Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit adalah sebuah istilah bagi warga area Merjosari Kota Malang untuk  selalu bersemangat dalam berwarganegara dan berbudaya. Bukan apa sejak ratusan tahun lalu desa Merjosari adalah salah satu bagian dari hiruk pikuk kerajaan Kanjuruhan yang cukup berjaya saat itu. Sehingga kemudian banyak sekali peninggalan-peninggalan kerajaan dalam bentuk prasasti, batu lumpang, arca dan bahkan telaga. Konon seputar blok G rumahku ini adalah kolam tempat berenang mandi para putri raja. Ahikk..

Pantesan ini rumah bawaannya lembab melulu.. Lah dulu kolam renang!

Kini Merjosari semakin bangkit dengan selalu diselenggarakannya Festival Bersih Desa dengan tajuk Merjosari Bangkit. Dan even ini menjadi agenda rutin bagi kami warga Merjosari. Beberapa pemuda pun memiliki komunitas dengan nama yang mengambil kutip dari sana, Bangkit Jaya. Sebuah komunitas pemuda di Merjosari.

Gara-gara sering melihat posting batu-batu lumpang di sebuah group yang di posting oleh kawan-kawanku group Jelajah Jejak Malang, mata ini jadi nanar melihat setiap batu yang berserakan di sepanjang area dan jalan di Merjosari. Namun bukan barang mudah apalagi kalau bukan ahlinya. Karena menurut kabar memang masih banyak lumpang-lumpang dan arca-arca yang berserakan melas tak dirumat oleh warga apalagi pemerintah, boro-boro pemerintah! Ya benar memang banyak sekali batu berserakan di sekitar area Merjosari. Salah satunya ditemukan di belakang Sardo. Sebuah mal kecil di jalan Gajayana yang katanya kependekan dari Sarinah Dinoyo. Tapi entah kenapa karena bukan ahlinya sampai sekarang pula saya belum melihatnya. Yang kulihat berkali-kali hanya tukang servis vespa. Eheh. Namun ada satu yang sudah kulihat di sebuah rumah warga, sebuah batu berbentuk kotak yang memiliki sebuah pancuran di ujungnya. Batu tersebut sengaja disimpan atau lebih tepatnya diselamatkan oleh pak Kibat. Pak Kibat seorang tuan tanah terkenal di Merjosari dan tinggal di lokasi cukup strategis  yaitu di dekat perempatan tong. Itu ungkapan yang sering disebut oleh warga Merjosari yaitu perempatan jalan lintas Mertojoyo dan Joyo Tambak Sari yang tepat di tengah-tengahnya ada tong besar.

Beliau sudah almarhum.. Mudah-mudahan beliau tenang disisiNya. Pak Kibat adalah pemilik lapangan Merjosari pertama yang sekarang semakin sempit, yaitu di depan SD Merjosari.  Lapangan tersebut sempat beberapa kali dijadikan lokasi kompetisi sepak bola lokal, sehingga beberapa kali akses melalui perempatan itu ditutup karena dijadikan pintu dan sekaligus loket tiket. Saat air kali Metro meluap, ada seorang anak kecil yang hanyut sehingga dilakukan pencarian. Lalu ditemukanlah batu lumpang itu dan pak Kibat meminta agar batu tersebut diletakkan di rumah beliau saja. Namun namanya juga batu bersejarah, masih ada saja orang-orang yang datang menyambangi batu tersebut dan meletakkan sajen-sajen mungil beserta dupa nya. Itu lah kearifan lokal.

Baru ingat tentang sebuah tong yang selalu nangkring di tengah perempatan desa Merjosari. Tong yang menjadi saksi banyak cerita. Tadinya tong itu tidak ada. Namun zaman yang semakin rumit, jalan lintas ini menjadi semakin padat karena bertambahnya penduduk. Sehingga ditempatkanlah sebuah tong di tengah agar pengguna jalan tidak sembarangan melaluinya. Bisa-bisa bukan tong yang bergeming tetapi justru mobil anda yang penyok. Ini karena tong tersebut berisi penuh batu sebesar kepala orang dewasa. Pantas berat sekali tong itu, mobil-mobil selevel pajero harus mau mengalah menghindari tong jelek yang nongol di tengah. Tapi tong ini justru banyak membawa cerita mistis. Apalagi kalau hari itu hari kamis. Setiap hari Kamis malam Jumat Legi sekitar tong itu, atau di dalam tongnya ada beberapa orang meletakkan bunga-bunga (sedap malam, mawar, kuncup melati, kemuning, dan kantil). Ada pula beras kuning. Dan tak jarang uang receh. Waaini..

Lucunya saat presiden Jokowi mau lewat sini, orang pada bingung mau mindahin itu tong. Protokoler yang kesitu beberapa jam sebelum pak Jokowi lewat sempat ngobrol sama orang yang biasa berdiri dekat tong, dia suka nyebrangin semua kendaraan yang melintas. Nah si pak Juki ini bingung gimana mindahnya soalnya tong itu beratnya minta ampun. Mindahin tong berarti harus ngeluarin semua isi batu tersebut dan baru bisa memindahkannya ke pinggir. Akhirnya si pak Juki, si tukang sabrang  tersebut meminta bantuan teman-temannya yang suka nongkrong di perempatan Merjosari. Salah satunya adalah pak Soto, pak Bubur ayam dan dua tukang sabrang temannya yang biasa shift siang. Pak Heri krupuk yang tubuhnya kecil itupun tak ayal ikut diteriaki juga untuk ikut bantuin mindahin isi tong. Dan walhasil tong pun dipindah ke ujung perempatan yang lain, dekat rombong molen seratusan itu. Dan melintaslah rombongan kepresidenan menuju Pondok Bahrul Ulum dengan lancer.

Nah di perempatan ini pula, sebenarnya adalah konon jalur lori. Yaitu jalur kereta pembawa tebu. Tadinya waktu saya masih beberapa tahun tinggal di Merjosari masih sempat melihat rel lori ini njepat (red : mencuat) di ujung gang 12, gang yang disebut dari dulu bernama gang lori. Atau tepatnya depan mall Dinoyo City. Dan gang ini dulu adalah sebenarnya jalur lori. Jalur lori tebu masyarakat ini melintas cukup jauh hingga ke Blitar. Awalnya lori ini melalui sebelah rumahku..eh.

Lori tebu ini melintas sawah milik rakyat yaitu di sekitar jalan Mertojoyo hingga ke Selatan yaitu di Poharin. Merjosari adalah salah satu lumbung padi kota Malang. Warga Joyo Merjosari dari dulu selalu menyebut kami, para penghuni baru, penghuni sekitar jalan Mertojoyo ini adalah orang sawah. Yaitu orang yang mendirikan rumah di sawah. Hal ini karena jalan Mertojoyo ini adalah sawah yang cukup panjang hingga menuju kampus Poharin. Atau menuju ke arah lebih Selatan yaitu Karang Besuki dan Badut. Sedang penduduk Joyo Merjosari dan sekitarnya seperti Gandul, Clumprit, Tlogomas, dll adalah lokasi penduduk para pemilik sawah Merjosari ini.

Di desa Gandul inilah desa dimana terletak Universitas Gajayana. Sebuah Universitas yang melestarikan nama sebuah kerajaan yang juga bagian dari sejarah Kota Malang, kerajaan Gajayana. Di kampus ini masih banyak ditemukan arca-arca. Hanya kadang hilang dibuang atau tertutup semen. Masih ada pohon beringin yang cukup “runyam” juga dirasakan kalau berada di sekitar sana. Banyak yang sudah menyaksikan pohon tersebut berpenghuni. Harap dimaklumi karena lokasi kampus ini dulunya cukup ramai saat pemerintahan kerajaan berlangsung. Ada pemeo lucu tentang UNIGA yang kependekan dari Universitas Gajayana. Dulu banyak yang menyebut UGM atau Universitas Gandul Merjosari. Sehingga kita semua tertawa lepas mendengar kelakar tersebut. Namun banyolan-banyolan tersebut jadi berbalas seiring waktu, semisal UNISMA yang dulunya berdekatan dengan pasar Dinoyo disingkat menjadi UNPAD atau Universitas Pasar Dinoyo. Ahaha..

Makanan yang sangat disuka penduduk Merjosari adalah nasi jagung. Terbukti banyaknya penjual nasi jagung disana. Tercatat ada lebih dari 15 penjual nasi yang terlihat, yang nggak terlihat mungkin masih banyak lagi. Sayur pendamping nasi jagung ini adalah sayur khas kesukaan warga yaitu sayur pedas. Merjosari yang dulunya adalah daerah sawah-sawah sebaga salah satu lumbung padi kota Malang juga banyak ditanami dengan jagung, tebu dan juga palawija. Hal ini karena tanah di kawasan ini yang sangat subur. Saat hujan seringkali menjadi lumpur yang susah dilalui. Dulu saat masih SMU, saya sering kesulitan melalui jalan-jalan di Merjosari sampai beberapa kali harus pulang ganti seragam baru karena lumpur yang menempel. Untuk acara-acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan, atau istighosah seringkali warga Merjosari menyuguhkan nasi jagung bagi para jamaah. Tahu tek juga dijadikan salah satu hidangan khas warga Merjosari. Tahu yang melimpah di daerah ini terbukti akan adanya banyak home industry tahu, sehingga seolah-olah masakan berbahan tahu selalu ditemukan di meja warga Merjosari. Tahu tek merupakan hidangan tahu dan lontong yang disiram dengan kuah petis. Tahu Tek ini juga seringkali dihidangkan saat acara-acara religi tak kecuali dengan taburan kecambah rebus dna krupuk nya. Tidak hanya tahu, tempe pun banyak mendominasi masakan-masakan khas warga. Terbukti dari banyaknya pembuat tempe di Merjosari. Salah satu hasil olahan tempe yang sering kali dibuat warga dan sebagai pendamping nasi jagung adalah mendol. Mendol rasanya cukup unik, karena dibumbuin dengan cabe dan daun jeruk.

Mudah-mudahan Pawai Bersih Desa Merjosari nanti sukses dan lancar.

Bersama Dancow

Jumat Sabtu kemarin jadwal penuh abis.. Biasanya aku nggak pernah punya jadwal sepenuh ini. Mulai hari Jumat Sabtu dan Minggu aku selalu ancang-ancang untuk mengagendakan dengan anak-anak dan keluarga. Hari Jumat kemarin adalah undangan dari Dancow. Aku tak menyangka bisa ikut di acara ini karena anak-anakku sudah besar-besar, kelas 3 SD dan 1 SMP. Dan mereka sudah tidak mau lagi minum susu bubuk seperti Dancow. Mereka lebih menyukai susu kotak, apalagi yang sudah dingin dari kulkas swalayan. Tapi apa salahnya ikut seminar parenting dari Dancow, toh bermanfaat juga apapun itu. Dari Blogger Malang berikan aku kesempatan untuk ikut di kegiatan yang nota bene hanya ibuk-ibuk yang mengikuti. Adapula 4 orang bapak sih, among 300 women. Wuih banyak amat yah. Tempat nya jaann penuh sesak, dimulai dari pendaftaran hingga yang namanya makan-makan.. Suesekkk..

Tapi semua itu jadi nyaman karena MC nya mbak Sahnaz Haque. Adik mbak Marisa itu.. Duh cantiknya..dan hebatnya aku bisa melihat mbak Sahnaz tepat di depanku, karena aku datang agak awal jadi bisa milih-milih tempat duduk. Akhirnya kupilih tempat duduk terdepan. Tadinya si mbak Sahnaz duduk agak jauhan dariku, di atas stage. Sehingga kamera poketku nggak nyampe ke sana. Tapi sewaktu acara chef Santika mulai masak-masak aku bisa ambil gambar mbak Sahnaz dengan leluasa. Hanya saja giliran masakan sudah matang, mbak Sahnaz koq ya nggak jauh-jauh nunjuknya. Beliau nunjuk akyuu.. Halahhh.. Si embak ini bilang : “Bun..bun.. ayok bagikan makanan ini” Aku Cuma lah loh aja. Karena tadinya aku hanya focus ke Chef Santika yang lagi ngaduk-ngaduk wajannya. Sehingga sewaktu si mbak e nunjuk aku, jadi gelagapan. Seketika kemudian aku berdiri dan datang nyamperin itu piring. Nah bukannya kubagiin langsung eh..malah pada mau foto-foto sama piring. Selfie koq sama piring..Jiahahah.. Tapi aku juga selfie sama piring.. Ternyata nggak jauh beda. Dan lalu kemudian kubagikan makanan itu ke ibu-ibu yang lain. Dan yang lain nggak jauh beda juga, selfie sama piring.. Hehehe..

Pembicaranya pada beken-beken banget, selain mbak Sahnaz sebagai MC yang keren abis, lalu ada bu Dokter, Psikolog dan Pakar Nutrisi yang semua datang dari Jakarta. Wah bener-bener nggak rugi datang di Seminar Dancow ini. Dan pengalaman berada di seminar semakin berasa sebab even ini melibatkan aktifitas socmed ibu-ibu dan para blogger.. Sudah tentu semua ibu disana memiliki akun facebook. Dan siapa yang nggak punya akun facebook di hari genee.. Saat ditanya siapa yang memiliki akun twitter pun banyak juga yang mengangkat tangannya. Acara berlangung gayeng karena semua peserta diharapkan untuk mengaktifkan akunnya dengan status, foto dan hashtag. Itulah yang membuat semua ibu-ibu meski ribet, mereka sibuk mengankat hp untuk memfoto, mengupload, status dan tak lupa hashtag.

Belum lagi suara teriakan para balita ikut meramaikan acara ini. Hampir semua ibu disana membawa anak-anaknya. Dan semua tidak diam..semua berteriak dan berlarian hingga ke atas stage. Malah ada yang tidur di karpet depan stage. Dia sama sekali tidak mau dipindah.. dengan satainya si kecil ini tidur seolah-olah di kasur.. mbk Sahnaz dan pembicara yang lain senyam senyum melihat si kecil baby ngorok di karpet. Para awak kamera dibuat ribet karena harus melangkahi si baby tanpa dosa ini. Dan ibunya pun jadi bingung mau ngangkat anaknya, tapi anaknya nggak mau. Dia begitu enjoy tidur di karpet depan stage ini. Seawaktu diangkat oleh pihak hotel karena acara sudah selesai dan mau diberesin, si baby ini nangis nggak karuan. Lah si ibunya malah lagi enak-enak makan di luar ruangan. Anak yang masih belia dan polos, umur 2 tahun ini menangis meronta-ronta karena dia dipindahkan dari karpet dan petugas hotel menggendongnya dengan suara tangisannya yang menggelegar..

Ini anaknya siapaaaaa..katanya.. #Wikikikkk

Dan siang itu aku benar-benar mendapat keberuntungan ganda, mendapat kesempatan dari Blogger Malang untuk menghadiri seminar Parenting Dancow, dan kedua masih juga dapat doorprize dari Dancow berupa susu dua kotak gede dan tenda camping. Tapi entah kenapa otakku koplak jadi terkena virus rupiah, doorprize itu tau-tau mau dibeli sama temanku karena anaknya masih kecil, umur setahun. Pas dengan susu yang kudapat, dan tenda itu dibeli juga sama dia, disaat aku juga sebenarnya sudah punya tenda camping bahkan lebih luas 2 x 2 meter. Sampai di rumah aku masih terheran-heran kenapa aku jadi matre gini yak. Virus rupiah sudah menyerang otak kotor ku. Wahah.. Ok dah yang jelas ilmu yang sangat bermanfaat telah kudapat dari Seminar Parenting Dancow. Setiba di rumah anak-anak pada  minta bakso, uang yang kudapat dari temenku tadi kulepakan untuk nraktir anak-anak yang udah kutinggal seharian di hari Sabtu. Harusnya aku tinggal di rumah masak makanan kesukaan mereka. Okay dehh..

 

Bencana Budaya

Hari Rabu seminggu setelah erupsi Gunung Kelud saya beranjak menuju Ngantang. Memang lama jeda sejak letusan Kelud yang cukup dahsyat tersebut yang mendorong saya untuk berangkat kesana. Ngantang berjarak sekitar 50km dari kota Malang yang ditempuh dengan perjalanan normal sekitar sejam. Namun perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Kali ini saya membawa misi teman-teman dari Makassar untuk menengok makam yang biasa kujaga selama ini, makam raja Makassar Karaeng Galesong.  Ada salah satu keturunan  KG (panggilan Karaeng Galesong) yang tidak hanya menanyakan kondisi makam pasca erupsi, namun juga keadaan masyarakat Ngantang yang kondisinya memprihatinkan, begitu porak poranda. Sehingga kemudian saya menghubungi beberapa teman2 komunitas, namun karena saya mendadak memintanya sehingga mereka tidak bisa berangkat ke Ngantang. Ada pula yang tidak bisa mengantar saya kesana karena sebelumnya sudah mendahului, sehari setelah erupsi.

Dan akhirnya saya putuskan untuk berangkat sendirian ke Ngantang.

Tadinya ragu juga menuju lokasi ini, disamping motor MX ku yang akhir-akhir ini kurang bersahabat juga jalan menuju kesana dan lokasinya masih membahayakan. Berkali-kali MX ku terseok-seok karena tumpukan pasir di jalan. Di beberapa ruas jalan menuju ke Ngantang, pasir masih banyak, ada beratus-ratus kubik. Masyarakat setempat yang mungkin punya sedikit kesempatan setelah membersihkan rumahnya dari tumpukan pasir, kemudian menuju ke pinggir jalan untuk mengisi karung-karung dengan pasir. Sehingga di kanan kiri jalan menuju ke Ngantang dan di kecamatannya pun penuh berjejer dengan karung-karung berisi pasir. Teman saya yang juga bagian dari komunitas Karaeng Galesong Makassar, pak Lurah Sumber Agung, bapak Choiri sempat menunjukkan pada saya dua truk pasir yang nangkring di atas rumahnya. Beliau belum selesai-selesai menurunkan pasir-pasir tersebut hingga detik saya datang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan penuh ketakutan karena jalannya pun masih belum begitu aman, ada beberapa ruas jalan yang baru terputus, sehingga arus nya dibuat buka tutup. Setengah badan jalan sudah tergerus air sungai Kunto yang menggelegak. Lumayan mengerikan melihat arus sungai yang tadinya pernah kuarungi dengan rafting tersebut.  Aku tak bisa memperhatikan pergolakan air sungai yang berwarna hitam dan membawa material gunung pasca erupsi  itu karena sangat menakutkan yang membuat saya hilang kendali. Berkali-kali aku harus berkata lirih kepada MX bututku, ‘Hey ayolah antar aku sampai tujuan, jangan ngambek dulu lah’. Dan berkali-kali itu pula kudengar suara-suara mesin nggak jelas dari sana. Huftt..lama sekali kurasa tak sampai-sampai pada tujuan. Namun saat mendekati perbatasan Pujon-Ngantang aku mulai lega meskipun harus kusadari betapa bencana telah memporak-porandakan kecamatan dengan geografis perbukitan ini.

Sedianya saya ingin mengunjungi makam Potre Koneng dan juga ingin melihat keadaan di sekitar makam. Siapa tahu ada yang bisa saya laporkan untuk teman-teman di Makassar. Makam potre Koneng, istri dari Karaeng Galesong ini terletak di bukit di seberang danau Selorejo. Namun berita-berita di koran yang menghalangi saya datang kesana karena keadaansekeliling  danau yang sudah hancur, warung-warung ikan goreng yang biasa kudatangi bersama teman-teman sudah rubuh semuanya tanpa sisa. Sehingga tak ada yang bisa bantu saya untuk menyeberang di bukit yang bersebelahan dengan pulau Jambu itu. Keadaan masyarakat di sekitar danau juga cukup mengkhawatirkan, rumah-rumah yang rusak parah, terutama di bantaran sungai Kunto yang terkena bandang sungai, jadi mereka mendapat bencana dari atas dan bawah. Betapa sangat mengenaskan.. Sayang saya tidak berani mencapai kesana karena lokasi yang terputus.

Sesampai di rumah teman saya, lurah Sumber Agung bapak Choiri, kusampaikan sumbangan dari teman-teman dan  kusampaikan maksud saya untuk diantar ke makam. Bukannya takut, hany saja saya jaga-jaga nanti apabila ada pohon jatuh yang menghalang di tengah jalan, maka ada yang menunjukkan jalan lain menuju ke makam. Dan ternyata benar, beberapa akses jalan ke makam tua tersebut tertutup pohon roboh. Jangankan pohon besar, semua pohon pisang mati daunnya semua terkulai. Rumput-rumput gajah yang sedianya akan dipakai sebagai pakan sapi perah seolah tak kuasa berdiri. Semua layu.  Beberapa pohon akhirnya kusibakkan dan kutinggalkan motor di kejauhan, kulanjutkan dengan berjalan kaki.

Sesampai di makam kuambil gambar beberapa. Kondisinya masih belum mengkhawatirkan. Tembok yang miring dan hampir roboh dari tahun ke tahun memang seperti itu. Tidak ada satupun penduduk Ngantang yang berani menata kembali batu-batu bata dari abad 17 tersebut. Konon banyak orang yang ingin memperbaiki tembok makam ini tapi terkendala takut karena yang biasa terjadi malah mereka menjadi kesurupan. Maka mereka biarkan batu-batu bata itu, hanya disangga oleh pagar besi agar tidak berantakan. Makam Karaeng Galesong berada di tengah-tengah kotak seperti kolam. Pusara makam tersebut sangat mencengangkan karena tak tersentuh debu. Subhanallah!

Terlihat dari kotak berbentuk kolam terisi penuh pasir. Tembok yang rendah setinggi sekitar 25cm tersebut sangat penuh dengan pasir. Hanya pusara Raja Galesong ini yang sama sekali tak terisi dan tersentuh oleh debu dan pasir gunung Kelud. Terlihat masih saja berlubang, lengang dan bersahaja.

