Padamu Sahabatku

Ini adalah waktu terpedih yang pernah kurasakan. Waktu dimana aku mengenang seseorang yang kusayang. Ada dua lagu yang kudendangkan hingga tak lepas-lepas kuhembuskan dalam bisik. Aku benar-benar kehilangan dia, keceriaannya, kelincahannya, manjanya.

Everybody’s changing

You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

You’re gone from here
And soon you will disappear
Fading into beautiful light
Cause everybody’s changing
And I don’t feel right

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

Dan lagu yang ini, aku hanya diam mengenangnya dengan mendendangkan lagu ini. Air mataku bertetes-tetes mengalir deras tanpa hulu. Aku mengenangmu sahabatku.

“Don’t Speak”

You and me
We used to be together
Everyday together always
I really feel
That I’m losing my best friend
I can’t believe
This could be the end
It looks as though you’re letting go
And if it’s real
Well I don’t want to knowDon’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurtsOur memories
Well, they can be inviting
But some are altogether
Mighty frightening
As we die, both you and I
With my head in my hands
I sit and cry

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts

It’s all ending
I gotta stop pretending who we are…
You and me I can see us dying…are we?

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts
Don’t tell me cause it hurts!
I know what you’re saying
So please stop explaining

Don’t speak,
don’t speak,
don’t speak,
oh I know what you’re thinking
And I don’t need your reasons
I know you’re good,
I know you’re good,
I know you’re real good
Oh, la la la la la la La la la la la la
Don’t, Don’t, uh-huh Hush, hush darlin’
Hush, hush darlin’ Hush, hush
don’t tell me tell me cause it hurts
Hush, hush darlin’ Hush, hush darlin’
Hush, hush don’t tell me tell me cause it hurts

Musik di Girimulyo

Ada apa di Girimulyo? Girimulyo yang tak kutemukan di internet, GPS, Google Earth, Google Map dan Foursquare kupun membuat aku penasaran. Sebuah desa yang cukup luas terbentang di pegunungan Karst sebelah selatan Yogyakarta. Pegunungan yang cukup unik, keras, hitam, dan hanya bebatuan yang sering nampak. Tanah menjadi terlihat jarang. Namun desa Girimulyo penuh dengan pohon Jati, tidak sedikitpun terlihat desa ini gersang, airpun tak sulit ditemukan meskipun baru saja muncul pipa-pipa di sekitar situ. Pemandangan yang masih sangat hijau ini sungguh menyegarkan mata-mata yang sudah sumpeg dengan kepulan asap di kota Malang. Hiruk-pikuk kota metropolitan kedua di Jawa ini membuatku menjadi semakin penasaran terhadap desa yang cukup unik. Dua malam aku habiskan di desa ini. Mungkin bagiku yang lahir besar di kota ini adalah pemandangan langka, desa yang tak kutemukan di internet. Berkali-kali aku browsing nggak ketemu-ketemu penjelasan mengenai desa ini. Kecuali desa ini, Girimulyo, adalah desa binaan seorang professor nyentrik, dosen promotor temenku di UGM, Professor Kuntjoro.

Seorang dosen senior di bidang Psikologi yang biasa dipanggil Romo ini kemudian sempat disebut-sebut oleh pembawa acara sekaligus ketua komunitas musik Gejlog Lesung, musik bernuansa semi mistis, sang ibu yang mengawali permainan dengan introduction yang cukup rumit kupahami bahasanya. Bahasa yang sudah menjadi native bagiku ini sebenarnya hanyalah bahasa Jawa asli, bahasa Jawa dialek Jawa Tengah yang masih sangat murni, jauh bedanya dengan bahasa biasabahasa  Jawa yang kuucapkan di kota Malang. Sang ibu berkostum khas Jawa Tengah, berkebaya langsing, begitupun dengan pemain2 nya yang memakai lurik dan berkain sewek lurik pula, sang ibu ketua komunitas mengenakan sanggul cempol kecil yang cukup rapi meskipun rambutnya pun sudah dipenuhi oleh uban. Namun ibu yang sudah cukup sepuh ini justru tampil lebih apik. Beliau bergoyang sambil mengitari teman-temannya selama

Gejlog lesung

memukul lesung, beliau sangat menikmati musik tradisional tersebut. Terbukti dari lemas gemulai tubuhnya yang meliuk seiring lagu-lagu dinyanyikan.

Desa Girimulyo memiliki kondisi geografis cukup ekstrim. Dari rumah ke rumah, dari dukuh ke dukuh, dari dusun ke dusun semua sama, harus melalui jalan terjal dan menanjak, naik turun yang sangat ekstrim elevasinya. Bisa mencapai 80 derajat kemiringan. Dan kalau beruntung kita bisa melalui jalan aspal yang kadang bagus. Kalau tidak beruntung kita akan menginjak batu-batu Karst yang menghiasai seluruh geografi desa Girimulyo. Sungguh indah meskipun melelahkan.  Pemandangan yang cukup unik juga selain itu adalah beberapa makam yang kami temui disana tidak seperti makam di Yogyakarta pada umumnya. Makam di Girimulyo sangat unik dan eksotis, semua makam tiap individu nya ditutup oleh rumah kecil beratap genteng. Sehingga apabila dipandang dari atas, kebetulan makam Girimulyo terletak tepat di depan rumah kediaman Professor Kuntjoro, terlihat seperti rumah kost yang kecil-kecil. Kami mengira seperti itu. Saat kulihat dengan jelas dan lebih dekat ternyata itu adalah sebuah bangunan makam, khas dari belahan desa di Gunung Kidul itu.

