Bahasa yang Paling Sulit Dipelajari di Dunia dan Alasan di Baliknya

Menurut Foreign Service Institute (FSI) Amerika Serikat, bahasa-bahasa yang paling sulit bagi penutur bahasa Inggris termasuk dalam Kategori IV atau “super-hard languages”, yaitu Mandarin, Arab, Jepang, dan Korea yang memerlukan sekitar 2.200 jam pelajaran untuk mencapai kemahiran profesional. Bahasa Mandarin sering menduduki peringkat teratas karena sistem nada (tone) yang terdiri dari empat nada utama plus nada netral, di mana pengucapan yang salah dapat mengubah arti kata sepenuhnya—misalnya, “ma” dapat berarti ibu, kuda, hempedu, atau memar tergantung intonasinya. Selain itu, sistem tulisan Hanzi yang logografis mengharuskan pelajar menghafal ribuan karakter, masing-masing memiliki makna dan sering kali pengucapan yang berbeda. Kompleksitas ini diperburuk oleh kurangnya kesamaan kosakata dengan bahasa Indo-Eropa, sehingga pelajar harus membangun fondasi dari nol tanpa bantuan cognates. Faktor budaya dan konteks penggunaan juga menambah tantangan, karena pemahaman bahasa Mandarin tidak hanya melibatkan tata bahasa melainkan juga norma sosial yang halus. Penelitian linguistik menunjukkan bahwa otak pelajar non-native harus mengembangkan kemampuan baru dalam pemrosesan auditif dan visual yang jauh berbeda dari bahasa alfabetik.

Bahasa Arab menyusul sebagai salah satu yang paling menantang karena sistem tulisannya yang berbasis abjad konsonan, di mana vokal sering tidak ditulis dan harus ditebak dari konteks. Bahasa ini memiliki akar kata (root system) yang unik, di mana tiga konsonan dasar dapat menghasilkan puluhan kata turunan dengan makna terkait, tetapi memerlukan pemahaman mendalam tentang pola morfologi. Variasi dialek yang ekstrem antar negara—dari Modern Standard Arabic (MSA) yang digunakan di media hingga dialek sehari-hari seperti Mesir atau Levantine—membuat pelajar harus menguasai dua varian secara bersamaan. Pengucapan huruf seperti ‘ayn, ghayn, dan qaf sulit bagi penutur bahasa Indonesia atau Inggris karena melibatkan bunyi tenggorokan yang jarang ada di bahasa ibu mereka. Selain itu, arah tulisan dari kanan ke kiri dan aturan gramatika yang melibatkan jenis kelamin, angka, dan kasus menambah beban kognitif. Studi menunjukkan bahwa pelajar membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kefasihan membaca dan mendengar karena kekayaan sastra dan retoris yang mendalam dalam tradisi Arab.

Bahasa Jepang dan Korea juga termasuk dalam kelompok tersulit karena kombinasi sistem tulisan dan struktur gramatika yang unik. Jepang menggunakan tiga sistem tulisan sekaligus: Hiragana, Katakana, dan Kanji (ribuan karakter yang diadopsi dari Hanzi tetapi dengan pengucapan dan makna yang berbeda). Tata bahasa Jepang bersifat aglutinatif dengan partikel yang menunjukkan fungsi kata, serta tingkat kehalusan (honorifics) yang rumit berdasarkan hierarki sosial. Sementara itu, bahasa Korea memiliki Hangul yang fonetis dan relatif mudah dipelajari, tetapi gramatikanya sangat bergantung pada konteks, sistem honorifik yang lebih kompleks, dan urutan kata yang fleksibel. Kedua bahasa ini minim kesamaan dengan bahasa-bahasa Austronesia atau Indo-Eropa, sehingga transfer skill linguistik hampir tidak ada. Faktor psikologis seperti motivasi dan paparan budaya pop (anime, K-drama) dapat membantu, tetapi penelitian kognitif menegaskan bahwa memproses kanji atau pola kalimat Korea memerlukan adaptasi neural yang signifikan. Bahasa-bahasa seperti Hungaria, Finlandia, dan Basque juga sering disebut sulit karena gramatika aglutinatif ekstrem dan kosakata non-Indo-Eropa, meski jumlah penuturnya lebih sedikit.

Secara keseluruhan, kesulitan mempelajari bahasa tidak hanya ditentukan oleh jarak linguistik melainkan juga oleh faktor neuropsikologis, budaya, dan lingkungan belajar. Kemajuan teknologi seperti aplikasi berbasis AI, imersi virtual reality, dan metode pengajaran berbasis bukti telah mengurangi waktu yang dibutuhkan, namun tidak menghilangkan tantangan mendasar. Bagi penutur bahasa Indonesia, kesulitan bisa sedikit berkurang pada aspek fonetik tertentu, tetapi tetap tinggi pada sistem tulisan dan nada. Memahami alasan di balik kesulitan ini tidak hanya membantu calon pelajar mempersiapkan strategi yang tepat—seperti fokus pada nada terlebih dahulu untuk Mandarin atau latihan mendengar dialek untuk Arab—melainkan juga memberikan apresiasi lebih dalam terhadap keragaman bahasa manusia sebagai cerminan kompleksitas pikiran dan budaya. Dengan dedikasi dan pendekatan yang tepat, bahkan bahasa tersulit sekalipun dapat dikuasai, membuka pintu pemahaman global yang lebih luas.

#bahasa

#mandarin

#arabic

#japanese

#ikahentihu

Perbedaan Antara Bahasa Mandarin dan Bahasa Kanton: Dua Bahasa dalam Satu Negara

Bahasa Mandarin dan bahasa Kanton merupakan dua varietas utama dalam rumpun bahasa Tionghoa yang sering kali disalahpahami sebagai sekadar dialek yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan sehingga penutur satu bahasa sulit memahami yang lain tanpa pembelajaran khusus. Bahasa Mandarin, atau Putonghua, adalah bahasa resmi Republik Rakyat Tiongkok, Taiwan, dan Singapura, dengan lebih dari 1,1 miliar penutur secara global, menjadikannya salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di dunia. Sementara itu, bahasa Kanton (Yue) memiliki sekitar 80-85 juta penutur, terutama di provinsi Guangdong, Hong Kong, Makau, serta komunitas diaspora Tionghoa di Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Barat. Di Indonesia, komunitas keturunan Tionghoa sering menggunakan Kanton dalam kehidupan sehari-hari atau bisnis, sementara Mandarin semakin populer melalui pendidikan dan hubungan ekonomi dengan Tiongkok daratan. Keberadaan kedua bahasa ini dalam satu negara besar seperti Tiongkok mencerminkan kekayaan linguistik sekaligus tantangan integrasi nasional.

Perbedaan paling mencolok antara Mandarin dan Kanton terletak pada sistem pengucapan dan nada. Mandarin memiliki empat nada utama ditambah satu nada netral, yang membuatnya relatif lebih sederhana bagi pemula. Sebaliknya, Kanton memiliki enam hingga sembilan nada, termasuk tiga nada masuk (entering tones) yang berakhir dengan konsonan hentian seperti -p, -t, atau -k. Nada yang lebih banyak ini membuat Kanton terdengar lebih melodi dan kompleks, mirip dengan bahasa-bahasa di Asia Tenggara. Selain itu, sistem konsonan dan vokal juga berbeda; Kanton mempertahankan lebih banyak bunyi akhir suku kata kuno yang sudah hilang di Mandarin. Contoh sederhana: salam “hello” dalam Mandarin adalah “nǐ hǎo” (你好), sementara dalam Kanton menjadi “néi hóu” (你好). Perbedaan ini bukan hanya soal aksen, melainkan membuat keduanya hampir tidak saling dimengerti (mutual intelligibility rendah), seperti perbandingan antara bahasa Spanyol dan Prancis. Meski demikian, tata bahasa dasar keduanya relatif mirip, dengan urutan kalimat subjek-predikat-objek.