Bentuk makam raja yang saat ini memang sudah berubah dari asalnya memang menjadi kontroversi. Pak Mudin Ngantang yang telah merenovasi makam Karaeng membangunnya tanpa konsultasi dengan keluarga Galesong di Makassar. Akhirnya yang terjadi adalah seperti itu, pak Mudin membuat kotak setinggi 25cm yang sekarang menjadi seperti kolam. Dan kolam tersebut terisi penuh dengan pasir. Tadinya makam Karaeng Galesong berbentuk bujur sangkar yang di dalam falsafah budaya Makassar, bujur sangkar ini disebut dengan “Asulappa Appaka” yaitu empat sifat yang harus dimiliki oleh raja yaitu Pandai, Kaya, Alim, dan Cakap. Dan sifat raja ini menempel pada karakter Karaeng Galesong yang memiliki gelar anumerta I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na yang artinya meninggal karena mempertahankan keyakinan, keyakinan ingin memerdekakan bangsa.

Kecuali pusara Karaeng Galesong.

Teman yang kuajak mengantar masuk sebentar. Tapi tak lama kemudian dia lari keluar. Saya ketawa dalam hati. Kelihatannya dia lumayan takut berdiri lama-lama di makam yang dikeramatkan ini. Saya berusaha tenang saja karena saya sudah lama ‘kenal’ dengan Karaeng Galesong. Sempat juga kuambil foto-foto di luar kompleks makam Raja. Semua tertutup rata dengan pasir.

Makam Karaeng Galesong memang masih belum mengkhawatirkan, rencana kami nanti akan datang lagi kesana memberikan sumbangan teman-teman dari SULSEL dan kemudian sedikit kami sisihkan untuk membersihkan makam Raja.

Terimakasih Karaeng

 

Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

 

 

Pada Dua Media Yang Berbeda

Pernahkah anda menulis pada dua media yang berbeda? Misalnya di Kompasiana, di Weblog, atau di Media cetak? Bagaimana rasanya setelah anda menulis disana? Pasti sensenya beda.

Let say sebagai Blogger, anda rajiiinn banget jenguk blog anda dan corat-coret disana, utak atik widget, download-download templat-templat untuk mempercantik weblog anda. Kemudian cari-cari inspirasi untuk content nya. Apa yang anda rasakan setelah itu? Seneng kan. Bahagia banget setelah klik button publish. Rasanya lega tidak kepalang setelah menulis satu post.

Tapi apakah anda pernah menulis dengan tantangan adrenalin yang kuat seperti di Kompasiana?

Saya sudah menulis di berbagai media termasuk di media cetak. Contoh di Jawa Pos. Setelah saya kirimkan artikelnya, beberapa hari kemudian dimuat. Kemudian pagi-pagi beberapa teman sms dan menghubungi via hp kalau mereka sudah membaca artikel saya. Dua hari saja hebohnya. Setelah itu sudah, finish. Tidak ada lagi komentar-komentar masuk, baik komen menyanjung maupun komen miring. Benar-benar sudah hilang dari peredaran. Kecuali kalau anda copy guntingan artikel anda, kemudian anda bagi-bagikan dan sebar. Mungkin anda bisa dapatkan ketenaran kedua. Wahhh..mungkin gak?

Nah kalau Kompasiana gimana? Koq bisa memacu adrenalin?

Coba kalau begitu, anda pasang artikel disana. Syukurlah cukup, mudah tidak begitu ribet. Tidak seribet memiliki weblog dengan basic templat wordpress. Saya sudah menjadi anggota disana meski akhirnya saya menerima untuk menjadi penulis pasif tanpa adrenalin di wordpress ini. Sebagai blogger anda harus rajin mencari pembaca dengan cara meningkatkan kualitas tulisan dan share di berbagai macam media dan tempat. Tapi tidak dengan Kompasiana. Disana pembaca sudah tersedia tanpa harus bingung mencari pembaca. Ribuan kompasianer (sebutan untuk penulis Kompasiana) sudah siap memberi klik dan mengomentari tulisan anda. Sehingga anda akan menyaksikan tulisan mana yang dikomen atau dicaci, tulisan mana yang masuk pada trending topic atau higlight, tulisan mana yang sering dihinggapi pembaca atau sepi, dan juga tulisan mana yang menjadi terkenal karena penulisnya dan jumlah kuantitas artikel yang dia tulis. Semua itu selalu update setiap menit tanpa henti. Saat kita menulis maka tanpa jeda waktu judul dan artikel kita langsung nongol di kolom Tulisan Terbaru. Tapi jangan salah, jumlah penulis Kompasiana yang ribuan akan siap menggeser kedudukan anda  sehingga judul dan artikel anda tidak lagi terpampang di halaman depan Kompasiana. Dan itu benar-benar bikin sense kita anjlog.

Nah kecuali kalau tulisan anda bagus :p

Selain itu apabila tulisan anda benar-benar menyentuh hati dan pikiran para admin Kompasiana, bukan tidak mungkin tulisan anda minimal nampang di kolom tengah yaitu highlight atau kolom kanan si trending topic. Maka anda bisa berbangga nama, foto dan artikel anda nampang sekaligus narsis. Lumayan bisa terkenal, paling tidak di Kompasiana, Koran Nasional ini lo! Tapi Highlight dan Trending Topic tidak lama bertahan, beberapa waktu, orang lain akan menggeser kedudukan anda. Terutama kalau kolomnya sudah tidak muat dan tulisan anda sudah mulai berbau basi. Nah maka anda harus rela digeser kedudukannya oleh tulisan-tulsan yang lebih fresh dan baru. Berarti anda harus rela tergeser. Namun dampaknya memacu adrenalin juga, anda kemudian bingung nyari-nyari inspirasi yang akhirnya ingin membuahkan satu tulisan lagi untuk bisa (siapa tahu) menggeser kolom-kolom yang sudah ada.

Sebagai weblogger, anda cukup puas dengan menulis tanpa direspon langsung oleh pembaca anda. Hal itu bisa anda lihat pada dashbor, siapa-siapa yang-datang dan berkomentar. Jangan-jangan hanya spammer, tak ada satupun komentator yang nongol. Ada satu, itupun temen sendiri! Kcian.. aku.

Tapi lama-lama kemudian muncul opini begini, Kompasiana memiliki ribuan penulis yang mereka benar-benar menyediakan fasilitasnya untuk itu, tanpa banyak syarat. Seolah-olah Kompasiana ini memang membebaskan penulisnya agar mendapatkan banyak artikel dan author tanpa kesulitan. Semua serba dimudahkan disana. Seorang teman mengatakan, “kenapa harus memperkaya orang lain?” Lama saya berpikir tentang kata-kata itu “memperkaya orang lain” . Apakah kita memberi kontribusi berupa financial? Saya rasa tidak. Kemudian apakah kita memberikan sesuatu kepada Kompasiana karena kita disediakan space disana? Itu juga tidak. Malahan kita menjadi lebih terkenal dengan menulis disana karena ribuan pembaca Kompasiana, dan juga pembaca yang tidak menjadi member pun bisa mengakses.

Kalau berpikir tentang mengoptimasi weblog kita pribadi, terutama menuju kepada financial reason, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk menulis di Kompasiana. Kecuali kalau kita mau dua-duanya. Dan kita memiliki kemampuan menulis, bahan-bahan inspirasi yang cukup banyak, dan terutama waktu. Nah kalau tidak, pilihlah satu diantaranya. Anda ingin terkenal atau anda ingin mencari uang dengan menulis di weblog.

