Strukturalisme Ilustrasi Phoneme

Gagasan kontras dan struktur yang melekat pada sistem sangat dikenal dalam analisis bahasa dan dipelopori oleh Saussure. Mereka mungkin yang paling mudah untuk menggambarkan dalam fonologi. Perhatikan kata bahasa inggris kelelawar, yang terdiri dari tiga segmen disusun dalam urutan tertentu (tab berbeda dari kelelawar). Kelelawar, ketika diucapkan, adalah ledakan suara terus-menerus, tidak terdiri dari urutan unit diskrit yang jelas dan dapat dikelompokkan. Bagaimana kita tahu ada tiga segmen? Selanjutnya, setiap pengucapan kelelawar agak berbeda dari setiap pengucapan lain dari kata yang sama dengan pembicara yang berbeda dan oleh pembicara yang sama pada berbagai kesempatan (katakanlah, bila di bawah pengaruh alkohol). Bagaimana kita mengidentifikasi bentuk yang berbeda secara fisik sebagai kata yang sama? Apa sifat asli  yang konstan balik keragaman ini?

Jawabannya, tentu saja, adalah konsep fonem, sebuah identitas tetap dalam keseluruhan struktur unit kontras. Pengucapan dari kelelawar mungkin menunjukkan keragaman yang luas, namun masing-masing memiliki perbedaan dengan kata dalam bahasa Inggris yang lainnya, misalnya, pat, mat, cat, sat, fat, vat, bit, bet, but, boat, beat, bough, back, bag, bad, bass, badge, batch. Kami menegaskan bahwa bahasa Inggris memiliki a / b / fonem, a / p / fonem, an / I / fonem, a / k / fonem, dan sebagainya karena karena perbedaan kata-kata ini. Kata-kata ini berbeda karena bentuk yang berbeda (kelelawar versus kucing) sesuai dengan arti yang berbeda(Seekor mamalia pemakan serangga atau pemakan buah yang terbang bersayap versus mamalia karnivora yang biasanya tinggal di darat). Fonem seperti /b/ dan /p/ berfungsi sebagai unsur khas yang berbeda secara bahasa dalam bahasa Inggris karena keseluruhan sistem perbedaan fonologis dalam bahasa ini, tapi mereka tidak melakukannya, katakanlah, di Yimas. Dalam bahasa ini ada satu fonem yang dapat menggunakan keduanya, yang bervariasi antara mereka, sehingga kata untuk “keduanya” bisa diucapkan baik [imban] atau limpan]. Untuk [p] dan [b] di Yimas, penggantian satu untuk yang lainnya menyebabkan tidak ada perubahan diskriminasi kata (bentuk yang berbeda, tapi makna yang sama); Sebuah Yimas pembicara mendengar [imban] atau [impan] sebagai “keduanya.” Hanya ada satu fonem, di sini terwujud baik sebagai bunyi [b] atau [p].

Contoh ini menggambarkan prinsip umum dalam teori strukturalisme. Yang dipertimbangkan adalah apakah perbedaan bentuk (dalam hal ini bentuk fonetik) berdiri dalam sebuah sistem kontras yang berfungsi. Setiap bahasa mengacu pada sebuah perbedaan dan pada prinsipnya perbedaan tersebut unik dalam rangkaian formal suara dan membuat mereka berfungsi dengan menggunakannya untuk membuat perbedaan yang berarti. Yang menentukan setiap unit, kemudian, apakah tempatnya berada dalam sebuah sistem perebdaan tertentu. Pertimbangkan definisi fonem /  / dalam vokal persediaan fonem Latmul dari New Guinea dan Trukese

Contoh dan ilustrasi phoneme dalam bahasa jawa diuraikan sebagai berikut. Dimulai dari fonem dimana sebagai  bunyi bahasa yang mempunyai fungsi sebagai pembeda makna.

Contoh:            – kudu [kudu] ><        kuru [kuru]

‘harus’                      ‘kurus’

– tuma [tumͻ]             ><        tuwa [tuwͻ]

‘kutu’                        ‘tua’

Selanjutnya, alofon adalah variasi dari fonem yang tidak mempunyai fungsi sebagai pembeda makna.

Contoh:           – pithik [pithIʔ]           ><        pithik [pitik]

Ayam (Semarang)                   anak ayam (Banyumas)

Alofon memiliki kriteria yaitu dua buah bunyi dapat dianggap alofon dari satu fonem yang sama jika memperlihatkan kemiripan berdasarkan proses pembetukannya dan dapat dianggap sebagai alofon jka dua bunyi berdistribusi komplementer atau bervariasi bebas.

Dalam bahasa jawa juga dikenal dengan pasangan minimal yaitu pasangan dua kata (dasar), jumlah dan urutan bunyinya sama, tetapi didalamnya hanya berbeda satu bunyi. Untuk mengetahui fonem-fonem suatu bahasa, biasanya digunakan pasangan minimal sebagai alat pembeda antara bunyi yang satu dan yang lainnya.

Contoh:            – bapak [bapaʔ]           – papak [papaʔ]

‘bapak’                       ‘tumpul’

– udu [udu]                  -udhu [uᶑu]

‘bukan’                       ‘iuran’

#structuralism

#phoneme

Ciri-ciri Fonetis Dalam DIstribusi Komplementer

Distribusi Komplementer merupakan ciri-ciri fonetis yang mengarah pada terima atau tidak terimanya suatu gabungan bunyi oleh masyarakat penuturannya. Adapun  Vokal dan Konsonan Bahasa Jawa, secara ringkas diuraikan sebagai berikut:

  1. Fonem Vokal

Bunyi vokal dibedakan berdasarkan posisi lidah dalam mulut, bentuk bibir, dan tingkat pembukaan mulut.

Bunyi vokal dalam bahasa jawa ada sepuluh yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ε/, /ә/, /ʊ/, /ͻ/, dan /I/. Sedangkan fone, bahasa jawa  ada enam yaitu [a], [i], [u], [e], [o], dan [ͻ]. Serta simbol fonetik ada sepuluh yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ε/, /ә/, /ʊ/, /ͻ/, dan /I/.

  1. Fonem Konsonan

Konsonan merupakan bunyi yang timbul akibat udara yang keluar dari paru-paru melalui rongga mulut dan rongga hidung. Yang terpenting  dalam konsonan adalah daerah artikulasi dan cara artikulasi.

Ø  Bunyi Bilabial,  yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan oleh kedua bibir yang saling menyatu. Yang termasuk bunyi bilabial yaitu [b], [p], [m], dan [w].

contoh:            -biyung [biyʊŋ]           -rebab [rәbab]              -anteb [antәb]

-palsu [palsu]               -sapi [sapi]                   -karep [karәp]

Ø  Bunyi Dental atau Alveolar, yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan oleh daun lidah yang menempel gigi/gusi depan atas bagian dalam.  Yang termasuk bunyi dental yaitu [d], [t], [s], [n], [r], dan [l].

contoh:                        -adil [adɪl]       -babat [babat]              -wekas [wәkas]

-apal [apal]      -reged [rәgәd]             -sikil [sikɪl]

-nakal [nakal]

Ø  Bunyi Retrofleks

adalah bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan ujung lidah bagian bawah yang menempel atau menyentuh langit-langit keras karena hembusan udara dari paru-paru.

Contoh:           -dhawuh [ɖawʊh]        -godha [goɖɔ]

-thuthuk [ʈuʈʊʔ]           -pathi [paʈi]

Ø  Bunyi Palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan daun lidah yang menempel pada langit-langit keras yang disertai hembusan udara dari paru-paru. Yang termasuk bunyi palatal adalah [j], [c], [z], [y], [ʃ], dan [ɲ].

Contoh:                   -jipuk [jipʊʔ]                    -lunyu [luɲu]               -cekel [cәkәl]

-pacul [pacʊl]

Ø  Bunyi Velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh rongga tenggorokan. Yang termasuk bunyi velar adalah [g], [k], [x], dan [ŋ].

Contoh:           -gedhe [gәɖә]              -kawat [kawat]            -ngilo [ŋilo]

Ø  Bunyi Glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh pita suara tertahan di tenggorokan. Yang termasuk bunyi glottal yaitu [h] dan [ʔ].

Contoh:           -tahu [tahu]                             -takwa [taʔwa]

-dhahar [ɖahar]                        – bapak [bapaʔ]

  1. Konsonan Homogan

Konsonan homorgan adalah konsonan yang berasal dari satu daerah artikulasi. Seperti bunyi [b] dan [p], [f] dan [v], [d] dan [t], [ɖ] dan [ʈ], [j] dan [c], dan [g] dan [k].

Contoh : -bubut [bubʊt]           ><        puput [pupʊt]

‘cabut’                                 ‘putus’

-bakul [bakʊl]          ><        wakul [wakʊl]

‘penjual’                             ‘tempat nasi’

  1. Fonem Khas Bahasa Jawa
  2. Bunyi Aspirat

Semua bunyi hambat bersuara dan takbersuara dalam bahasa jawa cenderung diikuti bunyi aspirat, yaitu bunyi frikatif glottal takbersuara, atau bunyi [h].

Contoh:           -bapak             →  [bʰapʰaʔ]

-sapa                →  [sɔpʰɔ]

-ketan              →  [kәtʰan]

-adus               →  [adʰʊs]

-adhi                →  [aɖʰi]

-thuyul             →  [ʈʰʊyʊl]

-jembar            →  [jʰәmbʰar]

-ucul                →  [ucʰul]

-gulu                →  [gʰulu]

  1. Bunyi Pranasal, yaitu bunyi yang mendahului nasal.

Contoh:           -bali                 → [ᵐbali]

-boten              → [ᵐboten]

-gresik             → [ᵑgʰrәsɪʔ]

  1. Diftong dan Monoftong

Ø  Diftong atau Vokal Rangkap

Diftong merupakan deret dua fonem vokal yang berbeda yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Contoh: danau, pulau, kerbau dsb.

Bunyi [au] pada contoh tidak dapat dipisahkan menjadi *dana-u, *da-na-u, *pula-u, *pu-la-u.

Ø  Monoftong atau Vokal Tunggal

Contoh:           danau  → dano           satai     → sate

Pulau   → pulo            gulai    → gule

  1. Gugus Konsonan (Klaster)

Klaster adalah dua konsonan yang berbeda berderat dan membentuk satu kesatuan.

Contoh:           -[bl]     → blirik, blarak, bleseg

-[pr]     → priya, prentah, prawan

-[gr]     → griya, grendhel, grudug

-[ky]    → kyai, mangkya

-[sw]    →swiwi, swara, swargi

#phonetic

#phoneme