Banyak yang tidak tau diantara kita bahwa Ibu Kartini pernah mengarang sebuah buku. Yang kita tau ibu Kartini adalah menulis banyak surat yang telah dikompilasi oleh orang berkebangsaan Belanda, Abendanon. Buku yang telah beliau karang tersebut adalah sebuah buku sederhana yang dipergunakan sebagai materi bahan ajar di sekolah yang beliau bangun tepat di belakang kediaman R.A. Kartini, di belakang keraton tersebut.

Surat-surat R.A Kartini yang dikompilasi dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang begitu sangat membahana hingga sekarang. Perjuangan seorang wanita bangsawan yang dikungkung dalam tembok penghapus peradaban. Motivasi didalam dirinya yang sangat kuat tersebut tak pupus menghentikannya untuk terus belajar. Rasa iri terhadap kakaknya R. Sosrokartono yang lanjut studi di Italia membuat dirinya tersadar bahwa ilmu itu luas tanpa batas, tak memandang siapa pembelajarnya. Persepsi belajar itu bebas bagi siapapun yang menginginkannya tampak suram di masyarakat lingkungan keraton.

Namun itulah Kartini, semangat belajar dan tetap menulis yang beliau miliki ternyata tidak bisa stagnant. Semangat itu mengalir dalam jutaan butir darah dalam dirinya. Ia ingin dan terus ingin belajar. Kakak yang dikasihinya tau betul semangat adiknya yang ingin terus lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga saat itu disaat kertas masih sangat langka, kakak Kartini mengirimkan berim-rim kertas untuk adik tersayangnya, untuk menulis. Baru ingat ibunda saya saat beliau mengenyam pendidikan SR atau setara SD saat itu, mungkin buku masih langka. Hingga kemudian sebuah buku yang habis ditulis dengan menggunakan pena tinta (saat itu belum ada ballpoint), kemudian buku yang telah habis ditulisi tersebut dicelup kedalam seember air. Tentu saja air itu kemudian menghitam. Semakin menghitam air di dalam ember, maka semakin bersih dan habis tinta yang menempel pada buku tersebut.

Dan hilanglah semua ilmu yang tertulis di buku itu. Menyedihkan!

Padahal peristiwa itu terjadi di sekitar tahun 50an. Buku masih langka apalagi kertas. Dan apa yang terjadi saat ibu Kartini masih gencar-gencarnya belajar dan hoby menulis surat. Sungguh tak bisa saya bayangkan.

Namun pada abad ke 16 di Sulawesi orang sudah mempergunakan teknologi kertas alam yang sangat dikenal hingga saat ini, LONTARAK. Huruf yang dipergunakan juga bernama Lontarak. Hingga kemudian puluhan ribu lembar lontarak telah ditulis dimana satu diantaranya menggambarkan kisah yang melegenda I LA GALIGO.

Itulah teknologi kertas saat itu, kertas yang kemudian menjadi inspirasi dan motivasi kuat ibu Kartini untuk menulis. Dan buku itu, banyak yang belum tau bahwa ibunda Kartini telah menulisnya. Buku itu adalah buku resep sebagai materi mengajar di sekolah yang telah beliau bangun bersama Ibu Kardinah. Sebagai seorang wanita, ibunda Kartini ternyata hobby memasak. Perkenalannya dengan warga Belanda saat masih berada di Jepara dilanjutkan dengan korespondensi dengan mereka memberikan nuansa penting dalam menekuni hobi memasaknya. Oleh karena itu banyak resep-resep Kartini dipengaruhi oleh resep-resep dari negeri Belanda.

Negeri Belanda memang dipengaruhi oleh cuaca yang cukup dingin. Oleh karena itu makanan-makanannya seringkali dibumbuin dengan bahan-bahan penghangat seperti kayu manis, jahe, cengkeh, pala, dan merica. Salah satu resep masakan yang telah ditulis oleh beliau adalah setup pisang. Setup ini menggunakan bahan pisang, gula dan kayu manis. Karena bahan ini bisa menghangatkan tubuh maka resep setup ini begitu digemari di negeri Belanda. Ini adalah salah satu resep yang ditulis oleh beliau di bukunya disamping resep-resep yang lain. Kue yang sangat disukai oleh bunda Kartini adalah kue Soes dan penganan kecil yang kita kenal dengan Perkedel yang di dalam bahasa Belanda disebut dengan Vrikadel. Selain itu pula ada juga panekoek tabur gula kayu manis yang juga sama, bersifat menghangatkan tubuh. Panekoek mempergunakan bahan tepung terigu, tepung yang sangat terkenal dari negeri Belanda karena tepung ini diolah dibawah kincir angin.

Ibunda Kartini adalah wanita yang tidak hanya menginspirasi kehidupan sosialita di saat ini, namun juga kecerdasannya begitu mengilhami saya khususnya untuk tetap maju dan berkembang. Masalah yang menyelimuti beliau sebagai putri bangsawan tidak menyurutkan beliau untuk tetap belajar dan maju, dan hal ini sangat mempengaruhi saya pribadi. Masalah pasti ada, namun jangan masalah membuat saya berhenti untuk maju dan berpikir. Kalau toh orang tidak bisa menerima hasil karyamu disini, di tempat lain kehidupan masih sangat luas dan bisa menampung segala keinginan dan kemauan. Insya Allah bunda Kartini, saya akan teruskan perjuanganmu.

Published by Ika

I am Rafter, Blogger, and Teacher

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *