Susu Siapa

ASI atau Air Susu Ibu sangat penting bagi bayi usia lahir sampai menginjak 2 tahun. Itupun kalo cukup. Ada juga yang belum nyampe 2 tahun udah habis. ASI mengandung zat2 sehat dan menyehatkan satia bayi di muka bumi ini. Hanya saja kadang ASI belum keluar pada saat usia bayi masih sehari. MAka kadang2 oleh bidannya diberi susu formula. Biasanya sih di klinik2 kebidanan seringkali diberikan susu SGM, susu formula yang sudah lama terkenal yang pabriknya di Yogyakarta itu. Entah kenapa banyak bayi yang suka ma susu ini. Manis kali, lah emang! Waktu udah usia 5 hari, seminggu, dua bulan, si kecil Zulfa Ramadhanty yang lahir 15 Oktober 2006 (pas bulan puasa, makanya namanya Ramadhanty), dia sama sekali nggak mau susu formula. Waduh..

Trus gimana nih, kan mau ditinggal kerja. Ni kerjaan dah nunggu, belum yang semester depan, susun materi semester genap yang bejibun. Kalo ngajar satu mata kuliah mungkin nggak serepot ini. Tapi kalo 3 mata kuliah kayaknya kacau deh.

Mungkin sudah takdirnya kali? Anak kecil tu maunya ya susu ibunya. Dari dulu juga gitu. Belum ada susu formula emang maunya dikasi apa dong..

Hmm baru inget kata Dr.Utami Rusli yang kakaknya Harry Rusli itu. Nah kata beliau ASI bisa disimpen di kulkas. Ini ni, baru ces pleng.

Walhasil ASI ku simpen di kulkas, nanti kalo anaknya mau tinggal direndam sama air anget.

Tappiiii… mana ASI ku, tak cari2 koq nggak ada. Aku nanya2 orang sekantor. Kutanya temen biasanya yang sering bukain kulkas, maklum lihat2 siapa tau perlu diisi lagi dengan sayur2an and buah2an. Tapi beliau nggak tau.

“Ada apa mbak-mbak, lagi nyari apa?. Tau2 ada orang membelakangiku mendekat ke kulkas itu.

“Eh tau susu di gelas nggak?, tanyaku menyeringai.

Dan dengan santainya dia bilang “..sudah kuhabiskan..!

Lah..??? !@#$%^&*()__+

Kucing-kucing Jalanan

Ada sebelas kucing suka nongkrong di depan rumah. Eitts jangan salah, mereka bukan kucingku, tapi juga bukan kucing garong. Mereka hanya kucing jalanan sehingga tidak satupun diantara kesebelasnya memiliki nama resmi.  Sehingga kadang kita di rumah memanggilnya hanya dengan kondisi fisiknya. si telon (berbulu tiga warna), si putih, si kuning, si keple. Si keple itu kucing betina yang jalannya agak terseok.

Diantara ke 11 kucing itu yang kutau hanya ada 2 yang betina, si telon sama si keple. Mungkin karena daya tarik si telon yang lumayan menarik, nggak tau menarik dari sudut pandang perkucingan atau gimana, si telon ini banyak dikejar-kejar oleh 9 kucing jantan yang lain. Yang cukup intensif mengejar si telon adalah si putih dan si kuning. Dua kucing jantan ini bertubuh besar banget hampir seukuran cempe. Aku juga gak tau siapa pemilik dua kucing  super ini. Dari yang kulihat kucing-kucing ini seperti dipelihara bener-bener sama pemiliknya.

Na si telon ini emang bener-bener bikin kedua kucing-kucing jantan ini klepek-klepek. Mereka setiap hari berebut dan bertengkar. Eantah antar dua jantan, atau malah pertengkaran yang melibatkan cinta segitiga. Ciyeh..u

Si telon juga nggak akan grusa-grusu memilih mana yang mana yang akan menjadi kekasihnya, secara dia akan memilih bibit bebet dan bobot. Itulah kenapa dua kucing jantan yang gede ini pada kepingin menarik perhatian si telon, mereka hampir tiap hari datang ngapel si telon. Kadang malah membawa buah tangan, kadang ikan asin, pindang, kerupuk udang, dan atau tulang ayam. Entah darimana mereka dapatin berbagai cinderamata itu. Tapi yang jelas hal ini membuat si telon bingung, mau milih oleh-oleh yang mana. Lah abis dibawaainnya bermacam-macam rasa, kari ayam, bakso, udang dan sapi lada hitam. Kayak mi instan aja.