Alu dipukul, lesung pun bergema mengikuti pukulan alu ibu-ibu desa Girimulyo. Lagu-lagu yang dialunkan adalah lagu-lagu berbahasa Jawa yang sangat syahdu. Malam yang cukup gelap itu sangat mendukung suara-suara semi mistis nan indah. Aku ternganga dan menikmati alunan musik pukul Gejlog Lesung ini. Saat mulai malam, 3 lagu Jawa telah dilantunkan, tiba-tiba pak Abdullah temenku mengambil mike dan mendadak menyanyikan lirik baru tanpa rencana. Benar-benar fantastis bapak ini. Inilah liriknya, sebuah shalawat..

Sholawat Kuntjoro

Sholatullah salamullah

Ala Thoha rosulillah

Sholatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Paling enak wong Girimulyo

Nyambut gawe karo noto jiwo

Urip mulyo rukun karo tonggo

Berkat bimbingan Professor Kuntjoro

Dadi manungso ojo keparat

Gak gelem ngaji ora gelem sholat

Ilingo akhirat ora ono sego berkat

Onone mung godone moloekat

Sebuah lirik mendampingin gema shalawat Gejlog Lesung ini menjadi sebuah lirik baru yaitu Sholawat Kuntjoro. Prof Kuntjoro yang saat itu duduk di kursi menyaksikan dengan seksama menjadi terkekeh-kekeh saat nama beliau disebut di dalam lagu sholawat ini. Beliau sangat menikmati kolaborasi Malang-Yogyakarta seperti yang disebut oleh temanku pak Mahpur yang mahasiswa bimbingan disertasi prof Kuntjoro ini.  Kolaborasi ini memancing teman-temenku untuk menggapai alu-alu di dalam lesung yang masih belum terpakai. Akhirnya pemain-pemain Gejlog Lesung pun berubah formasi menjadi temen-temen dari Malang dengan penyanyi pak Abdullah yang telah menciptakan lirik baru tadi.

Akhirnya berakhir dengan lagu-lagu Jawa kembali, akupun kembali ke kamar masing dengan tertidur cukup pulas bermimpi kan suara lesung yang damai. Suara yang masih sangat kuat menemani mimpiku malam itu. Suara sebuah kayu utuh dan besar yang menghasilkan irama-irama indah.

Pantai gesing

Keesokan harinya kunjungan next tripku ini cukup heboh, Pantai Gesing. Pantai di sebelah selatan desa Girimulyo yang sangat terpencil dan mungil, namun indah luar biasa. Pasirnya sangat lembut hingga aku malas beranjak dari sana. Batu-batu karst di sekeliling pantai masih terlihat cukup spektakuler menjadi bagian dari tanjung pantai. Inilah yang membuat ikan-ikan banyak berkumpul disana. Sehingga waktu aku datang ke pantai ini, santapan ikan yang sangat mewah dan banyak sekali menjadi makan siang kami saat itu. Belum lagi kelapa muda berpuluh-puluh glundung kelapa menjadi minuman alami ku saat itu, jadi inget iklan-iklan di pantai yang sambil nyeruput kelapa muda. Biasanya aku minum di gelas dan hanya setengah butir kelapa, kini aku harus menghabiskan sebutir kelapa yang cukup heboh besarnya. Rasanya manisss poll!

Pohon-pohon jati yang mengelilingi seluruh desa Girimulyo ternyata juga menyimpan beberapa species anggrek. Memang sudah lengkap kalau desa ini dikembangkan menjadi desa wisata. Belum lagi ada satu pertunjukan rebana milik warga desa Girimulyo juga yang bisa dijadikan agenda budaya saat berada disana. Untuk itu memang persiapan Desa Girimulyo menuju Desa Wisata dan Budaya menurutku sudah sangat siap. Infrastruktur bukan menjadi halangan kembali. Tidaklah sulit menuju desa ini sebenarnya. Dan kita akan menyaksikan sekelumit Yogyakarta berbentuk mini di Girimulyo.

Ayok kesana

Perjalanan Nostalgia

Yogyakarta memang tak pernah hilang dari ingatanku. 25 tahun lalu saat aku akan menginjak bangku perguruan tinggi, untuk pertama kalinya aku ke Yogyakarta. Ingatanku tak pernah musnah sampai sekarang. Kota yang berbeda dengan Malang kota kelahiranku. Semua tak sama, sampai makanannya pun. Itu tak pernah luput dari mimpiku hingga sekarang. Jalan Timoho, tempat kostku berhadapan dengan jalan besar, sekitar beberapa meter dekat kampus IAIN Sunan Kalijaga. Tiap pagi aku selalu diributkan dengan ibu-ibu penjual makanan yang membawa bakul di pungungnya. Deeen.. deeen begitulah cara ibu penjual memanggil dan menjajakan dagangannya. Kadang ada nasi gudeg, nasi kucing, tahu bacem, tempe benguk dll. Wah pokoknya enak semua. Aku suka semua makanan disana meskipun manis. Nggak tau kenapa.

Herannya tempat kostku itu koq berdempetan dengan rumah kost kakaknya pacar. Hahaha.. Maka yang terjadi adalah sekali pernah diajak jalan-jalan sama kakak ipar itu ke istana raja. Nah ini aneh nggak, masak jalan-jalan sama kakak ipar.. [email protected]#$%^&*)(*

Shopping centre yang saat ini berubah nama menjadi Taman Pinter Bookstore adalah salah satu tempat jalan-jalan favoritku. Dulu namanya shopping centre, atau sering disebut shopping aja. Hampir semua jenis buku ada disana. Bahkan ada skripsi, laporan, dll. Buku yang kucari koq ya tersedia, dan dengan mudah si mbak nya menemukan. Wah bener-bener hebat para penjual buku ini. Apapun bidang yang kita tanyakan dia seperti browser. Ada aja.. Hebat mbak, aplos untukmu. Qeqeqe..

Di pasar Bringharjo lebih unik lagi, saat pertama saya datang disana tahun 1989 ada penjual es rujak cuka tepat di depan pasar. Beberapa tahun kemudian saat saya kesana..eh..lhakoq masih disitu juga. Hebat sekali ibu itu, bertahan di jalan besar depan pasar itu bukan barang mudah. Saat kutanya beliau ternyata adalah orang yang sama yang pernah kutemui dulu. Es rujak cuka nya henaakk bukk.. Jadi pengen. Aku ke Yogyakarta seminggu lalu beliau sudah tidak ada. Hiks.

Ada beberapa jajanan yang dijual di dalam pasar, ada yang berhenti dan ada yang sambil jalan. Seperti contoh yang jual es kelapa muda dan es teh dalam gelas. Wah instan sekali itu. Dalam pasar Bringharjo memang cukup panas suhunya. Dan tiap saya kesana selalu pada saat panas-panasnya. Beeghh.. Es kelapa muda dan es teh itu begitu menggoda. Salah satu mbak penjual baju batik langgananku itu dah paham kayaknya. Simbak itu bilang kalau mau naruh gelas es kelapa mudaku ada di bawah dekat meja tepat dia duduk. Aku sampai tertawa-tawa. Mbak ini tau banget kalau aku haus. Dia juga nggak habis-habis nyalain kipas angin di belakangnya. Ternyata kepanasan juga ya..

gempol plered

gempol plered

Sempat malam itu aku mampir di angkringan Pakualaman. Wah makanannya lucu-lucu dan enak pula. Teh pocinya itu..waduh jadi pengen ngembat poci tanah liatnya. Qeqeqeqe..  Pokoknya nggak bisa lupa. Pengennya duduk disitu aja sampe pagi. Tapi nggak mungkin kan.

Bakpia itu ternyata murah kalau beli di pasar Bringharjo, nggak ada merknya, bungkusnya mika, dan yang jelas harganya murah bok! Ini harusnya sekotak bakpia pathuk no 25 itu dibandrol Rp. 25.000. Nah ini cuma ceban. Murah kan! Dan rasanya? Gak usah jaim-jaim dah. Kita nggak perlu pake yang mahal-mahal, sama aja koq. Makan sambil merem aja lah. Paling juga sama. Hihihi..

Ke candi Prambanan memang asyik, tapi apabila anda lagi terburu-buru sebaiknya jangan kesitu deh. Habis rute mengelilingi candi itu nggak boleh di cut begitu saja. Dan jauhnyaaa.. Naudzubillah!

Gudeg memang lezat, mungkin pasar tradisional adalah tempat orang-orang jujur.  Maka di pasar tradisional lah aku coba untuk mencari gudeg. Setiap berada di kota manapun, yang selalu ingin kulihat adalah pasar tradisional. Dan memang ternyata ketemu, semua ada di pasar. Dan yang pasti murahhh.. hehe

Jalan-jalan di Yogyakarta memang nggak pernah akan membuatku bosan. Sampai kapanpun Yogyakarta akan menarikku kembali kesana. Seperti lagunya KLA Project.

Banjir Nan Heboh

Kemarin siang hujan tak berhenti-henti di Malang, hampir selama 3 jam. Sehingga jalan-jalan pun tumpah ruah dengan air bah seolah tak bisa menampung curah hujan yang banyak itu. Di beberapa titik dan ruas jalan di kota dingin ini menjadi tertutup ratusan kubik air sehingga roda-roda motor pun tinggal separo. Termasuk MX bututku. Orang-orang yang membawa motor-motor matic harus merelakan motornya di bawah rinai hujan harus nuntun sampai kemana kutak tau, orang hujannya kayak gitu. Saking deresnya, melihat aja jadi nggak jelas. Di jl. Bandung yang full pohon rindang menjadi sangat gelap karena tertutup pohon dan air hujan yang terus menetes. Jalan veteran yang cukup luas itu, tinggi air hingga melebihi trotoar. Terlihat di depan Matos, seorang gadis melepas sepatunya dan menginjakkan kakinya di jalan besar. Eh ternyata hampir semata kakinya tenggelam. Karena ragu dia bali lagi ke trotoar matos. Hihihi

Perjalananku ke Gondang Legi memang berat kali ini. Dari berangkat sampai pulang kembali banjir disana sini. Roda motor MX bututku sudah mencapai 60% tenggelam, termasuk sandalku. :( . Tapi sebagai aremanita sejati aku hapal setiap lubang, tikungan dan lampu merah jadi banjir yang menutupi di semua ruas jalan kota aku terjang semua kayak punya sayap. Motor revo itu yang sungguh-sungguh terlihat terbang kalau melintasi air-air bah. Huftt.. Tapi lumayan juga banjir-banjir gini, jadi serasa naik veri Joko Thole di selat Madura. Lumayan terhibur meskipun dinginnya gila amat. Pfft..

Badan sudah mulai terasa basah saat masuk di jalan embong brantas, di atas jembatan. Celana panjangku bagian bawah sudah basah separo, padahal tertutup jas hujan. Belum lagi di leher, ada bajuku dan ujung lengan ada jaketku. Semua terasa dingin. Beberapa kali melalui air yang hangat. Tapi ku curiga, air apa ini. Jangan-jangan air..  [email protected]#$%^&*)( !

Sesampai di Gondang Legi emang nggak hujan. Eit jangan salah. Waktu mau pulang hujannnya datang. Dan derasnya dah ampun-ampun. Gelap di sekitar pabrik gula krebet, ternyata ada lampu-lampu lucu dipasang di depan pabrik. Ada yang gambar kelinci, ada yang gambar kucing. Wah pemandangan indah nih, di saat deras-derasnya air tempias ke mukaku. Hahahay..

Sesampai dirumah rasanya perut penuh, penuh air hujan. Dari tadi minum mulu :(

Bon Jovi di Havana

Pagi itu masih dingin aku harus segera berangkat ke Surabaya untuk menemui professorku di kampus IAIN. Bus Havana yang kunaiki saat itu begitu  laju. Entah kenapa hatikubegitu galau. Benar-benar butuh energi dan rasa yang cukup. Aku masih tak bisa konsentrasi berada di dalam bis ini. Berkali-kali air mataku mengalir deras tak habis-habis. Entah kenapa juga nggak bisa habis. Aku masih belum bisa menerima beberapa statemen-statemen yang telah diungkapkan oleh sahabatku ‘Surya’. Ucapan-ucapannya begitu menembus perasaan dan otakku. Semalam aku tak bisa tidur, itupun sambil menangis sehingga mataku bengkak saat paginya. Masih saja aku tak bisa lupakan apa yang dia bilang semalam sehingga air itu masih pelan-pelan mengalir melalui hidung dan pipiku. Bahkan air itu sudah mulai mengental, masih saja membasahi. Aku yang tak sempat menyiapkan tisu saat berangkat berkali-kali mengusap-usap kelopak mataku dengan jaket merah posdaya. Kain jaket yang cukup keras itu begitu menyakitkan menempel pada kelopak mataku. Kulihat bekas-bekas bedakku menempel disana.

Aku tertegun dengan lagu-lagu lawas yang dimainkan di video dalam bis tersebut. Salah satunya adalah lagu Its My Life oleh Jon Bon Jovi. Videonya unik banget. Seorang pria yang lari sekuat-kuatnya dikejar oleh sekawanan anjing hingga jauh. Ini anjing mengejar atau orangnya memang sengaja lari kencang aku kurang jelas melihat hal itu. Nah si Jon yang nyanyi di panggung sambil sekali-sekali tersenyum lama-lama kulihat seperti Aril Noah. Masih saja Jon Bon Jovi melantunkan lagunya, masih saja air mata di pipiku mengalir deras. Aku nggak bisa membendungnya. Saat sang pria sampai di panggung tempat Bon Jovi dan ternyata kekasihnya telah menanti disana. Entah kenapa kemudian dadaku rasanya perih dan dilanjut dengan derasnya kembali air mataku yang tak bisa kubendung. Kelopak mataku semakin bengkak saja.

Beberapa kali kulihat tulisan-tulisan di jalan ‘Surya’. Ada surya motor, surya cell, bahkan aku diberi koran ‘surya’ saat bis masih menunggu penumpang. Aku jadi tak kuasa karena menunggu pertanda. Apakah ini yang akan terjadi.

This ain’t a song for the broken-hearted

No silent prayer for the faith-departed

I ain’t gonna be just a face in the crowd

You’re gonna hear my voice When I shout it out loud 

It’s my life It’s now or never I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just wanna live while I’m alive It’s my life
This is for the ones who stood their ground For Tommy and Gina who never backed down

Tomorrow’s getting harder make no mistake Luck ain’t even lucky

Got to make your own breaks
It’s my life And it’s now or never I ain’t gonna live forever I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive ‘Cause it’s my life
Better stand tall when they’re calling you out Don’t bend, don’t break, baby, don’t back down
It’s my life And it’s now or never ‘Cause I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life) My heart is like an open highway

Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive

Aku mengira pasti nanti sang surya akan datang menemui atau menghubungiku. Aku sudah tak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi lagi. Aku bener-bener main prediksi akan apa yang akan terjadi. Dan Oh My God, hal itu benar-benar terjadi. Surya benar-benar datang ke dekat meja kerjaku yang membuat aku kaget sekaget-kagetnya. Karena jauh sebelumnya tadi saat aku di bis aku sudah tau hal itu akan terjadi. Jarang-jarang Surya datang ke kantorku. Aku bersembunyi di balik meja yang kebetulan aku duduk di lantai. Kakiku yang sakit karena telah alami perjalanan jauh memaksaku untuk duduk selonjor beralas koran. Aku duduk terselubung mejaku. Dan Surya tau-tau kemudian memanggil dari pintu.

Aku masih shock dengan bis yang kutumpangi tadi laju ugal-ugalan. Aku juga masih bingung setelah sesampainya dari Surabaya, aku bicara dan menghampiri bosku. Aku pamit setelah sampai, bukannya pamit saat akan pergi. Mungkin beliau kurang ok dengan caraku ini hingga aku sendiri masih berusaha untuk menempatkan diriku yang sudah salah pergi tanpa pamit. Saat aku masih bersungut-sungut bersembunyi di balik mejaku, Surya datang menyapa dan aku yang masih terbawa shock, cape, dan galau akut. Sehingga aku tak bisa membalas sapa sahabatku sang Surya itu.

Surya.. :’(

Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

Bersyukur

5 karung beras dari berton padi panenan dai sebuah desa.. Beras yang selama ini sempat juga kucicipi. Tidak sepanjang waktu, karena beras ini cuma panen sekali dalam setahun dan dikonsumsi beberapa bulan saja. Selebihnya balik lagi, lagi-lagi harus beli berkarung-karung beras, mencari yang paling bawah. Namun demikian masih saja ku heran. Beras ini harganya lumayan, tidak terlalu mahal, tidak juga murah. Namun rasanya masih jauh lebih nyaman (Madurese). Nyaman adalah istilah yang artinya enak. Rasa beras ini masih lebih sedap dibanding rasa beras yang dipanen oleh paman. Dan entah kenapa beras panenan baru itu berasa seperti mentah dan berair. Walaupun sudah diolah sedemikian rupa, dengan alat yang berbeda-beda, rasanya masih tetap seperti mentah. Dan sedikit berair.

Entah kenapa kemudian rasa nasi dari beras panenan yang tak begitu penting itu jadi mengganjal ya. Ini karena nasi adalah makanan pokok sehari-hari orang Indonesia. Sehingga nasi menjadi komoditi penting masyarakat khususnya Indonesia. Beberapa orang mengatakan sehari kalau belum makan nasi, rasanya belum makan. Sudah makan siang di kantor berupa bakso, rujak, es dan sebagainya, saat pulang masih saja nengok dapur untuk melihat nasi. Sehingga rasa dari nasi yang dimasak baik secara tradisional maupun modern menjadi sangat penting.

Beberapa karung beras dipanen dan datang ke rumah. Biasanya kami menghabiskan beras beli di warung untuk masak sehari-hari. Nah hari ini akan ada menu beda, Nasi Beras Panenan. Rasanya aku sudah hapal dengan beras ini. Tapi sayang banyak persepsi tentang itu. Semua makanan, sayuran, buah, lauk dll pasti punya rasa. Sebagai contoh pare itu pahit, tapi kita tetap mengkonsumsinya, bahkan bisa dipakai sebagai obat diabetes. Contoh lain, cabe itu pedas. Tapi makan jadi tidak lezat tanpa adanya sambel. Kita makan juga kan! Dan lalu beras ini. Beras ini berasa lembek dan berair. Malah terkesan bau saat dimasak di magic jar. Namun bukan karena kita tidak mau bersyukur. Tidak sama sekali. Rasa nasi dari beras panenan itu memang seperti itu. Tepat seperti saat kita mengatakan pare itu pahit, tapi teteup kita makan juga. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan tidak mau bersyukur. Sekali lagi semua makanan, minuman, sayuran dan buah iu semua memiliki rasa yang tentunya beda.

Bingung mau mengatakan itu adalah komentar atau sebutan. Kalau komentar dibilang tidak mau bersyukur. Lah kalau sebutan. Misal beras ini lembab, pare ini pahit, jamu ini pahit dll. Sayang sekali kata tidak bersyukur itu sudah terlanjur terlontar. Yang jelas tidak ada sedikitpun melecehkan rasa itu, apalagi tidak bersyukur.

Wallahu a’lam

Akik Batu Mulia

Entah kenapa akhir-akhir ini suamiku jadi sedikit lebay dengan memakai batu-batuan berbentuk cincin di jari-jarinya. Dan tidak hanya satu, bahkan empat. Sedikitnya ada lebih dari 3 macam bebatuan menempel di jari-jari hitamnya. Jari-jari yang mengandung sedikit nikotin dan sentuhan kasih sayang..ciyee. Kalau dilihat-lihat kuku-kukunya memang berwarna coklat karena terkena beban asap rokok yang sudah dihisapnya dari sejak SMA. Namun jari jemari beserta kukunya menjadi lebih kinclong karena keberadaan batu mulia. Jadi lebih mulia sepertinya. Ahikkk

Batu-batu itu entah datang dari mana, tau-tau jadi buanyak tersimpan di almari doi. Enambelas butir diaantaranya sebenarnya adalah milikku. Dulu waktu akik masih belum menjadi tren saat ini, saya mendapat kiriman souvenir atau oleh-oleh dari temanku, pak Mappajarungi. Saat itu beliau baru pulang dari Harare Zimbabwe. Batu-batu berwarna itu menjadi koleksiku sejak tahun 2007 saat pak Mappajarungi datang ke Indonesia. Namun semua sudah beralih tangan, ke almari suamiku. Hahaha. Entah lah hobby absurdnya itu koq jadi nganeh-nganehi. Jadi kayak tukang tadah.

Tapi emang dari dulu hobbynya selalu jadi incaran orang-orang, teman koleganya. Mulai dari makelar aquarium, kok badminton, sales sepeda gunung, mancing mania, sales pancing dan yang absurd-absurd lainnya. Apa yang dia suka tau-tau menjadi incaran teman-temannya juga, yang guru di SMU dikotaku. Yang paling absurd adalah makelar aquarium. Tadinya ada 2 aquarium berukuran berbeda di rumah. Lumayan bisa lihat2 ikan-ikan lucu-lucu sambil mengurangi depresi. Eh koq anehnya beberapa teman2 suamiku pada ikutan pelihara ikan dalam aquarium. Dan suamikulah yang makelarin pembelian aquarium. Wahah..

Nah batu-batu akiq bertuan dan bertuah (mungkin) kemudian menjadi penghuni almari suamiku. Herannya dia cepet sekali dapat info gosok akiq dimana, kotak akiq yang kukira adalah kotak cincin seserahan itu beli dimana, dia tau banget. Kotak itu tadinya kukira kotak seserahan manten, terbuat dari beludru biru. Ternyata isinya adalah akik yang sudah dikemas berbentuk cincin-cincin. Indah ternyata. Aku cukup heran. Tadinya nggak sampai seserius ini memiliki batu batu seperti itu. Bahkan senter untuk menyinari batu itu pun ada dia miliki. kadang dibawa-bawa kemana-mana bak detektif. Aku tadinya nggak ngeh kalau itu senter, karena bentuknya kayak pulpen. Itu batu koq cantik jadinya setelah dikemas. Dan apabila disinar satu-satu, banyak terdapat corak dan teksture di dalamnya.

Kami bergegas menuju pameran akik batu mulia di MX mall. Wah berniat sekali suamiku waktu dengar ada pameran. Sesampainya disana kamipun segera naik di lt 2 dan melihat-lihat. Hihi expresi suamiku lucu, karena tadinya aku nggak ngeh kalau dia sangat suka batu-batu itu. Yang aku lebih terkesan lagi, ternyata dia bawa beberapa batu dalam tas kecilnya. Bahkan ada yang dipakainya dalam bentuk liontin besar di dadanya. Wahh aku sampai terperangah melihat betapa besar akik hijau di dada suamiku. Lha aku sendiri, kerikil berlian tak satupun ada di diriku. Hallah..

Lama-lama dia tunjuk beberapa batu di dalam etalase. Suamiku dan para owner batu mulia di pameran serius banget mendiskusikan berbagai type dan varian batu tersebut. Terlihat mereka begitu serius mengeluarkan batu masing-masing, bahkan senternya pun sibuk menyinari tiap-tiap batu. Dari kejauhan semua itu terlihat seperti strobo yang saling menyinari para tukang tadah batu ini. Weheh

Akik akik..

Semangat Semu

Seorang teman dengan semangatnya menceritakan bahwa selama 2 tahun hidup di kota Malang tidak pernah sekalipun jalan-jalan di sekitar Malang dan sekitarnya. Padahal semua orang tau bahwa kota Malang penuh dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Tempat wisata gratis pun ada. Tapi dia begitu jujurnya mengatakan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan kemanapun. Kubilang mungkin bukan jalan-jalan, melainkan refreshing di semua tempat-tempat menarik di kota Malang. Dia pun tak bergeming. Jika tidak ada kuliah, apa yang dia lakukan coba? Ternyata dia menyukai mencuci baju. Seorang pria 51 tahun hobi mencuci baju? Kayaknya patut dipertanyakan. Hihihi. Begitu jujurnya temenku ini, seorang bapak yang sedang menempuh studi Doktor di UB.

