Akurasi Tata Bahasa dan Otonomi Pembelajar Dalam Penulisan Tingkat Lanjut

Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan pembelajar ESL tingkat lanjut untuk meningkatkan akurasi tata bahasa dengan secara otonom mendeteksi dan memperbaiki kesalahan tata bahasa mereka sendiri. Dalam literatur terbaru di SLA, disarankan bahwa tugas di kelas dapat digunakan untuk mendorong kebiasaan belajar bahasa yang otonom (lihat Dam 2001). Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan tugas kelas yang mendorong perilaku belajar bahasa yang otonom. Bekerja sama dengan 13 siswa komposisi ESL tingkat lanjut, kami melibatkan subjek dalam tugas eksplisit di mana mereka membandingkan penggunaan bentuk tata bahasa dalam karya tulis mereka sendiri dengan penggunaan bentuk tata bahasa yang digunakan dalam teks yang ditulis oleh penutur asli. Berdasarkan perbandingan antara hasil tulisan mereka sendiri dan teks penutur asli, subjek kemudian memperbaiki kesalahan tata bahasa mereka.

Hasil menunjukkan bahwa tugas perbandingan semacam ini bermanfaat untuk memungkinkan penerima pendapatan memperoleh peningkatan akurasi tata bahasa. Isu otonomi pembelajar menjadi perhatian umum di komunitas Akuisisi Bahasa Kedua (SLA). International Association of Applied Linguistics (AILA) Review baru-baru ini mendedikasikan edisi khusus untuk otonomi pembelajar dalam pembelajaran bahasa kedua (L2), yang menunjukkan validitas dan manfaat lingkungan belajar otonom (Dam 2001).

Yang penting, otonomi pembelajar dikonseptualisasikan bukan sekadar menetapkan tugas seperti tugas komputer interaktif, atau menyatakan instruktur usang, melainkan sebagai ideologi pedagogis yang mendukung pengajaran yang pada akhirnya menyerahkan kendali atas tugas pembelajaran kepada pembelajar sehingga mereka diberdayakan untuk terlibat dalam pembelajaran secara mandiri (Benson dan Voller 1997). Manfaat otonomi pembelajar juga telah diakui di bidang penulisan L2. Berdasarkan pengalamannya sebagai guru dan peneliti di bidang penulisan L2, Ferris merekomendasikan kepada pembelajar penulisan L2 untuk ‘menyadari pola kesalahan individu Anda sendiri’ (2002: 87).

Secara umum, guru dan peneliti menyadari bahwa sebagian peran pengajaran adalah untuk mendorong kebiasaan belajar bahasa yang bermanfaat. Misalnya, Lightbown dan Spada (1999) meninjau penelitian SLA yang menunjukkan bahwa salah satu aspek penting dari pengajaran bahasa di kelas adalah membantu peserta didik memperhatikan bentuk di L2 melalui berbagai teknik yang mengarahkan pembelajar untuk memperhatikan bentuk saat mereka berkomunikasi di L2. Instruksi semacam ini tidak hanya memungkinkan peserta didik menjadi lebih akurat mengenai bentuk yang difokuskan, tetapi juga mendorong keterampilan belajar bahasa yang dapat dibawa oleh peserta belajar melampaui situasi pengajaran saat ini. Tampaknya mendorong otonomi pembelajar semakin diakui sebagai praktik yang bermanfaat untuk mendorong pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, perlu untuk mengeksplorasi tugas pembelajaran bahasa yang mendorong otonomi pembelajar dan juga menghasilkan peningkatan akurasi dalam bahasa kedua. Studi ini adalah upaya untuk menemukan tugas yang sesuai untuk kelas penulisan ESL tingkat lanjut.

Penelitian dalam SLA menekankan perlunya membantu pembelajar L2 menyadari penggunaan L2 mereka sendiri dibandingkan dengan penggunaan bahasa target yang dihasilkan oleh penutur bahasa Ative. Doughty dan Williams menyatakan bahwa ‘salah satu isu sentral dalam penelitian Focus on Form (FonF) adalah bagaimana mengarahkan perhatian pembelajar pada ketidaksesuaian linguistik antara IL (antarbahasa) dan TL (bahasa target)’ (1998: 238). Dikemukakan bahwa pengakuan ketidaksesuaian antara IL pembelajar dan TL mendorong pembelajaran bahasa. Literatur FonF tampaknya menyiratkan bahwa pengakuan ketidaksesuaian adalah proses otonom bagi pembelajar bahasa.