Si kuning dan si jantan nggak mau tau, yang penting kekasihnya bahagia. Nah karena si telon hanya memilih satu, dia akan melihat performance dua kucing gede ini sekaligus dengan bawaaannya. Akhirnya keputusan si telon jatuh ke si kuning. Dua kucing jantan ini sama besarnya tapi buntut si kuning suka mengembang seperti bulu kucing anggora, sehingga si telon lebih memilih si kuning yang jauh lebih menarik dan suka ngobrak-abrik tempat sampah untuk dapatin oleh-oleh buat si telon.

Nah setelah pilih-pilih memang pilihan jatuh pada si kuning. Si kuninglah yang setiap kali nungguin si telon, duduk-duduk santai di bawah pohon pisang. Mungkin mereka bercengkerama, terdengar dari ekspresinya. Mereka saling pandang dan kadang nyakar. Wah..nyakar??

Mbuh wes kemana arah hubungan perkucingan ini. Salahnya lagi, kenapa aku memperhatikan kucing-kucing itu?

!@#$%^&**)(

Ribet Finger Print

Anda tau finger print atau check clock? Selama berbulan-bulan bahkan sudah menginjak tahun ke 3, urusan finger ini bikin guwe sewot. Dari suaranya saja membuat telinga ini jadi geli-geli gimana gitu. Beberapa mesin check clock yang lain  nempel di dinding-dinding kampus tersebut bisa jadi menjadi saksi bisu tapi bicara satu kalimat ‘Masukkan jari anda’ dan ‘Verifikasi sukses’.  Dia bisu karena hanya mendengar kita menggerutu. Kadang itu si mesin finger ini bilang ‘Waktu scanning terlampaui’ yang menunjukkan bahwa mesin ini gagal menscan jari-jari guwe.

Saat lain guwe pusing karena sudah 7 kali masih saja berbunyi ‘waktu scaning terlampaui’. Secara kadang nyampe kampus yang kebelet pip*s duluan. Dan mesin yang nempel tembok itu sama sekali tidak mau diajak bekerja. Dianya yang diem aja nempel di tembok maen kedip. Dia tidak mau diajak cepat. Belum lagi yang diantri orang di belakang. Bukannya kita lagi yang menggerutu, malah orang lain yang pada ngedumel, dibilang aneh-aneh. Masukkan jari kaki aja mbak. Lhah!

Emang sosialisasi itu perlu, apalagi hubungannya dengan mesin berprogram ini. Nah gara-gara sosialisasi yang kurang mantep, aku dan teman-temanku jadi termakan gosip-gosip mahal. (Biasanya murah) Soalnya telat sedikit, 3 menit misalnya, gaji langsung dipotong 35 ribu, kalau nggak finger sehari dipotong 50 ribu. Beeuddzz.. Jadi miskin dah! Karena ternyata banyak sekali teman-teman kampusku yang rumahnya sangat jauh. Yang tadinya harus berangkat dari rumah pukul 7 misalnya maka harus dirombak ulang dengan berangkat dari rumah jam 6 pagi. What, jam 6 pagi??

Finger masuk jam 7.30 itu sebenarnya tidak akan memberatkan, tapi kalau harus tepat waktu dan sangsi potongan sebanyak itu yang bikin aku dan temen-temen jadi kewalahan. Banyak yang mengeluh nggak sempat mempersiapkan sarapan untuk diri sendiri dan keluarga. Pagi-pagi buta sudah bangun dan mempersiapkan keluarga dan semua yang akan berangkat pagi. masih aja belum bisa memenuhi standar masuk jam 7.30. Walhasil protes-protes mengalir saat akhir bulan teman-teman sudah menerima gaji yang terpotong ludes gegara terlambat. Hahahay..

Lucunya kalau kita masuk sebelum jam 7.30 tidak ada reward, padahal sangsinya ketat. Yang kutau bila terbit sebuah aturan dengan sangsi, maka harus pula ada reward bagi yang berprestasi. Ini mah engga. Yang datang kepagian dijarno ae..khe khe khe.. Apalagi yang pulang kesorean ngak digubris. Wah kecian cekali dwong..! Nah hal-hal seperti itu yang kadang luput dari pemikir-pemikir dan pengambil kebijakan. Belum lagi yang habis finger langsung kabur. Yampun, kalau ini mah nggak bisa diampuni. Lha tapi siapa juga yang mau ngontrol ratusan dosen dan staff itu?

Rektor ta??

Mbuh kah!

Spice Islands

Indonesia is a spice islands.. Katanya.. :p

Anda pasti tau masakan Padang, kadang disebut si Ade sahabatku itu warpad. Hampir semua orang tanpa kecuali menyebut bahwa masakan Padang itu pedas. Memang pedas, namun begitu masih saja orang gemar untuk mengkonsumsinya. Begitu banyak isu menyerang warpad-warpad, tapi tetap tak tergoyahkan. Banyak yang masih datang memilih lauk-lauk lezat di dalamnya. Padahal pedes!

