
Pertarungan antara bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu di media sosial sulit dielakkan. Siapa yang kuat dialah yang akan menang. Dan fenomena ini mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh tokoh-tokoh tua di Malaysia yang selalu berilusi mengenai tamadu Melayu. Mereka agaknya yakin dengan impian mereka tentang bahasa Melayu. Konsep ini diharapkan bisa disosialisasikan di Indonesia yang bahasanya sudah sangat settled bahkan ditirukan oleh millenial Melayu.
Mereka juga mengais-ngais sejarah bahasa Melayu sebagai Lingua Franca. Padahal bahasa Melayu di wilayah Indonesia telah diangkat menjadi bahasa Indonesia resmi. Halusinasi mengenai Melayu menyebabkan mereka tak sanggup menerima kenyataan ini.
Tapi cara berpikir milenial Malaysia cukup berbeda. Mereka tak terlalu peduli dengan konsep bahasa Melayu resmi Malaysia itu. Mereka lebih berpikir realistis. Karena itu jangan heran kalau kaum muda Malaysia dengan senang hati menggunakan bahasa Indonesia. Padahal mereka tahu bedanya antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu dimana mereka anggap bahasa Indonesia lebih baku dan modern. Adapun bahasa Melayu Malaysia belum baku dan terkesan bahasa kampung,
Dalam pertarungan antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu itu, data di internet dan algoritma tidak bisa dibohongi. Algoritma media sosial selalu memihak pada bahasa yang lebih banyak dipergunakan. Meskipun orang-orang tua melayu mengatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, toh bahasa yang dipergunakan sekarang adalah bahsa Indonesia.
Tak ada gunanya sebenarnya bila tokoh-tokoh Melayu memberi label bahasa Melayu pada bahasa Indonesia di setiap seminar-seminar bahasa.
