-bekas orang yang berziarah, terutama yang dibawa adalah lilin dan air seceret. Air dalam hal ini didoakan dan dikucurkan sepanjang makam, kemudian lilin adalah sebagai penerang dan memberikan cahaya atau nur. Syech Sirajuddin ini adalah putra keturunan Syech Yusuf dari istri beliau putri Johor Manikam, seorang putri Raja asal Indragiri Sumatra Barat. Karena kabar kewalian yang sangat hebat, maka banyak raja yang menginginkan Syech Yusuf atau Tuanta Salamaka menjadi menantunya.

Memang ada beberapa tempat di Indonesia ini diakui sebagai makam Syech Yusuf, termasuk juga di Cape Town Afrika Selatan. Sampai saat ini Syech Yusuf masih diakui jazad beliau bersemayam di Cape Town Afrika Selatan, bahkan telah diberikan gelar pahlawan Nasional disana. Kabar kewalian beliau yang sangat gempar inipun sempat membuat Belanda kelabakan. Layaknya Rasul, kelahiran beliau memang telah diketahui dan ditunggu-tunggu. Namun Syech Yusuf memang benar-benar menakjubkan, sesaat beliau lahir orang tuanyapun menghilang. Dan seperti yang dijelaskan dalam silsilah, beliau adalah putra dari Nabi Khidir.

Seperti pula yang telah diajarkan kepada putra dan keturunannya yaitu Syech Sirajuddin atau dengan nama anumertanya yaitu Syech Sirajuddin Karaeng Ngilau Tuan Pandang Laut, beliau telah melestarikan dzikir Senin, dzikir yang telah diciptakan dan diajarkan oleh Syech Yusuf kepada seluruh putra dan keturunannya.

Dzikir ini pada dasarnya adalah semacam kegiatan ritual Istighosah seperti yang biasa kami lakukan di Jawa. Doa-doa yang diucapkan tidak jauh beda. Namun anda mungkin akan terperanjat apabila saya ungkapkan jumlah butiran-butiran dzikir yang diucapkan. Mereka biasa menggunakan angka 1000 untuk setiap butir doa dzikir. Luar biasa!

Jumlah ini menunjukkan quantitas yang berbeda dengan butir-butir dzikir yang biasa kami lakukan di Jawa. Jumlah ini sungguh mencengangkan. Anda bisa bayangkan berapa lama mereka melaksanakan ritual dzikir Senin tersebut. Seribu kali bukan perkara gampang, di suhu hangat desa Sapanjang. Gerakan-gerakan yang tetap dan terus-menerus seolah tanpa sadar. Gerakan-gerakan menggeleng-gelengkan kepala yang dilakukan tanpa henti, terantuk ke kanan dan kekiri dua kali. Ada pula yang terantuk ke kanan dan kekiri hampir sampai 4 antukan. Matapun ikut merespon gerakan kepala yang tanpa henti, mengikuti ucapan mulut dari setiap butir doa dzikir tanpa mempedulikan sekeliling. Semua orang terfokus pada doa dzikir yang diucapkan dengan mantap dan berharap.

Doa adalah harapan, maka gerakan-gerakan menghentak semakin meyakinkan para jama’ah akan dikabulkannya harapan yang dipanjatkan. Duduk membentuk lingkaran adalah bagian dari proses berdzikir karena di tengah-tengah diletakkan batang-batang lilin berwarna merah dan menyala terang membentuk cahaya. Biasanya dzikir dilakukan di tempat kami di Malang menghadap ke kiblat. Namun yang dilakukan disini adalah membentuk lingkaran dan juga terlihat di tengah tersedia pisang berwarna hijau yang sudah mulai matang merona kuning. Juga terdapat pula batang-batang merah lilin yang menyala di tengah-tengah. Nyala lilin ini sangat konstan mempengaruhi gerakan-gerakan pedzikir. Nyala lilin adalah nur. Nyala lilin mendatangkan aura api abadi, dan cahaya biru lilin adalah roh abadi. Dan lilin adalah penuntun agar focus kepada dzikir maupun semedi dan juga sebagai pertanda kepada pedzikir bahwa yang diundang akan dating yang ditunjukkan dengan gerakan api lilin yang semakin tenang.

Ya Allah ya Rabby..

Ya Muhammad ya Rasulullah..

Amin..