Lalu mungkin anda tau kuliner Blitar yang sangat unik yaitu sayur Blendi. Bukan Bendi loh! Sayur ini cukup unik karena ingredients nya adalah hanya cabe. Benar-benar heboh sayur khas Blitar ini. Isi dari sayur ini hanya cabe dengan bumbu sederhana, bawang putih, bawang merah, dan kadang kencur. Santan juga dibutuhkan disini. Kemudian sayur ini disajikan. Mungkin rasa cabe 500gr itu tidak terlalu membuat penyukanya kepedesan. Tapi mungkin tidak semua kuat mengkonsumsi sayur ini. Kadang kuat makan nya, tapi besoknya? Wah jangan salah. Banyak yang nggak kuat karena sering ke belakang.

Orang Madura pun mengklaim bahwa makanan-makanan mereka adalah yang super pedas, namun demikian tidak semua orang Madura suka pedas. Dan hanya beberapa macam kuliner Madura yang dimasak dengan sejumlah cabe.  Begitu juga dengan orang Makassar. Wah kalau di Makassar memang hampir semuanya adalah penyuka kuliner pedas. Atau minimal mereka akan mempergunakan sambal sebanyak-banyaknya dalam makanan mereka. Coto atau cocolan untuk ikan-ikan bakar, bahkan kue-kue pun dikonsumsi dengan cabe-cabe extra.

Mungkin orang Sunda tidak suka pedes, tapi kalau kita perhatikan mereka selalu menyediakan sambal untuk cocolan. Hal ini karena kuliner Sunda terdapat sayur-sayur mentah yang menjadi pendamping untuk dicocol. Apakah itu dengan ayam maupun ikan. Karena kadang sayur-sayur mentah tersebut berasa alam banget, maka rasa sambalnya harus lebih dominan sehingga rasa-rasa yang ada pada daun sangat perlu ditutup dengan rasa sambal yang ok. Baik pedas maupun biasa.

Kalau orang Ambon, mungkin hampir sama dengan orang Makassar. Mereka penyuka pedas pula. Ada cocolan di kuliner Ambon yang hampir sama dengan di Bali namanya Colo-colo. Semua ingredientsnya tidak dihaluskan dengan mempergunakan ulekan melainkan hanya diiris saja. Di Bali disebut dengan sambal matah, yang artinya dipatah-patah atau dipotong-potong. Di Makassar pun dikenal sambal ini dan berasa super pedas, namanya Dabu-dabu. Sehingga kalau negeri ini disebut dengan spice islands, ya memang!

Mungkin di Lombok yang memiliki nama bahan berasa pedas ini orang-orangnya  justru tidak begitu menyukai masakan pedas. Kangkung yang sangat disuka oleh masyarakat Lombok diolah menjadi pelecing yang notabene mempergunakan cabe sebagai bahan dasarnya, kekhasannya didapat dari terasi yang harus dibakar dan kemudian dicampurkan ke dalam sambal.

Negeri ini memang penuh hal-hal pedas, sambal, cocolan, rawit dan lain-lain. Tidak ada daerah yang dianggap penyuka pedas terbaik. Semua suka dengan caranya masing-masing.

Salam pedassh.. :p

An Nisa Ayat 2

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
(QS: An-Nisaa Ayat: 2)

Ayat Al Qur’an yang satu ini benar-benar bertuah di belahan Jakarta sana. Para artis berlomba-lomba menyantuni anak yatim berdasarkan ketentuan bahwa bila kita menyantuni anak yatim maka pahala yang berlipat akan diterima, doa yang dipanjatkan oleh anak yatim akan dimustajabah. Benar-benar sebuah imbalan yang setara. Anak-anak yatim memang sangat dikasihi oleh Allah yang menyebabkan kita pun harus pula mengasihinya. Anak yatim akan tinggal bersama bukan keluarga bahkan orangtuanya yang sudah tiada. Maka aspek psikologis yang menguasai diri seorang anak yatim pengaruhnya cukup kuat. Terutama dari lingkungan sekitar. Pengaruh-pengaruh positif dan negatif menjadikan anak-anak yatim ini menjalani hidup yang tidak normal dan standar. Seorang yang sadar akan keberadaan anak yatim, bahwa seorang anak yatim perlu dikasihi, perlu disayangi dna diberikan kesempatan yang sama dengan yang lain, akan berusaha sebaik mungkin untuk memfasilitasi hal ini, berdasarkan bunyi ayat An Nisa ayat 2.