Jangan dua-duanya la 😀

 

 

Haji Indonesia

Fenomena Haji di Indonesia sungguh dahsyat dampaknya. Haji bagi masyarakat Madura adalah prestisius.  Seorang Madura tulen belum bisa dibilang orang Madura apabila belum berhaji. Itulah pernak-pernik masyarakat berciri khas pulau di seberang kota Surabaya ini yang begitu dinamis, mengartikan ibadah dengan sangat nyata. Seorang Madura apapun profesianya, akan berusaha sebesar-besarnya mengumpulkan dana untuk berhaji. Itu bagi orang Madura dimanapun tempatnya. Hal ini disebabkan orang Madura tersebar di seluruh dunia karena kegemarannya yang juga suka merantau.

Pun juga dengan orang Bugis yang juga gemar merantau. Hal ini sangat jelas memang disebutkan bahwa dari sejak ditanda tanganinya Perjanjian Bungaya, orang Bugis mulai meninggalkan tanah Sulawesi secara besar-besaran, exodus hingga ujung dunia manapun. Dengung suara Sultan Hasanuddin masih membekas di telinga Orang Bugis bahwa dimanapun kamu berdiri disitulah langut dijunjung. Dimanapun kamu berada disitulah tanah dimana kita hidup, tanpa memandang bangsa apapun. Karena tanah dan langit adalah milik Allah adanya.

Seperti orang Madura juga, fenomena Haji Bugi berdampak sangat besar terhadap kehidupan di Sulawesi. Seorang Bugis yang akan mempersiapk keberangkatan menuju tanah Makkah adalah orang yang memiliki kecukupan spiritual, kecukupan ekonomi, dan kecukupan sosial. Berangkat haji bagi orang Bugis tidaklah mudah. Tidak seperti orang Madura yang bermodalkan ONH only. Apabila ONH 25juta, sedini mungkin orang Madura akan mengejar sepeser demi sepeser untuk mendapatkan dana sebesar 25juta. Apabila sehari bisa mengumpulkan 20ribu mungkin butuh bertahun-tahun bahkan dekade untuk bisa terkumpul uang sejumlah itu. Tak pernah terbersit mereka mengumpulkan uang sampai sebanyak misalnya 100juta untuk biaya haji tersebut. Asal sudah ngumpul 25juta maka segeralah mereka mendaftarkan diri mereka untuk segera berangkat ke Makkah.

Bagaimana dengan orang Bugis, mungkin agak rumit. Orang Bugis akan mengumpulkan uang yang lebih dari biasanya karena persiapan yang harus betul-betul matang. Mereka justru mempersiapkan pula dana untuk kegiatan penjemputan di bandara atau di embarkasi. Menjemput orang yang pulang dari tanah Makkah adalah sebuah kegiatan yang harus diatur sedemikian rupa, direncanakan matang-matang. Siapa yang akan menjemput, kemudian mobil apa yang akan digunakan untuk menjemput. Hal ini karena apabila belum ada mobil yang rencana akan dipergunakan untuk menjemput, maka biasanya seorang haji Bugis perlu mempersiapkan mobil dengan membelinya terlebih dahulu. Sehingga mereka sudah merasa aman dan nyaman nanti saat tiba di Indoensia. Dan mobil-mobil penjemput haji ini sudah barang tentu mobil yang berkelas sehingga seorang haji Bugis bisa mempersiapkan dana yang sangat besar, jauh lebih besar dari ONH yang mereka bayarkan.

Kostum yang akan dipakai saat nanti pulang pun sangat penting karena akan ada perbadaan antara Haji Bugis dan Orang Bugis. Tentu ini sangat berbeda. Inilah yang membedakan mereka yang sudah menunaikan ibadah haji dan yang belum. Kostum Haji Bugis baik wanita maupun pria berbeda dengan mereka yang belum berhaji. Terutama kostum wanita. Seorang wanita Bugis akan mengenakan baju kebaya panjang dan sarung khas Bugis, kemudian memakai jilbab topi yang kadang berwarna hitam. Topi khusus penutup rambut ini disambung dengan kain tile tipis yang juga bercorak hampir sama atau bahkan sama dengan kebayanya. Hampir mirip seperti kerudung yang dipergunakan pengantin barat.

Oleh-oleh haji juga beragam. Hampir semua orang yang pulang dari Makkah selalu disibukkan dengan oleh-oleh Haji. Meskipun begitu ada pula orang-orang yang cukup hanya dengan memberi makan, yaitu dengan hidangan khas Sulsel seperti Coto Makassar. Oleh-oleh ini pula menjadi kegiatan wajib bagi semua orang yang berpulan dari haji. Yang sering dipakai setiap haji yang pulang dari tanah suci adala tasbih dan sajadah. Namun kemudian hal ini berkembang karena makin banyak orang berziarah haji, maka  harus disiapkan pula oleh-oleh yang tidak terlalu mahal tapi berjumlah banyak

 

Out bond

Out Bound

Seorang teman sedianya akan mengajakku rafting di sungai Batang Merangin Jambi. Namun karena jadwal yang tidak sinkron dengan kegiatan akademik kampus maka terpaksa kurelakan keinginanku untuk mengunjungi lokasi rafting terbaik di pulau Sumatera tersebut. Di Sulawesi ada sungai Sa’dang yang berhulu di Toraja dan bermuara di Danau Tempe. Sungai Sa’dang memiliki kesulitan teknik rafting yang cukup kuat pada sungai yang lumayan panjang tersebut. Dibandingkan dengan sungai Batang Merangin yang berhulu di danau Kerinci Jambi ini cukup dikenal para rafter dan kayaker di seluruh Indonesia.

Mungkin anda sering mendengar Aji Massaid (alm) yang sering melakukan rafting arung jeram di lokasi sungai Citarik, Sukabumi Jawa Barat. Beliaulah yang mempopulerkan olah raga sungai ini. Bahkan Aji juga memperkenalkan atraksi dayung pura, yang seharusnya hanya para perwira yang biasa melakukan pesta pedang pura saat prosesi pernikahan. Namun Aji bias-bisanya mengadakan atraksi dayung pura saat menikah dengan Reza.

Sungai Batang Merangin juga memiliki kelebihan tersendiri, sama dengan sungai-sungai Rafting yang lain. Itulah sebabnya saat teman mengajakku kesana, dan ternyata saya tidak menyanggupi karena kesibukan akademik, saya lumayan menyesal. Saya ingin banget menyusuri sungai melegenda tersebut. Seorang sahabat, Amin (alm) adalah wartawan Sriwijaya Pos yang meliput berita bersama bupati Jambi dan meninggal di salah satu jeram yang ekstrim. Sehingga jeram sangat memacu adrenalin itu kemudian diberi nama Jeram Amin. Al Fatihah untuk bang Amin.

Disamping tingkat kesulitan sungai Batang Merangin yang cukup tinggi dibandingkan sungai Citarik, Sa’dang, dan Brantas, sungai ini juga melengkapi agenda wisata siapapun yang dating kesana karena terdapat Taman Batu tertua Geopark berumur 300tahun. Sehingga wah nyesel nggak selesai sampai saat ini. Hmmfth..

