Apakah Bahasa Swedia Sudah Sekarat di Finlandia?

Iya. Tidak terlalu cepat, tapi memang begitu. Saya telah tinggal di dalam dan sekitar Helsinki selama 69 tahun. Saya, keluarga saya dan hampir semua teman kami adalah dan selalu penutur bahasa Swedia, tetapi dwibahasa. Saya juga memiliki beberapa teman yang telah pindah ke wilayah ini dari bagian pantai di mana Swedia benar-benar mendominasi, dan mereka merasa jauh lebih sulit untuk berkomunikasi dalam bahasa Finlandia.

Temanku di Swedia berkisah: Ketika saya masih kecil, kami tinggal di sebuah gedung apartemen di Helsinki di mana kebanyakan orang berbicara bahasa Swedia. Anda bisa berbicara bahasa Swedia di setiap toko, di bus dan trem, di department store. Kota ini sebenarnya berfungsi dalam kedua bahasa. Sekolah-sekolah itu dulu, dan masih, Swedia. Ada sekolah terpisah untuk anak-anak berbahasa Swedia. Semua teman sekelas saya berasal dari keluarga berbahasa Swedia, dan Anda tidak mendengar bahasa Finlandia di sekolah pada masa itu. Saya tahu persis tiga kata bahasa Finlandia sebelum saya pergi ke sekolah.

Kami menghabiskan sebagian besar musim panas di sebuah rumah musim panas di kepulauan di luar Helsinki, dan sebenarnya ada keluarga berbahasa Finlandia tidak jauh di pulau lain, tetapi hanya itu. Swedia di sekelilingnya. Kami biasa berlayar selama beberapa minggu setiap musim panas – Anda bisa menghabiskan sebulan berlayar di sepanjang pantai, dan Anda akan mendengar bahasa Finlandia sekali atau dua kali – atau tidak sama sekali.

Orang-orang muda berbahasa Swedia biasanya menikah dengan penutur bahasa Swedia lainnya. Tidak semua orang, tetapi sebagian besar. Itu adalah pertanyaan tentang identitas – Anda ingin anak-anak Anda memiliki latar belakang budaya yang Anda miliki sendiri. Bahasa, buku, cerita, lagu, dll. Karena meskipun perbedaan budaya tidak besar, mereka tetap ada.

Jadi mengapa saya pikir Swedia sekarat? Inilah alasannya: Sebagian besar penutur bahasa Swedia menjalani kehidupan dwibahasa di lingkungan Finlandia. Anda tidak bisa berharap untuk berbicara bahasa Swedia di kota lagi. Banyak layanan publik, yang diwajibkan oleh masyarakat dan negara oleh hukum untuk menyediakan dalam kedua bahasa, dialihdayakan ke perusahaan swasta, dan mereka tidak perlu menyediakan layanan apa pun dalam bahasa Swedia, jadi mereka tidak melakukannya. Sejak tahun enam puluhan dan tujuh puluhan, orang-orang dari pedesaan Finlandia telah pindah ke kota-kota, dan mereka sebagian besar berasal dari bagian Finlandia. Pinggiran kota baru telah dibangun, dan Anda jarang mendengar bahasa Swedia di sana. Ini berarti bahwa persentase penutur bahasa Finlandia telah meningkat di sebagian besar tempat di mana bahasa Swedia dulunya berfungsi dalam masyarakat.

Bahkan di sekolah-sekolah Swedia banyak anak lebih suka bahasa Finlandia, dan berbicara bahasa Finlandia satu sama lain. Jumlah pondok musim panas di nusantara telah meroket, seiring dengan jumlah perahu layar dan perahu motor, tetapi hampir semua orang berbicara bahasa Finlandia saat ini. Jika Anda memulai percakapan dengan seseorang di nusantara hari ini, Anda melakukannya dalam bahasa Finlandia. Itu akan menjadi ide yang tidak masuk akal hanya 50 tahun yang lalu.

 

Perubahan ini telah memengaruhi kebiasaan menikah: ketika Anda biasanya tidak bertemu dengan sebagian besar kandidat berbahasa Swedia lagi, Anda lebih mungkin untuk menikah dengan orang Finlandia jika Anda berbicara bahasa Swedia sendiri. Ini berarti bahwa pernikahan campuran di daerah dwibahasa lebih umum daripada pernikahan antara penutur bahasa Swedia. Sekitar 60% anak-anak dalam keluarga campuran terdaftar sebagai berbahasa Swedia, tetapi di tempat-tempat yang dominan Finlandia mereka tidak akan berakhir dengan identitas berbahasa Swedia, dan bahkan di tempat-tempat dwibahasa hanya beberapa yang akan, dan beberapa tidak.