Dari segi tulisan, kedua bahasa menggunakan aksara Han (Chinese characters), tetapi dengan variasi yang signifikan. Mandarin di Tiongkok daratan mayoritas menggunakan aksara sederhana (simplified characters) yang diciptakan untuk meningkatkan melek huruf massal, sehingga lebih sedikit goresan dan mudah dipelajari. Kanton, terutama di Hong Kong dan Makau, lebih sering menggunakan aksara tradisional (traditional characters) yang lebih rumit dan mempertahankan bentuk klasik. Meski demikian, banyak teks formal ditulis dengan cara yang bisa dipahami kedua belah pihak, meskipun pengucapannya berbeda. Kosakata dan idiom juga sering berbeda; Kanton banyak menyerap kata pinjaman dari bahasa Inggris karena sejarah perdagangan Hong Kong, sementara Mandarin lebih dipengaruhi standarisasi pemerintah. Contohnya, kata untuk “makan” dalam Mandarin adalah “chī fàn” (吃饭), sedangkan Kanton menggunakan “sik6 faan6” (食飯) yang lebih dekat dengan bentuk kuno. Perbedaan ini mencerminkan sejarah panjang divergensi linguistik antara utara dan selatan Tiongkok.Di Tiongkok, kebijakan bahasa nasional mempromosikan Mandarin sebagai alat pemersatu bangsa, terutama sejak era reformasi. Hal ini membuat Kanton semakin tertekan di daratan utama, meski tetap hidup kuat di Guangdong dan komunitas diaspora. Di Hong Kong dan Makau, Kanton tetap menjadi bahasa sehari-hari dan media, bahkan setelah penyerahan kedaulatan. Di Indonesia, komunitas Tionghoa yang mayoritas berasal dari Guangdong atau Fujian sering mempertahankan Kanton atau dialek lain seperti Hokkien dalam keluarga dan bisnis, sementara generasi muda kini banyak belajar Mandarin untuk peluang ekonomi. Perbedaan ini tidak hanya linguistik, melainkan juga budaya: Kanton identik dengan film Hong Kong, dim sum, dan budaya pop Cantopop yang pernah mendunia, sedangkan Mandarin mewakili kekuatan politik dan ekonomi Tiongkok modern. Tantangan muncul ketika kedua komunitas berinteraksi, di mana code-switching atau campur bahasa sering terjadi.

Meskipun berbeda, Mandarin dan Kanton bukanlah musuh, melainkan bagian dari kekayaan budaya Tionghoa yang saling melengkapi. Banyak orang belajar keduanya untuk alasan praktis: Mandarin untuk bisnis global dan pendidikan, Kanton untuk warisan keluarga atau budaya pop. Di era digital, aplikasi pembelajaran dan konten media sosial memudahkan pelestarian keduanya. Pemerintah Tiongkok dan wilayah otonom seperti Hong Kong dapat terus mendukung multilingualisme tanpa mengorbankan identitas lokal. Bagi Indonesia, memahami perbedaan ini penting mengingat hubungan ekonomi yang erat dengan Tiongkok dan keberadaan komunitas Tionghoa yang signifikan. Dengan pendekatan yang bijak, perbedaan antara Mandarin dan Kanton justru dapat menjadi jembatan pemahaman antarbudaya, bukan pembatas. Dua bahasa dalam satu negara ini mengingatkan kita bahwa keberagaman linguistik adalah aset, bukan ancaman, selama kita mau menghargai dan mempelajarinya.

#mandarin

#kanton

#hongkong

#tionghoa

#ikahentihu

Difference Between Chinese and Cantonese: Two Languages in One Country

Chinese and Cantonese are the two main varieties in the Chinese language family that are often misunderstood as simply the same dialect. In fact, the two have significant differences that make it difficult for speakers of one language to understand the other without special learning. Chinese, or Putonghua, is the official language of the People’s Republic of China, Taiwan, and Singapore, with more than 1.1 billion speakers globally, making it one of the most widely spoken languages in the world. Meanwhile, Cantonese (Yue) has about 80-85 million speakers, mainly in the provinces of Guangdong, Hong Kong, Macau, as well as Chinese diaspora communities in Southeast Asia including Indonesia, Malaysia, and Western countries. In Indonesia, communities of Chinese descent often use Canton in daily life or business, while Mandarin is growing in popularity through education and economic ties with mainland China. The existence of these two languages in one big country like China reflects the linguistic richness as well as the challenge of national integration.