Selama ini tak sekalipun dia merasakan enaknya naik angkot. Lah naik angkot apa enaknya yah? :p

Tapi alasannya lucu banget, dia begitu suka jalan kaki. Tapi anda tahu jarak rumah kos nya dengan kampus UB? Bisa 2km panjangnya. Sehingga pulang pergi ditempuh jarak 4km. Saya kira itu bukan ngirit lagi, tapi mungkin PELIT. Naik angkot sangat tidak mahal di kota Malang, antara 3000 rupiah hingga 4000 rupiah. Dan parahnya dia bilang saya bisa mengirit uang 8000 rupiah yang bisa saya belikan makan. Wew.. saya hampir tidak habis pikir dengan fenomena itu. Begitu nelangsanya temenku ini, hingga dibela-belain untuk jalan kaki dari rumah kosnya ke kampus UB. Saat ini kukira jarang orang menempuh perjalanan sejauh itu menuju tempat kuliah, karena disamping ongkos angkot yang tidak terlalu mahal, juga jalan di sekitar itu yang dilalui laju kendaraan yang cukup cepat. Jalan pedestrian di Dinoyo juga tidak memungkinkan orang untuk melenggang karena memang tidak ada. Sehingga banyak kekhawatiran2 bagi para pejalan kaki akan tersenggol oleh semua kendaraan yang lalu lalang.

Sedikit menerawang pria paro baya itu menceritakan tentang anak dan istrinya yang tinggal di Bogor. Istrinya menempuh studi doktor nya, anak-anaknya mengikuti perjalanan studi istrinya di Bogor. Sehingga semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di UB pun tak jarang bapak dua anak ini memprotes beberapa kebijakan universitas tentang konsumsi yang harus disediakan mahasiswa untuk ujian kelayakan, terbuka dll. Menurut dia ini sangat memberatkan. Dia bilang dia tak pernah sekalipun makan buah yang namanya anggur, disaat dia harus menghidangkan buah-buahan yang notabene mahal tersebut saat ujian. Ini berat buat dia. Tapi mungkin bagiku ini tragis. Masak nggak pernah makan anggur sih, walau satu. Qeqeqe..

Yah artinya bahwa menghadirkan hidangan buah-buahan, dan mungkin makanan ringan itu tidak menjadi berat hingga harus jual motor. Entah apa yang ada di pikiran si bapak ini hingga begitu tragis beliau menceritakan, sepertinya berat sekali beban hidup yang dia tanggung. Dari harus mengirit naik angkot karena uangnya bisa dipergunakan untuk sekali makan, sampai harus protes demo di UB untuk mengurangi kebijakan menghadirkan konsumsi saat ujian. Saya yakin saat seseorang berniat untuk studi lanjut sudah pasti akan memikirkan konsekwensi finansial yang akan diemban. Saya sangat heran dengan fenomena unik si bapak. Beliau yang berasal dari Sulawesi Selatan, yang saya paham orang SULSEL itu begitu gengsi dan mempertahankan martabat dan malu. Kalau toh memang sampai nggak punya, mungkin sebaiknya tidak sampai terungkap di ujung mulut. Yang saya tau teman-teman Sulawesi saya seperti itu. Tapi entah lah..

Baru saya ingat beberapa waktu lalu sahabat saya kak Buyung melaksanakan ujian tertutupnya di UB. Saya begitu bangga bagaimana cara beliau menghormati semua dosen penguji, pembimbing dan promotornya. Dan mungkin seperti itu lah idealnya. Toh bagaimanapun prosesnya tak perlu lah orang lain tau. Yang kita tau adalah kak Buyung melaksanakan ujian disertasinya dengan lancar dan mendapatkan nilai memuaskan. Sedangkan kemudian beliau mendatangkan keluarga dan menyadiakan fasilitas untuk tamu dan dosen, saya yakin semua sangat memahami bahwa itulah cara mahasiswa menghormati bagaimana pelaksanaan ujian disertasi tertutup itu dengan baik. Dan semua ittikad baiknya menjadi memori tersendiri bagi para dosen pembimbing, penguji dan promotor yang notabene adalah semua orang Jawa. Semua tamu bisa jadi adalah orang SULAWESI sehingga kita seolah-olah merasa berada di UNHAS Makassar.

Sesampai di rumah pun saya masih merenung lama memikirkan teman saya si bapak yang lagi studi Doktor bidang Lingkungan di Pasca UB itu. Sempat dia melarang saya untuk mencoba-coba studi di Pasca UNHAS. Sayapun sebenarnya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengambil Pasca disana. Bukan apa, jauhnyaaa..

