Apa Perbedaan Antara Metafora Dan Personifikasi? Ada Contoh yang Bagus?

Dalam personifikasi, sesuatu yang bukan manusia dibayangkan sebagai manusia dan diberi karakteristik manusia. Ini sering dilakukan untuk benda mati serta untuk konsep dan abstraksi.

Misalnya, dalam kalimat: “Kemalangan menguntit kakek saya sepanjang hidupnya,” kemalangan dibayangkan sebagai orang yang menguntit (mengikuti atau mengejar atau mengejar) kakek saya.

Contoh lain: Jika seorang penulis menggambarkan hujan badai dengan kata-kata: “Langit menangis,” dia akan mempersonifikasikan langit (langit) dengan menciptakan gambar langit yang menangis (hujan adalah air mata yang jatuh dari “mata” langit).

Berikut adalah contoh lain: Dalam bahasa Inggris, kita memiliki pepatah terkenal, “Keberuntungan berpihak pada yang berani.” Di sini, keberuntungan dipersonifikasikan, yaitu, dibayangkan sebagai manusia dengan pikiran yang dapat memberikan kebaikan kepada orang dan benda—atau menahan bantuan, jika itu yang dipilihnya untuk dilakukan. Keberuntungan dikatakan memberikan kebaikan kepada mereka yang berani, seperti halnya seorang raja, misalnya, mungkin memberikan kebaikan kepada salah satu jenderalnya,  atau pada seseorang yang menyenangkannya dalam kerajaannya.

Dalam Romeo dan Juliet, Shakespeare menulis: “Bangkitlah, matahari yang cerah, dan bunuh bulan yang iri, / Yang sudah sakit dan pucat karena kesedihan ….” Di sini, Shakespeare melambangkan matahari dan bulan. Dia membayangkan matahari sebagai orang yang akan membunuh bulan. Demikian pula, dia membayangkan bulan sebagai orang yang iri hati yang sedih dan karena itu sakit dan pucat.

Dalam metafora, sesuatu disajikan atau digambarkan dalam hal sesuatu yang lain yang memiliki beberapa karakteristik penting yang sama dengan hal aslinya.

Misalnya, jika seorang penulis menggambarkan orang tua berada di malam hari dalam hidupnya, penulis menggunakan malam sebagai metafora. Di sini, “malam” digunakan sebagai metafora untuk usia tua. Sama seperti malam tiba di penghujung hari, demikian pula usia tua datang di akhir kehidupan seseorang. Elemen umum inilah  yang menghubungkan usia tua dan malam hari dan menjadikan malam sebagai metafora yang cocok untuk usia tua.

Dalam metafora, tidak ada persyaratan bahwa gambar yang digunakan harus diperlakukan atau digambarkan sebagai pribadi. Sesuatu dapat digunakan sebagai metafora untuk seseorang; Seseorang dapat digunakan sebagai metafora untuk suatu hal.

Misalnya, dalam Romeo dan Juliet, Shakespeare menulis: “Cahaya apa yang menembus jendela di sana yang pecah? / Itu adalah timur, dan Juliet adalah matahari.” Di sini, Shakespeare menggunakan matahari (benda) sebagai metafora untuk Juliet (seseorang). Dia cerah dan bersinar, seperti matahari yang cerah dan bersinar. Shakespeare menggunakan karakteristik umum ini untuk menciptakan metaforanya tentang Juliet sebagai matahari.

Di sisi lain, dalam Soneta 18, Shakespeare menulis: “Kadang-kadang terlalu panas mata surga bersinar ….” Di sini, dia menggunakan mata (bagian dari tubuh manusia) sebagai metafora untuk matahari (sesuatu), bahkan tanpa menyebutkan matahari atau mengatakan bahwa matahari adalah mata langit. Dia hanya menyebutnya sebagai “mata langit” dan kita tahu dari konteksnya bahwa dia mengacu pada matahari. Metafora hanya diganti dengan hal yang diperjuangkannya.

#stylistics

#stilistika

Archaeolinguistics: Kunjarakarna Series Dua Larik

Relief Kunjarakarna di Candi Jago Malang

Teks Kunjarakarna Dharmakathana gubahan Mpu Dususn larik ke 31

Bahasa Jawa Kawi:

Katub denin barat teduh lisus haliwerana wriwrin tikan widatih tengor larap bwar teg ger

Bahasa Indonesia oleh William Van der Molen

Badai bertiup membawa hujan dan angin rebut. Widatih berseliweran kian kemari ketakutan. Byar.. dar.. der.. dor...

Dalam larik ini terdapat kata dengan menggunakan majas Snapshot yaitu pada kata ‘byar.. dar.. der.. dor..’, kata sebagai tembakan tiba-tiba untuk memperkuat dan menghidupkan suasana, meskipun hanya penulis yang tau artinya kalimat ellipsis dengan struktur tidak lengkap. Kata-kata tersebut menggambarkan keadaan saat Kunjarakarna datang mengunjungi lokasi para dewa berada. Kedatangan Kunjarakarna yang makhluk raksasa tersebut membuat keadaan seisi kahyangan menjadi rusak dibuatnya.

Teks Kunjarakarna Dharmakathana larik 39

Bahasa Jawa Kawi:

Gerenjen byar ls lumampah san kunjarakarnna ya ta minta r ikan babahan wintan swaken.

Bahasa Indonesia oleh William Van Der Molen

Grenjeng.. byar.. les.., berjalanlah Kunjarakarna pada pintu ia minta agar boleh terus.

Dalam larik 39 terdapat kata dengan menggunakan majas Snapshot yaitu pada kata ‘grenjeng.. byar.. les’, kata sebagai tembakan tiba-tiba untuk memperkuat dan menghidupkan suasana, meskipun hanya penulis yang tau artinya kalimat ellipsis dengan struktur tidak lengkap. Kata -kata ini masih juga menggambarkan sosok raksasa Kunjarakarna  dengan fisik seperti itu memberikan dampak yang luar biasa hingga terdengar atau muncul kata-kata grenjeng.. byar.. les.. Setiap gerakan Kunjarakarna melangkah atau bergerak menimbulkan dampak yang luar biasa. Ini adalah ciri khas sosok yaksa yang bertubuh besar luar biasa hingga menggerakkan seisi alam.

Kunjarakarnna haminta ri ka babahan huduh ta pwakulun wanaken ta r ikan lawan  tap grenjen byar lawnan mena r ikan babahan winalinnya dalam marin swargga

#kunjarakarna

#stilistika

#gayabahasa

#majas

#mpudusun

#archaeolinguistics