Kehidupan Ibadah

Segala sesuatu yang selain di sisi-Nya, disebut dengan kehidupan. Kehidupan itu, bersifat dunia dan dunia yang dimaksud adalah permainan yang penuh dengan tipuan dan kepalsuan. Maka, kehidupan dunia yang penuh dengan permainan dan tipuan, itu tidak menyelamatkan, artinya kerhidupan dunia itu, berada di dalam zona yang tidak selamat, karena penuh dengan tipuan dan kepalsuan (QS al Qoshos (28) : 60, 61), (Al An’am (6) : 32), Al Hadid (57) : 20). 

Sedangkan, yang di sisi Allah adalah keselamatan (al Islam) dan itulah kekekalan (QS Ali Imron (3) : 19). Karena yang di sisi Allah itu, wujud keselamatan dan kekekalan, maka ia tidak hidup dan tidak mati, namun bersifat selamat dan hidup serta kekal; Dan, itulah fungsinya agama ketika anugerah akal dari Allah bagi dirinya manusia berfungsi (QS Ar Rum (30) : 30).

Maksudnya, kehidupan keduniaan itu, telah Allah berikan kepada dirinya manusia, akan tetapi perlu diingat, bahwa keduniaan dan seluk beluknya itu, semuanya hanyalah permainan dan tipu muslihat oleh nafsu dirinya manusia yang musti dipimpin oleh yang di sisi Allah lewat jalan tempuh yang disebut dengan “agama”.

Lalu, apa dan siapa yang di sisi Allah, itu? Dialah “al Islam” atau keselamatan. Maka, keselamatanlah yang musti memimpin kehidupan kemanusiaan dunia itu, agar dirinya manusia memperoleh keselamatan.

Sebenarnya bukan keselamatan yang musti memimpin kehidupan dunia, akan tetapi yang membawa keselamatan, itulah yang diinginkan untuk memimpin dirinya manusia di dalam menjalani tugas kehidupan di dunia, yang tiada lain adalah Nabi Muhammad saw sang pembawa keselamatan.

Dialah Rasul Allah satu-satunya yang bernama amin (QS Ali Imron (3) : 96,97), ia berada di Baitullah, tanda alamatnya Ka’bah, terlahir ke dunia sebagai putra Abdullah dengan Ibu bernama Aminah, diberi nama Nabi Muhammad saw, yang berbangsa dan berbahasa Arab, wafat dan dimakamkan di Madinah; Di dalam diri Nabi Muhammad saw terdapat rasul utusan Allah, yang diutus oleh-Nya untuk rahmah bagi seluruh alam insan (QS Al Anbiya’ (21) : 107). Maka, dialah satu-satunya yang “shollahu ‘alaihi wa salam” (saw), sedangkan para Nabi dan Rasul selain Nabi Muhammad sebagai rasul utusan Allah sebanyak 124.313, semuanya rasulnya amin yang selalu sambung hubungan dengan dia (amin) satu-satu rasul Allah. Oleh karena itu,  mereka seluruh para Nabi dan Rasul, semuanya selalu atasnya keselamatan (as) (QS Al Ahzab (33) : 56) atau selalu di dalam keselamatan (‘alaihis salam).

Adapun para manusia biasa selain para Nabi dan Rasul seperti yang telah disebutkan di atas; Yang mana, di dalam diri setiap diri manusia itu terdapat iman, ketika imannya berfungsi dan menegakkan 4 sifatnya : yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah, maka dirinya manusia itu sambung terhadap Nabi Muhammad sebagai rasulnya Allah, sehingga diri manusia itu, atasnya selamat. Namun sebaliknya, ketika imannya tidur atau tercover oleh sifat kafir dirinya manusia, maka dirinya manusia itu tidak di dalam keselamatan (QS At Taghabun (64) : 2). 

Oleh karena itulah, “sholat itu, lebih baik dari pada tidur” (ash-sholatu khoirun minan naum), tersambungnya iman dengan amin adalah kebaikan, sebaliknya terputusnya iman dengan amin adalah kejelekan dan kesengsaraan, karena tidak berada di dalam keselamatan.

Jadi, kehidupan itu, erat berkaitan dengan diri manusia diciptakan (fitrah), dan semuanya adalah permainan yang penuh dengan kepalsuan serta tipuan oleh diri nafsu manusia dengan berbagai sifat dirinya manusia. Maka, diri nafsu manusia yang erat hubungannya dengan kehidupan yang penuh dengan permainan (dunia) dan kepalsuan itu, musti dipimpin oleh keselamatan atau yang membawa keselamatan, yaitu Nabi Agung Muhammad saw, sebagai rasul utusan Allah melalui ajaran yang disebut dengan agama (diin-millah), agar dirinya manusia di dalam menjalani tugas kehidupannya, benar-benar penuh ketundukkan dan patuh (QS Adz Dzariyat (51) : 56) terhadap ajaran agama oleh iman, sehingga apa yang dilakukannya bernilai ibadah di sisi-Nya.