Mungkin banyak faktor menyebabkan seseorang menjadi gusar, tidak lagi berbelas kasih, dan lain-lain dikarenakan karakter-karakter yang berbeda menempel pada seorang anak yatim. Tadinya kita ingin memberikan kasih yang lebih, perhatian yang lebih kepada anak-anak tersebut. Namun gegara sekelumit orang dan persitiwa, anak-anak berperasaan sensitif ini menjadi berubah karaekter, kadang menjadi lebih nakal, ataupun pendiam, atau bahkan menjadi lebih mandiri dari teman seusianya.

Kita mungkin sangat menyadari akan keadaan-keadaan seperti ini, dan berusaha untuk itu. Hanya kadang sebagai orang yang lebih tua dari anak-anak ini, banyak pula diantara kita yang tidak memahami psikologi anak yatim. Panti asuhan yang sudah penuh dengan anak-anak ini, adalah salah satu aset dan akses utama para artis untuk meningkatkan performa rangking mereka di layar kaca. Entah maksud mereka akan bagi-bagi rejeki atau karena cari popularitas atau bahkan dua-duanya.

Lucunya lagi EO yang mengkoordinir kegiatan bener-bener bisa ‘memanfaatkan’ kesempatan tersebut. Taruhlah dari mendatangkan anak-anak ini dari lokasi panti, tentu saja tidak mudah. Lalu kemudian menyusun mata acaranya yang sangat banyak kepentingan. Tentunya kepentingannya dengan yang akan memberi santunan. Dalam hal ini adalah artisnya.  Dimulai dari membaca doa-doa hingga membagikan amplop. Kadang diselipkan event-event dramatis karena agar bisa terlihat bagus di depan kamera.

Si Olga contohnya. Ada drama-drama imitasi yang sengaja dibuat agar terkesan memperlihatkan seseorang yang mengasihi anak-anak utamanya anak yatim. Olga yang tidur di lantai dan dikelilingi anak-anaik berseragam. Mereka ada yang memijit kaki dan tangan Olga, dan ada pula yang memegang kepala Olga. Semua berdoa dengan suara nyaring. Olga pun yang mudah sekali meneteskan air mata pun kemudian pelan-pelan menangis menambah haru suasana. Kemudian dilanjut dengan yel-yel anak-anak yang melagukan shalawat dan amin yang dipandu oleh ustadznya, dan anak-anak ini berdiri mengelilingi Olga. Begitu meriah tapi syahdu. Mudah-mudahan ini bukan drama, ini benar-benar muncul dari lubuk hati Olga yang paling dalam. Sehingga memang Olga benar-benar memang ikhlas menyantuni anak-anak. Meski tanpa difasilitasi EO pun.

Amin..

Status Berikan Inspirasi

Ternyata mencari ide untuk menulis dan ngeblog itu susah. Setiap kali akan mengetikkan jari pada tuts keyboard pikiran menjadi kemana-mana. Mata menerawang ke jendela, kepala menjadi kaku di balik kursiku, di belakang meja operator laboratorium bahasa. Berkali-kali tirai terombang-ambing angin di ruang lab ku di lantai dua. Itupun masih saja ku melongo menatap layar compose di dashbor wordpress ku. Weeew..susah memang.

Namun kemudian inspirasi muncul setelah sebuah website Giveaway Sehari Blogger milik bang Abdul Cholik.  Beliau bilang kita mudah sekali mendapatkan inspirasi, dan inspirasi itu bisa dengan mudah didapat dari sekeliling kita saja, nggak jauh-jauh. Kupikir nggak jauh-jauh itu dimana gitu. Di rumah, dah habis ide, di kota sudah habis dipakai orang, di kabupaten kejauhan, di luar kota kapan perginya, di luar negeri in my dream. Lhah! Trus ndik endi??

Ternyata yang dimaksud nggak jauh-jauh amat itu disini, di status facebook. Ya Tuhan, hampir tiap hari aku bikin status, posting foto, tag-tag, even, komen dan segala macam. Tak satupun memberikan inspirasi padaku. Ini berarti sinyal lemot memberikan dampak negatif pada ku, ikutan lemot.  Ok Bang Cholik kupilih salah satu status di facebook yang panen komentar terbanyak selama ini. Maklum lah, saking terlalu jaimnya, jumlah teman facebookku segitu-gitu aja. Jadi mungkin semakin kesulitan diriku untuk memilih status yang mana yang bisa kupergunakan sebagai ide dan inspirasi ngeblogku kali ini.

