Bagaimana Anda Mengatakan “Tunggu” Dalam Bahasa Gaul Arab?

Ya, itu tergantung dialek mana yang Anda maksud. Karena saat ini tidak ada “bahasa gaul Arab” yang terpadu; setiap negara Arab memiliki dialek atau bahasanya sendiri dan mereka menggunakan Bahasa Arab Standar sebagai bahasa resmi. Kita juga harus ingat bahwa penggunaan dialek atau bahasa gaul sebagai bahasa dalam penggunaan Bahasa Arab Standar tidak akurat secara ilmiah dan linguistik. Ya, bahasa gaul bahasa Inggris yang digunakan oleh penutur asli bahasa Inggris adalah bahasa gaul turunan dari bahasa Inggris. Hal yang sama berlaku dengan bahasa Prancis dan bahasa lainnya. Tidak juga dengan dialek/bahasa gaul Arab.

Jika Anda berbicara Bahasa Arab Standar, itu tidak berarti Anda dapat memahami bahasa gaul Arab mana pun; Anda mungkin akan mencari orang Mesir, Suriah, Irak, Afrika Utara… dengan mulut terbuka! Namun jika seseorang berbicara Bahasa Inggris Standar misalnya, dia pada dasarnya dapat berkomunikasi dengan semua penutur asli bahasa Inggris. Hal ini karena kita masih lebih suka menyebutnya sebagai bahasa gaul Bahasa Arab Standar, padahal sebenarnya bahasa tersebut bukan bahasa gaul dan sudah tidak lagi digunakan sejak lama. Bahasa gaul Arab merupakan bahasa yang khas karena bahasa tersebut tidak lagi memenuhi syarat kejelasan timbal balik dalam linguistik (yaitu kemungkinan untuk saling pengertian).

Saya menulis semua kata-kata di atas karena saya berharap sebagian besar orang non-Arab bingung dengan masalah ini (saya bahkan bertemu orang-orang dari Eropa yang mempelajari Bahasa Arab Standar dengan tujuan berkomunikasi dengan orang-orang Arab tetapi pada akhirnya menemukan bahwa tidak ada seorang pun di dunia Arab menggunakannya dalam percakapan sehari-hari meskipun dipahami secara luas.

Jadi mengucapkan “tunggu” dalam bahasa gaul Arab (bukan bahasa gaul) akan berbeda antara satu negara dengan negara lainnya (setidaknya dalam pengucapannya).

Selain Ntor (Lebanon), ada

Estanna (Mesir)

Essenna (Aljazair)

Stanna (Tunisia)

Tsanna/Bllati (Maroko)

Dageega (Teluk Arab)

Dan banyak lagi yang lainnya.

#slangwords

#bahasagaul

#arabic

Guyonan Pendek Mas Walkot

Pernah sekali bertemu dengan pak Walikota Surakarta yaitu Gibran Rakabuming Raka atau putera dari Presiden Indonesia Bapak Jokowi. Saat itu mas Gibran, orang lebih sering memanggilnya begitu, sedang mengunjungi kampusku UNS Surakarta. Dan selalu ada kerumunan wartawan saat walikota hendak beranjak pulang.

Ada dialog pendek yang dibicarakan saat wartawan berkerumun. Sebuah pembicaraan unik, yaitu saat wartawan iseng menanyakan latar belakang studi Gibran Rakabuming. Tentu saja orang nomor satu di Solo ini menjawab sekenanya. Hal ini karena semua sudah tau kalau  latar belakang pendidikannya terakhir adalah di Singapura.

Sehingga mas walkot ini pun menjawab dengan ringan

“cek’en dewe nang kampusku kono loo, nang Singapura”

(red) Cek saja sendiri di kampusku sana, di Singapore”

Sebuah jawaban yang menohok.

Karena siapa juga yang mau cek latar belakan pendidikan Gibran yang harus ngeloyor ke Singapura. Habis di ongkos.. 😀

Untungnya pertanyaan ini tidak ditanyakan ke arema seperti aku.. 😀

Coba kalau pertanyaan tersebut dilayangkan pada arema. Jawabannya menjadi seperti ini :

Cek’en nang kampusku kono lo ndeng!

Ada kata ndeng di akhir kalimat. Ndeng kependekan dari kata gendeng atau gila. Kadang terms of address dengan phatic communion ini juga menggunakan kata cuk. Dua kata ini seolah sudah menempel tanpa sadar saat berbicara dua arah. Darah arema memang..

#slangwords

#phaticsommunion

#termsofaddress

#arema