The most striking difference between Mandarin and Cantonese lies in the pronunciation and tone systems. Mandarin has four main notes plus one neutral note, which makes it relatively simpler for beginners. In contrast, Cantonese has six to nine tones, including three entering tones that end in a stop consonant such as -p, -t, or -k. This more tone makes Cantonese sound more melodic and complex, similar to languages in Southeast Asia. In addition, the consonant and vowel systems are also different; Cantonese retains more of the ancient syllable ending sounds that have been lost in Mandarin. A simple example: the greeting “hello” in Mandarin is “nǐ hǎo” (你好), while in Cantonese it becomes “néi hóu” (你好). This difference is not only a matter of accent, but makes the two almost incomprehensible (mutual intelligibility is low), such as the comparison between Spanish and French. However, the basic grammar of the two is relatively similar, with subject-predicate-object sentence sequences.

In terms of writing, both languages use the Han script (Chinese characters), but with significant variations. Mandarin in mainland China mostly uses simplified characters that were created to improve mass literacy, so there are fewer scratches and easier to learn. Cantonese, especially in Hong Kong and Macau, often use more complex traditional characters and retain the classic form. However, many formal texts are written in a way that both parties can understand, even if the pronunciation is different. Vocabulary and idioms are also often different; Canton absorbs a lot of borrowed words from English due to Hong Kong’s trade history, while Mandarin is more influenced by government standardization. For example, the word for “eat” in Mandarin is “chī fàn” (吃饭), while Cantonese uses “sik6 faan6” (食飯) which is closer to the ancient form. In China, national language policies promote Mandarin as a tool for national unity, especially since the reform era. This made Canton even more depressed on the mainland, despite remaining strong in Guangdong and the diaspora community. In Hong Kong and Macau, Canton remained the vernacular and media, even after the handover of sovereignty. In Indonesia, the majority Chinese community from Guangdong or Fujian often maintains Cantonese or other dialects such as Hokkien in their families and businesses, while the younger generation is now learning a lot of Mandarin for economic opportunities. These differences are not only linguistic, but also cultural: Canton is synonymous with Hong Kong movies, dim sum, and Cantopop pop culture that once went global, while Mandarin represents the political and economic power of modern China. Challenges arise when the two communities interact, where code-switching or language mixing is common.

Although they are different, Mandarin and Canton are not enemies, but part of a rich Chinese culture that complements each other. Many people learn both for practical reasons: Mandarin for global business and education, Cantonese for family heritage or pop culture. In the digital era, learning applications and social media content make it easier to preserve both. The Chinese government and autonomous regions such as Hong Kong can continue to support multilingualism without sacrificing local identity. For Indonesia, understanding these differences is important given its close economic ties with China and the existence of a significant Chinese community. With a wise approach, the differences between Chinese and Cantonese can actually be a bridge of intercultural understanding, not a barrier. These two languages in one country remind us that linguistic diversity is an asset, not a threat, as long as we are willing to appreciate and learn about it.

#canton

#mandarin

#chinese

#china

#ikahentihu

 

Kesalahpahaman Apa Yang Dimiliki Pelajar Bahasa Asing Tentang Bahasa Mandarin?

  1. Bahasa Cina paling sulit dalam nadanya

Nada kemungkinan besar adalah rintangan pertama yang dihadapi pelajar asing dalam pembelajaran bahasa Mandarin. Secara intuitif, itu menjadi elemen bahasa Mandarin yang paling banyak dikeluhkan.

Orang sering berpikir bahwa penutur asli menghabiskan banyak energi untuk berurusan dengan nada ketika kita berbicara. Itu tidak benar.

Kita tidak memikirkan nada ketika kita berbicara. Nada adalah bagian alami dan terintegrasi dari karakter. Mereka juga tidak seketat itu. Dialek yang berbeda menggunakan serangkaian nada yang berbeda, dan kita dapat berkomunikasi dengan baik satu sama lain.

  1. Bahasa Mandarin tidak memiliki tata bahasa/tata bahasa yang sangat sederhana

Tata bahasa Mandarin sulit dipelajari. Kebanyakan orang mengklaim itu hanya karena mereka belum sampai ke bagian yang sulit. Ingat, ini adalah bahasa konteks tinggi.

Saya akan memberi Anda contoh. Istri saya memasang lampu penginderaan gerak di luar apartemen kami, dan saya pergi membuang sampah. Ketika saya kembali, lampu menyala. Dia bertanya apakah lampu itu berfungsi, dan seberapa terangnya. Berikut percakapan dalam bahasa Mandarin:

Istri saya: 灯亮吗?