Aku memang kadang tidak PD untuk menulis sebuah status sehingga jumlahnya pun tak banyak hingga bisa kupilih menjadi ide dan inspirasi ngeblogku. Baru kuingat ada satu yang kutulis disana , sebuah postingan gambar buku PDF. Kucoba menawarkan pada temen-temen facebookku siapa tau ada yang berminat. Wah ternyata komentar-komentar mereka muncul berdesakan, heboh juga. Mungkin karena masih banyak yang membutuhkan buku IELTS, buku selevel TOEFL yang seringkali dipergunakan para siswa untuk melanjutkan ke luar negeri.  Yang unik itu cara mereka memberkan komen, byuh-byuh-byuh.. Kadang bikin stres. Mungkin karena bahasa tulis lebih ‘jleb’ dibandingkan dengan bahasa lisan. Sebagai orang linguistics saya kadang geli sendiri dengan bahasa-bahasa online dan bahasa sms. Sekali lagi semua seperti ‘jleb’ menusuk banget. Itupun juga karena aku hanya menuliskan “Tulis emailnya” sehinggga mereka benar-benar hanya menulis alamat email mereka  di kolom komentar.

IELTS

Picture PDF IELTS pada salah satu status saya di Facebook

Situasi nya jadi lain saat yang menulis komentar adalah orang yang belum saya kenal betul, suddenly ujug-ujug dan moro-moro tau-tau muncul gitu saja. Ada pula orang-orang yang nggak pernah menghubungi, kontak maupun sms. Eh tau-tau muncul..betapa kwagetnya! Hahaha.. Nah belum lagi yang komentar tapi bukan menjawab statusku. Dia malah yang promo web barunya karena melihat jumlah komentator yang lumayan, berharap akan muncul menjadi notifikasi. Masih ada pula yang menanyakan keseriusanku untuk mengirimkan email padanya atau tidak. Lhah??

Masih bagus ada yang menuliskan “jika berkenan”. Wah sungguh tersanjung aku membaca ekspresi kata seperti ini. Dia tidak terlalu mengenalku sehingga muncul kata “jika berkenan”. Urusan mengirim email sungguh sesuatu yang sangat sederhana, “tinggal klik” kita tidak cape dan mengeluarkan keringat. Yang menjadi tidak sederhana itu adalah siapa yan akan kita kirim email tersebut. Jari-jari tak mungkin menjadi asam urat gara-gara hanya menekan tombol send. Namun di balik itu memang panjang ceritanya. Kadang karena salah ketik atau typo, yang ada adalah email tidak tersampaikan. Dan berbalas email dengan mas daemon.

Yeaahh.. *mulet-mulet

Klik publish itu hanya sedetik, seketika itu pula muncul lah artikel manisku di website ini. :D Tapi yang bikin dendam kesumat banting-banting mouse itu seketika itu pula muncul 12 spammer. !@#$%^&*)(

Salah satunya berbunyi tawaran backlink pada obat penghilang bulu ketiak, jiahhh! Perasaan aku nggak pernah pasang tag dan kata kunci penghilang bulu ketiak. Duh jadi pengen mainan santet. Pengen kubalas backlink-backlink berdosa besar ini. Mereka ini yang selalu bikin ku sibuk remove-remove. Buka dashbor seharusnya lekas menulis dan ngeblog. Ini mah engga! Ini yang sibuk remove  spam-spam tak bertuan alias komen gak nyambung.

Status kedua yang kupilih masih saja picture, hal ini karena aku jarang buat status karena ketidak PD an ku. Sehingga picture ke dua ini yang kupilih.

Jackson Five

Jackson Five juga salah satu picture yang sudah bikin ngakak offline

Inilah foto yang kuupload sebagai status di facebook ku hari ini, deskripsinya kutulis “Mak Wok itu ternyata anggota Jackson Five yak?” Mungkin karena baru saja kupasang dua jam yang lalu sehingga baru tiga orang yang like dan seorang yang memberikan komentar, itupun sepupuku sendiri. Hihihi..

Foto ini dibuat oleh temen-temen pasca saat lagi santai di kelas dan kemudian dishare. Termasuk aku salah satunya di dalam gambar itu. Semua orang dibuat ngakak gila setelah melihat foto ini, termasuk saudara-saudara di rumah dan rekan-rekan kerjaku di kampus. Foto ini benar-benar berbicara dan membawa misi standup comedy, SUCI 2015 kayaknya. Temen-temen pascaku benar-benar gokil. Teruskan bro!

Dan Giveaway memang bener-bener menginspirasi. Kalau nggada giveaway nya, sepertinya aku juga susah menuangkan ide. Thank somach yawh..

Malang, 24 Maret 2014

Pasar Gede

Gara-gara trans tipi aku jadi repot-repot ke pasar Gede. Di sela-sela tugas S3 ku yang bejibun, temen-temen pada riweuh ngomongin kuliner pasar Gede Solo yang legendaris. Sebuah pasar yang bangunan gedungnya terlihat nglasik tur kuno. Apalagi makanan-makanan yang dijual disana. Dah pasti kuno juga.

Sebuah meja sempit yang dihuni 4 orang, salah satunya adalah pemilik warung Dawet yang terkenal itu. Ini loh Dawet yang sering masuk tipi yang bikin orang-orang heboh ingin datang ke Solo. Pemiliknya seorang ibu cantik berkulit bersih. Beliau terlihat cukup ramah meladeni para pembelinya. Beliau seperti nya sangat paham kalau kuliner yang dijual cukup terkenal. Beberapa artis dan pakar kuliner pun dah mampir kesana.

Nah mumpung masih di Solo, di sela-sela studiku, kucoba untuk datang ke warung Dawet ibu cantik ini. Warung Dawet yang legendaris karena sering muncul di tipi. Tapi tak selegendaris aku kalau aku belum nyampe disitu. Eeaaaa..

Dawetnya cukup enak meski dipatok lumayan mahal. Dengan harga 9000 rupiah mungkin kalau di Malang dah mblokek-mblokek mangan dawet (muntah dawet). Ada sedikit bubur sumsum, sedikit tape ketan hijau, sedikit tape ketan hitam, dan sedikit selasih. Lalu dituang santan kental. Nah itu aja komposisinya.

Sayang gak kufoto di era socmed yang menggila ini. Maklum hp nya dah udzur, dan kameraku rusak pulak. Yah silahkan dibrowsing dewe mumpung google gak mbayar. Kalau sudah mbayar.. yaahhh. Binun..

Dan akhirnya daripada cuma muter-muter doang di Pasar Gede, dan karena mau mudik juga, jadi beli oleh-oleh sekalian. Rupanya pasar ini bukan really pasar tradisional. Lebih banyak unsur kulinernya ketimbang sayur-sayurannya. Ada juga sih bahan-bahan jejamuan khas Solo. Wah kalau lihat kios-kios jamu heboh banget. Dah heboh bentuknya, heboh pula aromanya. Njamuuuu banget. Sayang nggak tau aturan minumnya. Pengen sebenarnya kulakan jamu trus jualan di Malang. Jamuuuuuuu…

Trus ku borong lah kacang bawang, kacang jeruk purut, kripik ceker, kulit belinjo, srundeng crunchy. Nah loh unik-unik kan. Apalagi kalau bukan Pasar Gede. So jangan tahan-tahan lagi, datanglah ke Solo, ke Pasar Gede. Bakalan nggak kuciwo. Tipsnya hati-hati banyak yang jualan pork. Jadi cari yang aman. Woke?

Anjlog Dari Halte

Anjlok dari Halte

Sedianya waktu itu aku ingin beli tiket ke Rosalia di daerah Gilingan. Daerah yang sebelumnya kutau itu di terminal Tirtonadi. Sayang temenku beritau nya nggak lengkap. Sehingga saat ditanya kernet bis dengan santai kujawab Terminal Tirtonadi.

Dan padahal bukan sama sekali. Huaa..

Rosalia tempatnya jauh sebelum Terminal Tirtonadi. Aku rasanya jadi linglung dirasani para tukang-tukang becak iseng. Saat mau menyeberang berkali mukaku terlihat bego karena tidak mengenal dengan jelas tempatnya yang mana. Hampir aku masuk jalur bis yang khusus menuju Terminal Tirtonadi. Dan aku merasakan hawa tidak enak setelah dirasani sama para becakers. Huhft

Setelah tolah toleh kanan kiri, beberapa kernet yang cari-cari penumpang, tukang ojek yang setengah maksa dan tukang-tukang yang lain sudah mulai rame menarik penumpang, dan aku dikira penumpang. Padahal bukan.  Aku akhirnya memberanikan diri untuk jalan cepat dan lurus tanpa tahu dimana kantor Rosalia itu berada. Hmm biarin dibilang PD. Haha.. Dan ternyata di kejauhan terlihat papan Rosalia meskipun bagiku, aku masih belum yakin karena warnanya blur. Semakin dekat pun juga masih blur. Dasar mata tua terpaksa harus kebelalakkan mata untuk melihat dengan jelas itu papan Rosalia atau pasar, uhuk.

Dan ternyata benar itu adalah agen Rosalia.

Ini cerita suksesnya. Cerita bukan suksesnya adalah dibawah ini.