Di sini kita kembali ke masalah identitas. Jika sebagian besar orang dewasa muda berbahasa Swedia memiliki anak-anak yang mayoritas mendapatkan identitas Finlandia, ini akan menghilangkan populasi dengan identitas berbahasa Swedia hanya dalam beberapa generasi. Ini terjadi lebih cepat di daerah yang didominasi Finlandia, dan lebih lambat di daerah yang didominasi Swedia. Tapi itu terjadi. Dan akan tiba saatnya ketika tidak mungkin lagi untuk mempertahankan legislatif yang menjadikan Finlandia dwibahasa, karena tidak akan ada kebutuhan praktis untuk itu, dan tentu saja tidak ada dukungan politik.

Daerah pesisir berbahasa Swedia akan menderita karenanya, tetapi saya pikir itu tidak dapat dihindari. Ini hanya masalah waktu. Banyak dari tempat-tempat itu akan pindah ke Swedia, seperti yang telah mereka lakukan selama berabad-abad, dan daerah-daerah itu akan berakhir menjadi Finlandia.

Jadi ya, Swedia sekarat di Finlandia.

#findland

#finlandia

#swedia

#swedish

#ikafarihahhentihu

Tak Mengira Bisa Bertemu

Hari ini kota Malang cukup cerah tak menghalangi parade bunga, even tahunan kota Malang. Namun persiapanku untuk melihat pawai tersebut kutinggalkan saja demi untuk menemui sahabat telah berselang 20 tahun ternyata kami tak bertemu. Duapuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang. Aku tak mengira bisa bertemu lagi dengan Ida. Kartu pos terakhir yang dia kirimkan tahun 1994 tak dicantumkan alamat olehnya hingga aku tak bisa membalas kartu pos tersebut. Ida yang juga rindu keluarganya di Surabaya dan neneknya di pulau Sanana Maluku tersebut benar-benar berniat dengan mengumpulkan energi yang cukup untuk bisa sampai di Indonesia. Suaminya Mr. Rof dan kedua anak-anaknya yang lucu Hanes dan Adam, cukup susah menyesuaikan suhu kota Malang yang hangat. Di Swedia, suhu 18 C itu sudah lumayan hangat. Walhasil mereka kepanasan berada disini. Kipas Angin di resto Inggil ternyata tidak mampu mendinginkan keluarga kecil Ida.Kita bertemu disini dengan teman sekelas juga, Furqon Fahimi yang akrab disapa Iim, datang bersama keluarga kecilnya juga, cukup rame tapi haru. Aku tak bisa menahan tangis dan kukatakan pada suami Ida betapa ini sunggu ajaib bisa bertemu lagi. Ida yang berada di bumi bagian mana, dan aku di bagian mana..ini sudah tak kupahami lagi. Sahabatku Endang di Bali juga sangat merindukan bertemu dengan Ida. Pertemuanku berempat tahun 1993 di alun-alun kota Malang, aku, Ida, Endang dan calon suami Ida waktu itu. Ida yang bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus, iseng bertanya dengan seorang bule yang nggak tau nyasar atau sekedar jalan sehat di kota Malang. Kota yang saat itu belum begitu populer, hanya adem ayem saja, nggak mengira kalau ada bule yang nyasar, dan kita yang iseng.Kita yang lagi menyelesaikan kuliah di FKIP bahasa Inggris UMM waktu itu juga lagi iseng jalan-jalan di alun-alun dan kemudian nyamperin si bule. Dalam hati “wah itung-itung praktek bahasa inggris neh..”Setelah haha hihi memperkenalkan diri, entah kenapa tau tau Ida dan si bule menjadi akrab. Dan tak lama kemudian aku mendapat undangan untuk datang Surabaya untuk menghadiri pernikahan Ida dan Mr. Rof. Begitu hebat pernikahan dua negara ini hingga semua jajan dan sajian di meja ditancapkan dua buah bendera mini, bendera Swedia dan Indonesia. Tak lama setelah itu aku sudah tak pernah mendengar kabar dari Ida lagi. Oleh karena itu kuingin ucapkan thanks to facebook yang telah mempertemukan kita kemba