Saya: Cerah.

Istri saya: 那它亮吗?

Saya: Cukup cerah.

“Apakah lampu menyala? (Apakah itu berhasil)” ditanyakan dengan cara yang persis sama dengan “apakah itu cerah?”.

Tapi tidak ada kesalahpahaman, mengapa? Karena 1) kita berasumsi bahwa pertanyaan pertama telah diakui dan dijawab, sehingga pertanyaan kedua harus tentang sesuatu yang lain; 2) Saya menjawab “itu bisa dinyalakan” di pertanyaan pertama, yang tidak mengatakan apa-apa tentang seberapa terang itu. Jadi dia melengkapi pertanyaan kedua, untuk mendisambiguasi tentang kecerahan. Seandainya saya menjawab “cukup terang” untuk pertanyaan pertama, dia tidak akan bertanya untuk kedua kalinya, karena lampu hanya bisa terang ketika sudah bekerja.

Liàng【亮】bisa berupa “jika menyala” atau “seberapa terang sesuatu”. Yang mana artinya dalam sebuah kalimat sepenuhnya tergantung pada konteksnya. Dalam bahasa Inggris ada “menyala” dan “terang” untuk disambiguasi itu.

(Konteks: ketika saya kembali ke rumah, untuk istri saya yang baru saja memasang lampu, ada dua kemungkinan hal yang dia pedulikan: 1) Apakah lampu itu berfungsi; 2) Jika berhasil, seberapa cerah itu. Cara dia bertanya adalah cara yang bisa berarti keduanya. Saya berasumsi 1) menjawab. Dia menanyakan pertanyaan yang sama lagi, saya tahu dia ingin tahu 2) juga. Saya menjawab.)

Itu pasti terdengar rewel bagi pelajar bahasa Mandarin. Tapi tunggu! Anda juga memiliki konsep serupa. “Bank berada di sisi lain bank” misalnya. Kadang-kadang terjadi dalam bahasa Inggris, hanya saja skenario yang bergantung pada konteks semacam ini bukan hanya kejadian langka dalam bahasa Cina, tetapi sebenarnya adalah bagian dari bahasa.

Semua elemen tata bahasa Cina mengarah pada konteks. Seandainya saya tidak menceritakan kisah istri saya memasang lampu, akan sulit bagi Anda untuk menyimpulkan apa yang terjadi dan mengapa dia menanyakan pertanyaan yang sama dua kali dan saya menjawab secara berbeda, dan masih masuk akal bagi kami berdua. Tetapi jika Anda sangat akrab dengan bahasa Cina, Anda akan dapat membuat deduksi, dan membuat skenario yang mungkin hanya berdasarkan percakapan ini.

Contoh bagaimana konteks bekerja, ketika dua orang bertemu, satu bertanya: “你吃过饭了吗”, versus yang satu bertanya “你吃上饭了吗”, dan saya kebetulan mendengarnya. Apa bedanya dan asumsi apa yang bisa saya buat?

你吃过饭了吗 adalah sapaan sederhana, penanya hanya ingin melakukan percakapan.

你吃上饭了吗 adalah sapaan sederhana yang serupa. Tapi saya segera tahu bahwa kedua orang ini telah bertemu setidaknya satu kali sebelumnya, dan telah menanyakan pertanyaan yang sama, dan jawaban dari orang lain adalah “Tidak, saya belum.” Semua berkat “akhiran kata kerja perubahan status” shàng【上】.

Pemahaman yang benar tentang fenomena ini harus: “tata bahasa Cina implisit”. Dan itu membuat mempelajarinya bahkan lebih sulit daripada menulis karakter dan mempelajari nada.

  1. Bahasa Mandarin tidak memiliki tense

Pemahaman yang benar adalah “kata kerja Cina tidak dapat dikonjugasi”. Mereka tidak dapat dikonjugasi.

Orang sering mengatakan “做了” adalah bentuk lampau dari “做”. Tapi itu tidak akurat.

Le【了】digunakan setelah kata kerja menandakan bahwa tindakan telah selesai.

Guò【过】digunakan setelah kata kerja menandakan bahwa tindakan itu terjadi di masa lalu.