Namun memang rencana tinggal rencana, untunglah kemarin kampus  mengadakan kegiatan outbond Rafting dan Airsoft Gun. Ini kesempatan yang tak mungkin kutinggalkan. Rafting harus terlaksana, berhubung hobby. Heheh.. 😀

Saya dan teman-teman bergerak menuju kecamatan Ngantang dimana ada sungai Brantas untuk rafting disana. Bukan hanya rafting atau arung jeram, kami pula mengadakan outbond Airsoft Gun di dekat hotel dimana kami tinggal di danau Selorejo, tepatnya di tengah danau yaitu di pulau Jambu. Kegiatan Airsoft Gun yang sama-sama memacu adrenalin bersama kolega-kolega saya menyisakan cerita-cerita lucu. Banyaknya buah jambu saat itu yang membuat saya lengah. Berkali-kali terkena lecutan cat panas yang membuat paha bengkak selama seminggu. Tapi lumayan lah buat kenang-kenangan dan pengalaman. Bengkak memang.. hihih.. 😀

Esoknya setelah melakukan outbond di pulau Jambu, tibalah saatnya untuk rafting arung jeram di sungai Brantas Ngantang. Mirip dengan sungai Citarik, namun kesulitannya lebih sedikit disbanding sungai Citarik. Tikungannya juga lebih banyak. Saat melalui dam, skipper tidak mengizinkan kami untuk melalui. Mereka bilang tidak ada seorang rafter dan kayaker pun yang sanggup melalui dam bertembok tinggi ini. Sehingga hanya kayak nya saja yang dijatuhkan. Kami menunggu di bawah sambil menikmati heci dan kopi yang dibawakan oleh panitia. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan arung jeram menuju finish di selorejo.

Ini harusnya ada foto-foto ‘narsis’ kami selama berafting di Brantas tapi begitulah memang kalau niatnya sudah pengen narsis saja. Sehingga perjalanan rafting kami sama sekali tidak berdokumen. Ini disebabkan karena masalah administrasi. Yaelah.. 😀

Padahal aku dah eksyen seperti James Bond .. ihik!

 

Lama Tak Bertemu

Lama tak Bertemu

Lama tak bertemu, mungkin sekitar 12 tahun yang lalu. Lama tak bertemu secara fisik dengan pimpinanku, rector UIN Maulana Malik Ibrahim, rektor yang jabatannya baru berakhir, 2013 lali. Beliau Prof. Imam Soeprayogo, orang yang sebenarnya sudah lama kukenal dari sejak saya masih kecil.

Awalnya saya tidak mengira akan bertemu beliau kembali. Terakhir saya melihat beliau setahun yang lalu saat pertemuan antar dosen dengan pejabat. Tentu saja beliau tidak begitu perhatian pada satu-satu undangan karena banyak, ada sebanyak 400 dosen di ruangan gedung aula rektorat lantai 5. Mungkin itulah kali terakhir saya melihat beliau namun tidak secara dekat seperti 3 hari yang lalu, saat saya bertemu beliau secara langsung. Saat itu kebetulan saya mendapat amanah dari kepala langsungku, ibu Mufidah untuk menyerahkan sesuatu ke Prof. Imam. Dan kemudian saya berangkat menuju kampus Pasca UIN di kampus II, Batu.

Pak Imam yang masih saja duduk berkoantor meskipun beliau sudah mendapatkan gelar Professornya, memiliki ruang khusus bertuliskan nama beliau di pintu. Persis seperti ruang Prof. Sutandyo, guru besar di UNAIR. Saya ingat betul pak Imam pernah mengatakan tentang ruangan prof. Sutandyo di UNAIR yang tetap dibiarkan seperti itu tanpa ada perubahan. Pak Imam mengatakan bahwa ruangan prof Sutandyo menjadi spirit bagi semua mahasiswanya sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk maju seperti beliau. Begitupun dengan pak Imam, beliau mendapatkan ruangan yang tidak terlalu luas namun lengkap dengan satu set computer dan LCD di atap. Saat saya kesana, seperti biasa beliau menhadap ke computer, tetap dengan kesehariannya, menulis.

Teringat saat itu beliau selalu bertanya kepada semua kolega, mana buku yang sudah kamu buat. Ini suatu hal yang tidak mudah. Lama saya jajaki pernyataan itu. Bagaimana saya bisa seproduktif beliau, ratusan buku sudah dikarang. Belum lagi ribuan tulisan, jurnal dan artikel. Menurut pak Imam itu adalah aktifitas rutinnya saat pagi setelah subuh. Ada sedikit waktu sampai menjelang keberangkatan beliau ke kampus sehingga kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Apabila sehari satu tulisan saja, bisa dibayangkan dalam setahun ada lebih dari 300 sentuhan jari-jarinya kedalam tulisan. Entah bagaimana saya bisa membayangkan saya pribadi, apakah saya bisa seperti beliau. Saya sendiri baru mencapai 175 artikel dalam kurun waktu 3 tahun, dan baru satu buku yang sudah terbit. Yaelah broo!

‘Asslamualaikum’, saya mencoba menyapa beliau pelan. Takut mengganggu aktifitasnya, beliau seperti sedang sibuk di depan PC. Saya yang masih berada di luar ruang beliau, tepat di depan pintu. Saya melirik beliau yang masih sibuk menggerakkan jarinya menuliskan dan mencurahkan ide-idenya. Dan segera beliau menjawab ‘Waalaikum salam’ dan segera saya masuk ke dalam ruangan beliau. Saya katakan maksud kedatangan saya dan menyerahkan berkas yang dimaksud untuk ditandatangani. Sambil memeriksa kertas-kertas tersebut beliau sempat menanyakan saya bertugas di fakultas apa, dan saya pun menjawab dengan jujur bahwa saya di humaniora namun berkantor di LP2M. Oh di bu Mufidah situ, responnya. Saya pun mengangguk. Hari sudah menjelang Jumatan, beliau segera berdiri dan mempersiapkan akan berangkat shalat, sambil beresin ini itu, masih saja bertanya. Sedianya saya sudah akan meninggalkan ruang beliau dan berpamit.

Tau-tau pertanyaan lain muncul lagi, “lha sampean itu namanya siapa?”.. Saya terperanjat. “LHAH!”.. jadi dari tadi pak Imam itu lupa sama saya. Ya ampun.. Jadi inget, saya terakhir bertemu dekat dengan beliau itu tahun 2002. Lama sekali memang. Saat itu saya juga bertemu untuk menyampaikan ‘amanah’ kepada beliau. Dan memang sudah kebiasaan pak Imam dari dulu sampai sekarang, masih aja tetep sama. Pak Imam dengan kesederhanaannya, tak pernah mau menerima honor. Alasannya katannya beliau tidak ikut-ikut bekerja dalam kegiatan itu. Dan kemarin itu saya masih membuktikkannya, beliau masih saja lagi-lagi mengeluarkan lembaran-lembaran tersebut dari amplop. Perasaan saya berkecamuk, ingin sekali menolak pemberian beliau itu, dalam kepala saya ada suara-suara mengatakan rejeki koq ditolak. Entah kenapa, setelah 12 tahun tak bertemu perasaan saya jadi iba.

Beliau sudah seperti bapak bagi saya karena memang sejak kecil saya sudah mengenal beliau, Pak Imam pun paham sekali kronologis saya dari sejak kecil. Saat bertemu kemarin sempat mengatakan tentang itu, mengingatkan bapak saya almarhum yang berjuang sejak awal UIN berdiri bersama beliau hingga saya masuk UIN pada 1999. Sayapun mengiyakan. Saya sempat pula ungkapkan saat beliau berhaji bersama-sama dengan keluarga, juga dengan bapak dan ibu saya ke tanah Suci, saya sempat bilang, bapak yang mendampingi orangtua saya dan sempat mengambil banyak gambar foto bapak dan ibu saya yang kemudian menyerahkan foto-foto tersebut kepada orangtua saya. Masih sempat-sempatnya beliau mengafdruk ratusan foto tersebut dan menyerahkannya kepada masing-masing rekan beliau dalam kelompok haji ini.

Dan sambil mengunci ruangan beliau yang bertuliskan Prof. Dr. Imam Soeprayogo, MA tersebut, beliau masih saja bertanya dan bercerita. Padahal sedianya saya sudah berpamitan pulang. Saya tak mungkin jalan bersama beliau, rikuh rasanya. Eh ternyata enggak. DI sebelah ruangan beliau di lantai 3 tersebut ada lift . Bahkan beliau sampai di lift pun masih saja berceritera tentang nostalgianya dengan orangtua ku. Saya jadi kikuk, masak mau turun satu lift dengan beliau, nggak pantas rasanya. Saya masih saja melongo saat beliau memencet tombol lantai satu. Sedianya biarlah saya turun lewat tangga. Tidak terlalu berat karena turun, kalau naik emang iya. Heheh..

“Ayo masuk” katanya. Saya yang ndlahom aja di luar segera maju dan masuk ke dalam lift. Untung tidak terlalu lama. Namun masih saja beliau tidak diam dan bercerita. Saya hanya senyam-senyum aja, lha mau gimana lagi. Jadi bingung ini. Sesampai di lantai satu, saya yang masih kebingungan karena jarang masuk di kampus pasca, masih sempat bertanya sambil bingung. “Lantai berapa ini prof?”.. Sambil clingak clinguk. Bingung saya kemudian hilang karena pak Imam bilang “yaa ini sudah nyampe”

Hahaha..dasar blo’on aku

Dan sambil berlalu beliau masih saja berbicara, padahal sudah beda arah. Saya tunggu sampai bayangan beliau menghilang, baru kemudian saya berlari menuju parkiran. Olala sungguh pengalaman yang unik.

Pribadi beliau memang saya akui, kesederhanaannya yang begitu bergema pada kita semua rekan kerjanya terutama yang sering dekat dan melihat. Makanan kesukaan beliau adalah pecel dan tahu tempe. Sekali pernah putra-putri pak Dimyati Akhyat (alm), sahabat pak Imam, mereka pernah mengatakan..pada suatu saat pernah pak Imam datang ke rumah pak Dimyati yang saat itu masih di dalam perumahan kampus UIN. Sempat pak Imam melihat meja makan yang ditutup oleh tudung saji. Kemudian beliau membuka tudung saji tersebut dan mengatakan Waaaaahhhh. Hahahaha saya jadi ketawa ketiwi diceritain mereka. keluarga Pak Dim, panggilan pak Dimyati, biasa menyajikan masakan-masakan seperti jerohan sapi. Kata pak Imam, wah disini ternyata makanannya enak-enak yah.. sambil berkelakar pak Imam melihat lauk-lauk yang tersaji di rumah pak Dim.

Suatu saat dating tamu-tamu dari luar negeri, para duta besar dari Negara-negara Timur Tengah. Pak Imam menyarankan untuk menyajikan kue dan buah di meja tamu. Dan orang yang sering disuruh beliau adalab ibu Luluk sahabatku, sehingga saya tau betul ceritanya dari bu Luluk. Dia bilang, pak Imam selalu menyuruh memotong kue yang berukuran besar menjadi kecil. Beliau bilang kalau ukurannya besar itu tidak pantas disajikan, orang akan susah memakannya karena harus membuka mulut lebar-lebar. Pak Imam nggak mau hal seperti itu terjadi. Sehingga ibu Luluk selalu siap dengan pisau-pisa di pantry yang dipersiapkan untuk memotong kue-kue ini. Pada suatu saat ada acara lain di ruang beliau, yaitu kedatangan tamu Negara. Saat itu bukan ibu Luluk yang mempersiapkan konsumsinya, sehingga kue-kue yang masih asli dari took itu tidak dipotong-potong. Sehingga setelah acara beliau mulai menyindir dengan bahasa Jawa, “wong opo kon arep maaangapp!” (apakah orang disuruh membuka mulut lebar-lebar)

Ahahaha, saya nggak habis-habis tertawa saat diceritain ibu Luluk. Memang benar kalau dipikir-pikir. Saya bayangin kalau makan lapis Surabaya itu bingung karena lebar banget. Belum lagi kalau makan bikang, roti bikang itu selebar lepek cangkir..xixixi. :D.

Pernah juga saat beliau akan berangkat ke Jakarta, saya dan ibu Luluk berangkat ke loket tiket pesawat untuk membelinya. Ibu Luluk mengatakan sambil melihat-lihat jadwal pesawat, “Pak Imam itu harus dibelikan tiket pagi Ika, supaya berangkatnya aman dan nyaman”, kata nya begitu. Suatu saat pak Imam kembali akan melaksanakan perjalanan jauh menyuruh orang lain untuk membeli tiket. Sehingga dia tidak tau jam-jam berapa yang biasa dipakai oleh beliau apabila. Dan ternyata benar, tiket pesawat tersebut dibeli dengan jadwal berangkat jam 2 dini hari.

Apa yang dikatakan pak Imam saat tau akan berangkat jam 2, “wong opo kon budal bareng maling!” beliau menggerutu.

Saya nggak habis-habis ketawa cara beliau berbicara dalam bahasa Jawa ala Trenggalek, kota kelahiran beliau. Sangat medok.

Lagian beli tiket aja susah amat. Pilih jadwal koq jam 2 pagi. Bingung bayanginnya, brangkat malem-malem. Owalah!

Pak Imam, mudah-mudahan anda membaca tulisan saya. Hehe.

Terimakasih bapak.. J

Mitos Lagi

Mitos Lagi-lagi

Berapa kali saya harus menghela nafas panjang karena tidak diijinkan melakukan ini, tidak diijinkan melakukan itu.  Dan sayangnya tidak ada penjelasan yang masuk akal tentang larangan-larangan itu. Itulah mitos, sebuah fenomena yang sering saya dapatkan dari sejak masih anak-anak. Sebagai orang Jawa asli meski keturunan Ambon, orangtua dan nenek saya banyak menunjukkan hal-hal yang kadang tak masuk akal, tapi saya alami juga waktu itu, walau bagaimanapun. Hal-hal yang mengandung pembelajaran panjang ini ternyata belum tentu berdampak buruk. Banyak sekali segi-segi positif yang bisa saya dapat dari sini.

Pernahkah anda saat makan ayam pada bagian-bagian tertentu kemudian ketauan oleh nenek atau orang tua kemudian anda dilarang memakannya. Saya pernah. Saat saya makan sayap ayam kemudian ayam tersebut diambil seketika oleh nenek. Beliau bilang anak kecil nggak boleh makan ini. Saya cuma mrengut aja, kemudian sayap ayam yang sudah diambil nenek diganti sama kaki ayam alias cakar. Duh betapa kasian aku ini, makan cakar yang nggak ada daging-dagingnya.  Belum lagi setelah makan pantat ayam (brutu), nenek malah bilang kalau makan ayam bagian ini akan bikin kita jadi cepat lupa atau pikun. Ini lagi yang bikin saya bingung. Apa hubungannya pantat ayam dan gejala lupa atau pikun. Kasihan bener aku ini.

Baru nyadar setelah itu bahwa pantat ayam mengandung lemak cukup tinggi sehingga memiliki rasa beda dengan daging di bagian lain.  Dan itu adalah bagian favorit  orang-orang dewasa sehingga anak kecil tak boleh mengkonsumsinya. Jadi kesimpulannya mereka tidak mau terlihat anarkis mengatakan bahwa ini tidak boleh, itu tidak boleh. Cukup sederhana hanya dengan mengatakan bahwa makan ini bikin pikun. Yaelah!

Mungkin anda tidak mengira bahwa makan dengan duduk di tengah-tengah pintu adalah mitos juga yang mengatakan bahwa nanti akan terjadi fenomena, anda tidak akan dapat jodoh yang cepat. Wah saya pernah juga mengalaminya. Secara tidak sengaja saya duduk di tengah pintu dan makan dengan membawa piring. Tidak ada yang saya pikirkan kenapa tau-tau duduk di pintu kemudian makan. Nah yang terjadi saat itu adalah nenek melarangku makan disitu dan sesegera mungkin pindah ke tempat lain. Beliau bialng nanti jauh jodoh. Dengan sedikit mengernyit kupikir-pikir hingga habis sepiring makanku. Apa hubungannya makan duduk di pintu dengan jauhnya jodoh?

Saat ini mitos seperti itu kadang tidak relevan apabila dibunyikan. Apa pasal? Saya pernah melihat beberapa orang sudah tak lagi mengacuhkan mitos ini. Hal ini karena aspek-aspek efektifitas. Kadang kita terpaksa makan duduk di pintu atau dekat pintu karena tempatnya sudah tidak cukup. Beberapa teman sudah menggunakan ruang tamu sekalian sebagai ruang makan karena sempitnya. Rumah-rumah type RSS memang sudah diset tanpa ruang makan sehingga aktifitas sudah dilaksanakan di ruang tamu. Dapur yang super mini tidak pula memberikan space untuk makan keluarga. Nah akhirnya ungkapan-ungkapan mitos seperti ini menjadi kurang relevan.

Dan sekarang lagi-lagi, pernahkah anda makan sayap ayam yang bagian ujung? Saya pernah. Dan lagi-lagi seseorang melarang. Kali ini pembantuku sendiri. Ini terjadi dulu saat saya masih remaja SMP. Si mak pembantuku itu mengatakan, tulang ujung sayap itu jangan dimakan karena nanti akan dibenci sama mertua. Olala..saya waktu itu yang masih hijau jadi membayangkan yang tidak-tidak. Apakah semua mertua galak seperti gambaran yang kubayangkan saat itu. Padahal sejujurnya kenapa makan saya ayam menimbulkan larangan-larangan tanpa alasan empiris. Kita tau semua bahwa pada sayap ayam banyak terdapat banyak kulit-kulit yang notabene rasanya gurih. Dan kemungkinan besar rasa yang berlebih itulah yang mengakibatkan orang melarang anak-anak untuk mengkonsumsinya. Dan cara yang dipakai untuk melarang mengkonsumsi sayap ayam itu lagi-lagi dengan cara-cara anarkis agar supaya kita melepaskan sayap ayam tersebut dan menggantinya dengan cakar. Hufft!

Sekali lagi ingin saya ungkapkan, mitos memang bagian dari budaya kita orang Indonesia dan saya sebagai orang Jawa asli. Mitos tidak bisa dilepaskan karena sudah mendarah daging dalam jiwa kita masing-masing sebagai seorang Jawa yang berbudi luhur tinggi,luhung, adigung dan adiguna. Mitos adalah seni orang Jawa mengatakan hal tanpa menyakitkan perasaan orang yang diajak bicara. How to say NO is difficult for Javanese.

And this is true.

Jangan Makan Brutu

“Jangan makan brutu’ Itulah yang dikatakan nenek saat ku mengunjungi beliau di sebuah dusun bernama Jambewangi, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Saat itu kumasih berumur 9 tahun dan saat itu sedang ada perhelatan acara pengantin tante, adik ibu yang menikah dengan om yang sama2 berasal dari Jawa. Hiruk pikuk mengolah berbagai macam penganan pun digelar di belakang rumah nenek yang cukup luas. Ada yang menyiapkan kue, ada yang meracik bumbu, memasak nasi dan lain2.
Sesaat kemudian ku melihat seorang ibu di depan tungku siap dengan sebuah wajan penggorengan yang cukup besar dengan minyak yang telah siap di dalamnya. Di sebelah dia duduk terdapat panci yang cukup besar berisi potongan ayam yang siap akan digoreng. Panci lain juga tersedia disana berisi ikan2 mujair yang ditangkap dengan menggunakan jaring yang bentuknya tidak terlalu besar.
Sambil iseng kuajak ngobrol ibu yang sedang memasukkan ayam satu persatu ke dalam wajan. Satu panci lagi disebelahnya berisi ayam yang sudah digoreng dan siap disajikan. Aku pun melirik panci tersebut siapa tau ada ayam kriwil2 yang kecil2. Biasanya potongan kecil2 itu tidak disajikan ke depan nanti. Tapi itu hanya pikiranku semata. Ku mendekat dan kuambil sepotong kecil yang aku nggak tau ini bagian tubuh ayam yang mana, asal kecil aja. Dan kumengendap2 lari pelan membawa secuil ayam yang kukira nggak laku dan nggak berguna. Hahaha..nggak berguna.
Dan voila! Ada nenekku menghampiriku dan mencabut ayam dalam genggaman tanganku.
Ojo mangan brutu nduk! (jangan makan pantat ayam nak)
Waduh..malu sekali, udah kecolongan, ayam dalam genggaman ditilang lagi. Apes banget.
Emang kenapa mbah? Ku penasaran bertanya pada beliau.
Mengko nggarai pikun. (nanti jadi pelupa kamu)
Ouwh..baru kutau bahwa brutu (pantat ayam) itu membuat orang menjadi pelupa. Tapi apa benar akan membuat orang menjadi pelupa. Dan dibawah ini adalah bagian2 potongan ayam yang menurut mitos di Jawa memberikan sensasi2 khas yang membuat orang akan berpikir beberapa kali untuk makan ayam.
Brutu : memberikan pengaruh kelupaan
Sayap : membuat mertua tidak menyayangi menantu
Kepala : Nanti akan bisa jadi pemimpin (katanya bisa jadi presiden)
Paha : Hanya diberikan pada orang dewasa (anak kecil tidak diberikan izin)
Dada : Hanya diberikan pada orang dewasa (anak kecil tidak diberikan izin)
Cakar : Memang selalu diberikan pada anak2 seumurku dulu (9tahun) Kasihan deh aku!
Leher : Diberikan pada anak2, bukan orang dewasa
Jerohan ayam (usus, hati, ampela) : Hanya diberikan pada orang dewasa (Dulu saat ku masih kecil, hanya kakek yg boleh makan)
Telur dalam tubuh ayam : Tidak boleh diberikan pada wanita hamil
Telur ayam : Kalau ketemu telur berisi dua kuning harap dibagi dua (untuk wanita hamil).
Oh my God susah sekali mau makan ayam..
Dan untung ibuku sudah tidak ingat mitos2 itu lagi. Mungkin dulu sering makan brutu.