Saat masih di halte, temenku bilang nanti nyegat bis namanya Jamus ya. Dan aku ingat-ingat nama bis tersebut sampai hapal. Hingga hampir semua bis yang lewat kupantengin sampai kepanasan.  Maklum soalnya takut  nggak dapat bis tersebut. Nah saat dari kejauhan, di bawah lampu kuning depan UNS terlihat bis tersebut, aku segera beranjak dari duduk. Namun ini ternyata di luar dugaan, bis ini tidak mau berhenti karena di depan halte sudah ada bis lain yang ngetem, yaitu bis batik. Yahh terpaksa nunggu bis Jamus lagi datang kembali. Dan sampai setengah jam aku menunggu bi situ datang kembali, baru kemudian bis Jamus yang ketiga baru mau berhenti. Itupun setelah distop dengan cara loncat-loncat. Nah saat bis mendekat, baru kutahu bahwa bis Jamus itu kuecill dan pendekkk.. Aku baru nyadar. Halte ini sama sekali tidak cocok dibangun untuk bis Jamus. Step bus ini sangat pendek dan terlalu dekat dengan jalan, dan jadinya terlalu jauh dengan floor haltenya. Dan apa yang terjadi saudara-saudara..inilah pertama kali aku anjlok dari floor halte yang cukup tinggi itu. Jlokkkk..

Itu suaranya.

Dan dengan bersungut-sungut aku masuk ke dalam bis dengan menahan sakit di telapak kaki, dan paha yang lumayan pegel.

Owalaaa..

Mahasiswa Nasi Kucing

Mahasiswa Nasi Kucing

Studi di UNS ternyata asik. Kampus nya yang seluas kecamatan Lowokwaru itu bikin ragu kalau mau melangkah. Dah kejauhan jalan ternyata salah alamat. Nah loh. Maunya pulang dari gedung pasca menuju gerbang Selatan, eh nyasar di fakultas Kedokteran. Salah belok. Maklum jalan kaki. Dah jalan jauh, naik terjal dan nyasar. Coba kalau bawa mobil, mau nyasar kemana saja enak. Orang tinggal jejek pedal.

Tapi sekarang sudah nyaman, karena sudah kutelusuri semua ujung kampus bersama bis UNS. Lumayan Cuma 1000 rupiah keliling ke seluruh penjuru UNS dan sampai di ujung gerbang UNS satunya. Turun disana dan beli jus di lokasi terdekat, di seberang gerbang. Lalu balik lagi di tempat tunggu bis. Aman dan nyaman nyampe di gerbang depan. Lama-lama jadi terlihat seperti mahasiswa beneran. Hihihi..

Kemudahannya pun memang kuterima dari sejak awal daftar ke Pasca UNS, buka website hingga duduk di depan mbak Angga saat kuliah perdana, mbak Angga yang imut admin progdi Linguistics UNS.

Mahasiswa studi di UNS seperti aku ini sudah terbiasa dengan makan nasi kucing. Dua bungkus untuk dua kali makan. Enak sekali dan irit yang jelas. Cocok kalau mau diet. Nasi kucing sangat legendaris. The legend pokoknya. Entah darimana asal nama kucing ini. Ada yang bilang karena jumlahnya kecil, sedikit. Hanya sesendok nasi ditambah lauk yang juga secuil. Namun jangan dikira nasi ini kekurangan penggemar. Kebanyakan orang beli lebih dari satu. Banyak penjual nasi kucing yang lalu lalang dan juga berhenti di warung. Biasanya warung kopi. Hal ini karena nasi kucing ini tidak terlalu mengenyangkan, disanding dengan secangkir kopi, sepert makan kue saja. Contohnya seperti nasi kucing yang dijual di dekat keraton kesultanan Solo. Keraton yan berdekatan dengan pasar Klewer. Mas Raharjo seorang penjual nasi kucing saat itu, aku datang untuk mencoba wedang jahenya. Aku tau dari banner yang menutupi rombongnya tertulis wedang jahe. Wah enak nih, sambil jalan2 menuju keraton, kusempatkan dulu ngicipi wedang jahe disitu. Ternyata banyak sekali dagangan mas Raharjo disana, gorengan dan lauk pendamping nasi kucing. Beberapa orang yang nongkrong disana kulihat mengkonsumsi nasi kucing hingga 2 bungkus. Mereka memesan wedang jahe juga dan tahu bacem sebagai pendamping nasi kucing. Ada pula sosis Solo yang berisi abon ayam yang cocok pula dimakan bersama nasi kucing. Yang jelas aku bener-bener menikmati makan di rombong mas Raharjo. Pulangnya sempat beli oleh-oleh untuk ibu yaitu rajikan wedang uwuh. Haa.. nggak tau lagi ini minuman apa. Patut dicoba setiba di Malang.

Filosofi nasi kucing bagiku adalah segala kemudahan. Studi di UNS adalah sebuah keniscayaan. Tapi toh kejadian juga. Aku tak mengira kalau bisa nyampe di kota sejarah ini. Saat kucoba untuk propose ke doctoral degree aku tak punya info sama sekali bagaimana studi di sini. Untuk menuju ke kotanyapun aku harus nanya-nanya sana sini. Aku bahkan tak tau kalau bis yang kutumpangi ini akan sampai di Solo pukul 2.30 dini hari. Sehingga pertama kali saat sampai di kampus UNS, yang terlihat jelas hanyalah warung padang Embun Pagi yang masih menyala jelas. Semua di kampus serba gelap. Gerbangnyapun terlihat temaram. Namun dari sejak itu aku sudah merasakan kemudahan, banyak yang membantu tanpa kuminta. Mahasiswaku yang kebetulan lagi studi S2 disana yang carikan aku kost. Belum lagi para pegawai universitas dari satpam, administrasi, dan juga ibu-ibu penjaga taman kampus yang sangat ramah. Semua memberikan kesan indah.

Dan mudah-mudahan filosofi nasi kucing ini akan terus menemaniku sampai selesai program Doktorku nanti. Aminn..

 

Lumpang Watu

Lumpang Watu

Lumpang watu adalah salah satu alat dapur tradisional dari masa lampau. Beberapa keluarga di Jawa terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menyimpan dan memakai batu besar tersebut untuk keperluan dapur. Lumpang berbentuk bulat sebesar separo atau setengah bulatan, lumayan besar, dan terdapat cekungan di tengahnya. Karena bentuknya yang besar, lumpang watu sangat berat dan jarang digeser. Dia pasti diletakkan di sebuah tempat di dapur yang mudah dijangkau, dan tidak terkena cipratan apapun.

Lumpang batu atau watu tersebut seringkali dipergunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras, beras menjadi tepung, dan bijih kopi menjadi kopi bubuk. Ada juga yang mempergunakan lumping ini untuk menumbuk jagung menjadi jagung kerikil atau halus yang dikenal dengan nama mpok. Beberapa keluarga juga masih mempergunakan lumping ini untuk menumbuk bumbu pecel, terutama di daerah Blitar. Orang Blitar yang menyukai sajian bumbu pecel untuk disantap keluarga, kadang masih mempergunakan lumpang ini untuk menumbuk bumbu pecel. Bumbu pecel dari Blitar sangat khas karena rasa pedasnya. Banyak mengandung komposisi gula merah karena warga Blitar juga sejak dulu banyak yang  membuat gula merah sendiri. Gula yang terbuat dari bungga manggar, pohon kelapa.

Untuk membuat tepung beras, beras cukup direndam semalam. Kemudian ditiriskan sampai kering lalu ditumbuk. Tepung ini sering dipergunakan masyarakat Blitar untuk membuat nagasari, peyek dan lain2. Gabah atau bulir padi ditumbuk di lumpang batu ini untuk memisahkan kulit dan bijinya. Yang ini lumayan rumit karena kulit padi agak sulit dipisah dengan bijinya. Kemudian tekstur padinya menjadi pecah-pecah karena terkena tumbukan. Kopi yang akan ditumbuk harus digoreng dengan hati-hati karena apabila salah akan kehilangan rasa kopi aslinya. Kebanyakan kopi tumbuk di daerah Blitar dicampur dengan beberapa komoditi. Pilihannya adalah jagung, karak atau nasi aking, potongan kelapa tua dan kadang beras ketan hitam. Rasa kopi di beberapa daerah di Blitar menjadi beragam dan lumayan lezat.

Lumpang watu sebenarnya telah ada sejak ratusan tahun lalu. Beberapa lumpang watu ditemukan ternyata bukan dipergunakan sebagai bagian dari alat masak tradisional melainkan untuk upacara ritual tertentu. Lumpang watu yang selalu dilengkapi dengan alu (penumbuk) ini banyak ditemukan di kota Malang di beberapa situs-situs kuno. Dari kadar karbon bisa diketahui umur lumpang tersebut dan bisa diketahui bahwa lumpang watu tersebut bukan bagian dari kegiatan dapur tradisional melainkan sebagai bagian dari kegiatan upacara ritual.

Di rumah mbah kakung saya di Jambewangi Wlingi Blitar ada sebuah lumpang watu yang dulu milik mbah putri. Beliau dulu sering mempergunakan lumpang tersebut untuk menumbuk kopi atau beras. Beliau juga kadang mengajak saya untuk menumbuk. Dan saya sangat menikmati kegiatan menumbuk di lumpang milik beliau. Sayang mbah putri sudah sedha. Memori tentang beliau yang mengajarkan saya memakai lumpang tersebut masih ada sampai sekarang. Walaupun lumpang tersebut sudah terpendam separo, di bawah jendela rumah besar mbah kakung di Jambewangi Wlingi Blitar.

Alfatihah untuk mbah Kakung Tahar dan mbah Putri Sofiatun.