Tunggu, Anda mungkin berkata, bukankah ini sama?

Yang terbaik adalah tidak memikirkan konsep bahasa Inggris ketika Anda belajar bahasa Mandarin (atau bahasa lain dalam hal ini). Bahasa Cina memang memiliki tense karena dengan menambahkan komponen tata bahasa ke kata kerja, arti kata kerja berubah, dan itu termasuk tense.

“Selesai” dapat terjadi di masa depan, misalnya: 等你交了钱我就发货 (Setelah Anda membayar, saya akan melakukan pengiriman.) Ketika belum selesai: 你在等什么?等你交钱。 (Tunggu apalagi? Bagi Anda untuk melakukan pembayaran.)

Bersama-sama itu membuat ini:

你在等什么?Tunggu apalagi?

等你交钱。 Menunggu Anda membayar.

我交过了。 Saya sudah melakukan pembayaran.

Lakukan sesuatu di masa lalu.

Lakukan sesuatu yang telah selesai.

Lakukan sesuatu di masa lalu selesai.

Mereka adalah contoh bagaimana ketegangan bekerja dalam bahasa Cina. Prinsip yang sama berlaku untuk dugaan future tense dari bahasa Cina “要/将/会+verb”, mereka tidak persis future tense bahasa Inggris Anda, tetapi hanya berarti “Seseorang ingin, seseorang akan”. Ya, itu bekerja dengan cara yang sama, tetapi tidak ada konjugasi kata kerja yang terlibat.

  1. Karakter Cina sangat sulit dipelajari karena tidak ada pola untuk diingat

Pastikan Anda mulai dengan radikal terlebih dahulu. Mereka adalah komponen dari sebuah karakter. Ada “radikal fonetik【声旁】” dan “radikal definisi【部首】”.

Bersama-sama mereka membuat mayoritas karakter tidak peduli seberapa rumitnya. Anda dapat menebak fonetiknya dari radikal fonetik, dan Anda dapat menebak artinya dari definisi radikal.

Dengan kata lain, jika Anda berpikir untuk mempelajari 10 ribu karakter, Anda perlu mengulangi prosesnya 10 ribu kali, dan tidak akan ada cukup waktu dalam hidup Anda untuk mempelajari semuanya, itu salah. Pada kenyataannya, mempelajari hanya 3.000 bisa lebih dari cukup untuk dilakukan, dan juga membuat mempelajari karakter lainnya semakin mudah.

Meskipun banyak kerja keras, itu bukan “tidak mungkin”.

  1. Kata Cina untuk menghentikan terdengar seperti nig*er

Itu hanya berlaku untuk aksen utara. Selain itu, kami memiliki banyak kata-kata lain yang menghambat, bervariasi berdasarkan dialek. Sejujurnya, ini lebih seperti lelucon, Anda harus memiliki selera humor untuk mendapatkannya.

  1. Orang Cina harus belajar bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum mereka dapat memprogram dalam bahasa seperti Python, Java, C++, C#, dll.

Itu sama sekali tidak benar. Faktanya, banyak programmer Cina yang saya kenal secara pribadi tidak berbicara sepatah kata pun dalam bahasa Inggris.

Faktanya, para programmer Cina paling antusias tentang bagaimana mendapatkan kenaikan gaji ketika mereka belajar berbicara bahasa Inggris dengan baik. Ini adalah para profesional dengan pengalaman pengkodean bertahun-tahun jika tidak puluhan tahun.

Bahasa pemrograman memiliki sintaks dan aturannya sendiri yang bahkan jika Anda asli bahasa Inggris, harus melalui pelatihan untuk mengetahui cara menggunakannya dengan benar.

Misalnya, saya tahu delegasi berarti “mewakili, bertindak atas perilaku orang lain” dalam bahasa Inggris. Tapi apa arti “delegasi” dalam C#?

Ini berarti jenis khusus yang tidak memiliki blok kode yang dapat dieksekusi dengan sendirinya, tetapi ada untuk mewakili kumpulan metode yang menggunakan jenis yang ditentukan sebagai input dan output sebagai jenis delegasi. Anda dapat melampirkan satu atau beberapa metode jika sesuai dengan kriteria, dan memanggil delegasi di tumpukan Anda nanti saat Anda menginginkannya.

