Kompor Sebagai Komoditi

Kompor sudah menjadi komoditi dan home industry bagi sekumpulan warga Joyo. Sejumlah warga aktif memproduk dan  menghasilkan kompor minyak tanah dalam rumah industry mereka. Hasilnya bahkan dikirim ke beberapa negara manca, tentunya yang masih menggunakan kompor sebagai salah satu alat masak mereka.

Seperti salah satunya adalah ibu Simun. Wanita super kaya ini baru saja meninggalkan kita pagi tadi 8 Januari 2022. Rupanya beliau sudah tidak kuasa menahan penyakit diabetes yang telah berpuluh tahun menggerogotinya. Seperti orang kaya yang lain semasa hidup beliau sangat hobby mengenakan perhiasan mas apabila lagi berbelanja ke pasar. Penampilannya sangat menyolok dan membuat mata kita berbinar karena perhiasannya yang berbinar2 pula. Gelang yang beliau pakai bias sampai ke siku2nya. Rantai kalungnya pun lebih dari satu. 

Anehnya setiap wanita yang berjualan ataupun para pembeli wanita yang berseliweran di dalam pasar Dinoyo, apabila berpapasan atau bertemu, mereka mencium tangan bu Simun. Seolah2 bu Simun adalah orang yang patut dan sangat dihormati. Dan yang unik lagi bu Simun selalu memanggil setiap wanita di pasar Dinoyo dengan nama panggilan yang sama “Nduk”. Padahal belum tentu mereka lebih muda dari bu Simun. Halah..

Itulah maka, dari sejak puluhan tahun yang lalu, beliau juga mendapat julukan yang khas karena penampilannya. Dialah BUPATI JOYO. Bupati karena beliau adalah salah satu warga Joyo yang cukup berada dan berpenampilan sangat mencolok. Joyo adalah karena beliau dah bertahun2 tinggal di Joyo, desa dengan penduduk yang penghasilannya berasal dari membuat kompor minyak tanah.

Selamat jalan bu Simun..