
Banyak studi dalam linguistik antropologi sejak tahun 1980. Masalah yang diperhatikan adalah konstruksi model dalam bahasa untuk menafsirkan pengalaman. Contohnya teori umum tentang listrik karena mekanisme listrik pada dasarnya tidak terlihat sehingga orang menggunakan model untuk menjelaskannya agar wujudnya dapat dipahami (Foley, 1997).
Seiring berjalannya waktu, selain masalah teknologi yang dimetaforakan dan dibuat modelnya, maka hal ini berkenaan pula dengan bidang-bidang bahasa lainnya. Misalnya, pada bahasa Angkola, metafora mardakka abara adalah pesan yang selalu disampaikan kepada pengantin wanita. Karena mardakka ‘bercabang’ dan abara ‘bahu’ bila diartikan secara etimologi maka akan bermakna bahu yang bercabang. Namun hal ini tidak masuk akal sebab tidak mungkin bahu seseorang dapat bercabang. Dengan demikian, inilah yang disebut dengan metafora. Modelnya adalah bahu yang bercabang, makna metaforanya adalah memiliki keturunan yang banyak.
Hal mendasar yang perlu diketahui tentang metafora adalah kita menggunakan informasi yang kita miliki tentang satu domain yang yang dikenal (Foley, 1997). Misalnya, bahasa Angkola, ketika ada seseorang mengatakan songon itik surati ‘seperti itik surati’ maka itu berarti menyatakan lambat. Bangunan pemahaman yang telah dibentuk adalah itik surati merupakan salah satu hewan yang jalannya lambat. Karena itu, jika ada seseorang yang pergerakannya lambat maka akan dimetaforakan menjadi itik surati sebagai sindiran yang akan membuat orang lambat tersebut berubah.
Referensi
Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.
#williamfoley
#metafora
#stylistics