Jadi, sama seperti variabel adalah “placeholder” untuk data. Delegasi adalah “placeholder” untuk fungsi atau metode. Mengapa variabel tidak disebut “delegasi”?

Jadi nama itu tidak membantu Anda menghafal apa yang banyak dilakukannya. Anda masih harus mempelajari bahasa pemrograman dengan cara yang sama.

  1. Bahasa Cina membutuhkan keyboard khusus untuk mengetik puluhan ribu karakter kompleks mereka

Tidak, yang kita butuhkan hanyalah keyboard QWERTY standar. Ada keyboard khusus untuk karakter Cina, tetapi jarang terlihat saat ini.

Gunakan aturan Pinyin atau Zhuyin, dan Anda dapat mengetikkan semua karakter yang umum digunakan. Karakter langka dapat dicari dan diketik melalui sedikit lebih banyak usaha, tetapi itu bisa dilakukan.

  1. Bahasa Cina ketika diucapkan tidak memiliki emosi atau sikap

Alasan mengapa orang berpikir itu adalah karena dalam bahasa Inggris, emosi atau sikap diekspresikan melalui nada kalimat. Dalam bahasa Cina, nada melayani tujuan lain, jelas. Jadi bagaimana arti orang Cina emosi atau sikap?

Nah, sebenarnya, ada seperangkat karakter tata bahasa yang kita sebut yǔ qì cí【语气词】yang dikhususkan untuk menangani emosi atau sikap sebuah kalimat.

Kalimat Cina yang marah seringkali tidak terdengar marah dalam hal nada. Bagaimana bisa, nadanya diperbaiki dalam bahasa Cina.

Yuqici memberikan kontrol sikap yang lebih halus dari kalimat tersebut, dan mereka juga dapat digunakan secara berturut-turut menjadi lebih halus.

 

Mengapa Orang Cina Tidak Bagus Bahasa Inggrisnya, Meskipun Sudah Bertahun-Tahun Belajar?

Dude. Apakah Anda berbicara bahasa Cina?

Seorang sahabat bercerita tentang masalah bahasa yang ia hadapi. Begini ceritanya.

Izinkan saya memberi tahu Anda, bahasa Mandarin itu sulit. Saya dibesarkan dalam keluarga Tionghoa. 75% dari negara saya adalah orang Cina, dan saya masih hampir tidak bisa membeli telur di pasar menggunakan bahasa Cina. Pertama-tama, struktur kalimatnya sama sekali berbeda, begitu pula tenses dan pengucapannya. Berikut adalah contoh perbedaan antara bahasa Mandarin dan Inggris (Kalimat sederhana karena saya tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih baik):

我以前最爱吃草莓 berarti saya dulu suka makan stroberi. Namun, jika diterjemahkan secara harfiah, hasilnya seperti ini: Terakhir kali saya paling suka makan stroberi. Orang Cina tidak memiliki tenses atau jamak. Sekarang, bayangkan jika Anda, sebagai penutur asli bahasa Inggris, tiba-tiba dilemparkan ke lingkungan di mana semua orang berbicara seaneh itu, dan ketika Anda berbicara seperti yang diajarkan kepada Anda, orang-orang memandang Anda seperti Anda tebal. Bagaimana perasaan Anda?

Bahasa Inggris dan Cina adalah dunia yang berbeda. Ini belajar bahasa yang sama sekali baru, teman-teman! Anda tidak akan dapat belajar bahasa Mandarin meskipun “bertahun-tahun” mencoba, jadi jangan mengharapkan hal yang sama di pihak mereka, oke?

Edit II: Banyak yang menyebutkan bahwa tenses dan jamak memang ada dalam bahasa Cina. Saya pasti cukup membingungkan, menyatakan bahwa tenses tidak ada, setelah mengutip contoh tense, 之前, tepat sebelumnya. Jadi untuk memperjelas, tenses dan jamak memang ada dalam bahasa Cina, tetapi bukan sebagai akhiran atau pengubah kata. Sebaliknya, mereka lebih sering digunakan secara opsional, untuk menambahkan konteks pada kalimat. Kesalahan saya karena tidak jelas, maaf semuanya!

#chinese

#tionghoa

#mandarin