Namun kemudian saya seolah tertantang oleh perkataan beliau bahwa saya yang orang Jawa tidak mungkin berhadapan dengan dosen-dosen UNHAS yang menurut dia ego. Saya jadi agak tersinggung. Saya sampaikan bahwa saya sudah berkomunikasi dengan orang Sulawesi dari sejak tahun 2006, saya tau betul karakter mereka. Sehingga saya tidak pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang Sulawesi. Entah dia begitu skeptik terhadap para pengajar di UNHAS. Saya kira di tempat kuliah saya di UM juga seperti itu, bahwa banyak mahasiswa mengalami drop out gara-gara kesulitan berkomunikasi sosial dengan dosen. Itu hanya masalah bagaimana kita merespon saja. Hanya dari pribadi masing-masing yang bisa menjawab, bahwa kamu bisa beretika komunikasi yang benar atau tidak. Seorang dosen pun tidak akan dengan senang terus menerus menyiksa mahasiswa, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya sampaikan bahwa mungkin anda perlu mengetahui siapa saya lebih mendalam karena saya tidak hanya berkomunikasi sosial dengan masyarakat SULSEL, namun saya juga menulis budaya dan antropologi SULSEL. Artinya saya sangat bisa memahami siapa dan apa SULSEL itu. Entah kenapa sampai saat saya menulis inipun, apa yang dia bilang masih sangat membekas di hati saya. Hampir semua lokasi penting di SULSEL sudah kudatangi, begitu pula orang-orangnya yang saya ajak secara langsung untuk berkomunikasi sosial. Di Sidrap, di Wajo, di Makassar, di Bone..saya sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat orang SULSEL. Apapun dan seperti apapun. Tidak ada budaya yang lebih tinggi dan lebih baik dari budaya yang lain. Itu yang selalu saya pegang sampai saat ini.

Baru kemudian beberapa waktu setelah pembicaraan dengan beliau, sepertinya beliau ingin pulang dan kemudian pamit kepada saya. Ughh saya agak lega setelah melalui perdebatan tersebut. Bisik2 kemudian teman2 yang masih disana mengatakan pada saya kalau si bapak itu baru saja sembuh dari depresinya.

Astagah!

Jadi aku tadi ngobrol sama 90% person??

Ok deh pak, tapi yang jelas saya salut sama kegigihan anda. Cuma satu catatannya “ANDA NGGAK SULSEL BANGETT”

*ahikkk

Atraksi Bikin Mual

Pesawat yang kutumpangi kala itu, Lion menuju Yogyakarta.  Tadinya akan landing 30 menit lagi. Biasanya Juanda Yogyakarta ditempuh satu jam saja. Itu menurut pramugarinya saat dia berceloteh sambil nunjukin pelampung nya. Baru inget seorang teman sempat sms suruh ngembat pelampung di pesawat. Jiaahh..

Pemandangan dari langit Yogyakarta memang seger. Banyak hijau-hijuanya, termasuk biru-biru dari segara Kidul milik mbak Nyai Roro Kidul yang cukup melegenda. Seiring itu dilanjutkan dengan pucuk Gunung Merapi, gunung yang notabene milik mbah Marijan. Jadi ingat extra jos saat itu. Pucuk segitiga yang muncul di tengah-tengah awan padat menunjukkan betapa tingginya Gunung yang abis meluluhlantakkan masyarakat seputar Yogyakarta. Namun tiba tiba kembali lagi pemandangan biru, lautan Segara Kidul milik mbak Roro. Loh.. perasaan jadi nggak enak yah. Mual-mual koq jadi menerpa. Nggak seperti biasanya begini naik pesawat mual-mual. Ciyee sombong sekali, emang naik pesawat berapa kali. Hahah

Lah ituh..bolak-balik kulihat Gunung Merapi kemudian kembali disusul dengan pemandangan Segara Kidul. Berkali-kali nggak habis-habis sampai mual mau muntah. Duh Gusti..please anak saya masih kecil-kecil, itu doaku saat itu. Perasaan begitu dahsyat berkecamuk. Ini pesawat koq cuma muter nggak turun-turun. Sudah 8 kali kuhitung pesawat yang kutumpangi ini berputar-putar di langit Yogyakarta. Beberapa penumpang sudah mulai gelisah dan berteriak Allahu Akbar hingga duh Gusti seperti aku.

Namun akhirnya pesawat mulai mendekat landasan. Aku yang dari tadi nunduk mendekat kursi depan karena mualku yang nggak habis-habis akhirnya melihat daratan dari jendela pesawat di sebelahku. Langsung kuberucap Alhamdulillahhhh sepanjang-panjangnya.. Seperti jalan kenangan aja.

Para penumpang pun mulai berkemas-kemas saat pesawat sudah menghentikan mesinnya dan para pramugari sudah memberikan aba-aba agar segera mengemasi bagasi. Termasuk diriku yang dari tadi cuma cemas-cemas ingat anak dan suami, eheh..

Setiba di bandara Adi Sucipto, para penumpang termasuk akyu jalan menuju arrival gate dengan penasaran dan berkeringat dingin.. karena muncul pertanyaan, ada apa dengan pesawat tadi. Koq muter-muter nggak berhenti-berhenti di udara.

Sebuah pertanyaan klise ternyata, mungkin cuma aku yang nggak paham adat, itu bandara adalah bandara militer. Sehingga semua pesawat mau naik atau turun harus ijin. Kalau nggak diijinkan ya teteup muter di atas sono.

Astagah..