Tugas-tugas spesifik telah diidentifikasi dalam literatur SLA yang menunjukkan keuntungan yang diperoleh pembelajar ketika mereka secara otonom menemukan ketidaksesuaian antara IL mereka dan TL, terutama ketika melakukan tugas yang melibatkan modalitas tertulis. Reformulasi seperti yang dijelaskan oleh Cohen (1989) terbukti produktif sebagai cara untuk membimbing pembelajar menyadari ketidaksesuaian ini. Dalam sebuah studi terbaru tentang reformulasi, Qi dan Lapkin (2001) mencatat kemampuan penulis ESL untuk memperhatikan kesalahan tata bahasa dalam hasil tulisan mereka sendiri ketika membandingkan kesalahan tersebut dengan reformulasi teks tulisan mereka oleh penutur asli. Dalam studi Qi dan Lapkin, para subjek menyatakan kesadaran akan perbedaan antara penggunaan bahasa mereka sendiri dan penggunaan anguage oleh penutur asli dalam reformulasi tersebut. Seperti yang dikemukakan Qi dan Lapkin, ‘ini menunjukkan bahwa fitur perilaku TL yang dimodelkan yang diperhatikan terus-menerus dibandingkan dengan teks tulisan pembelajar sendiri dan bahwa pengalaman terbaru subjek terhadap output adalah faktor penting dalam memengaruhi apa yang dia perhatikan’ (2001: 290). Membandingkan teks mereka dengan reformulasi penutur asli tampaknya memungkinkan pembelajar untuk mandiri dalam menemukan kesalahan keluaran mereka sendiri. Namun, perumusan ulang teks memerlukan bantuan dari penutur asli, yang mungkin tidak tersedia atau tidak praktis di semua konteks pembelajaran bahasa.

#tatabahasa

#menulislanjut

#menulis

#ikafarihahhentihu

Menulis Adalah Terapi

Menulis Adalah Terapi

Teringat akan instruksi atasan saya, rektor Universitas Islam Negeri Malang memacu saya untuk selalu menulis. Entah tadinya saya anggap ungkapan beliau hanyalah suatu himbauan kosong, namun saat ini bahkan menjadi stigma positif bagi diri saya khususnya. Terinspirasi dengan cara-cara beliau menerjemahkan ide ke dalam sebuah artikel, sayapun berusaha mengikuti cara-cara ini  bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan juga pengalaman-pengalaman adalah inspirasi terbaik untuk mengekspresikan diri ke dalam tulisan.

Dulu banyak tulisan-tulisan yang ingin saya masukkan ke berbagai media. Sebelum ada wadah blog seperti sekarang ini kita harus rela mengantri dan bahkan tidak diterima oleh media karena harus berkompetisi dengan tulisan-tulisan lain. Dulu hanya media cetak yang bisa menampung tulisan-tulisan kita. Namun sekarang saat booming dunia netter dan blogger, para penulis semakin menggeliat dan menunjukkan eksistensinya.

Begitu pula dengan saya yang juga disibukkan dengan kegiatan akademis, dan juga mengembangkan hobi sebagai blogger. Tulisan-tulisan saya yang sempat mengendap di flashdisk dan laptop saat ini sudah saya coba untuk share di website pribadi.

Sebagai seorang ibu seringkali justru disibukkan dengan urusan domestik. Dari sejak pagi setelah sholat shubuh mempersiapkan keperluan anak sekolah, sarapan dan seragam mereka sampai berangkat. Waktu luang hanya saat mereka sudah selesai mengerjakan PR. Itupun kadang kita  sudah lelah. Malam menjelang tidurlah saat yang paling cocok untuk menulis. Teringat pesan atasan saya, rektor UIN Malang untuk selalu menulis kapanpun itu. Beliau selalu menyempatkan diri disaat pagi agar menulis minimal 2-3 tulisan dan menguploadnya ke dalam website. Sehingga dalam satu tahun bisa terkumpul kurang lebih 300 tulisan. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa dan patut ditiru.

Sharing pengalaman dengan memanfaatkan blog dengan tema berbeda saat ini adalah salah satu bagian dari aktifitas blogging saya. Ada 5 blog yang saya kelola berdasarkan tema yang berbeda. Misalnya salah satu blog saya adalah tentang trik dan tips sehat mempersiapkan hidangan sehat untuk keluarga. Saya yakin semua wanita Indonesia memiliki resep-resep favorit keluarga sehingga saya hadirkan dalam blog keluarga Apel Batu saya adalah tips dan triks mempersiapkan hidangan terbaik untuk keluarga. Begitu pula dengan website pribadi saya Lingua Franca yang mencerminkan keingintahuan saya terhadap budaya Indonesia populer.

Kata Bugis atau Makassar seolah-olah seperti energi yang diberikan oleh Tuhan kepada saya untuk menulis. Ada puisi, ada budaya, ada pula sejarah. Kedekatan saya terhadap mahasiswa dan teman-teman asal SULSEL ini cukup menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis. Sehingga ada puluhan tulisan di website pribadi saya diantara 120 yang ada, yaitu tulisan-tulisan mengenai interaksi saya dengan mereka. Tulisan saya lainnya adalah mengenai informasi dan laporan pandangan mata tentang kota Malang, kota dimana saya tinggal. Kota ini benar-benar tak habis-habis memberikan inspirasi untuk menulis. Terutama karena banyaknya candi-candi dan situs yang tersebar di bermacam tempat.

Beberapa lomba blog yang saya ikuti ternyata menjadi cambuk kepada saya untuk tetap menulis dan mencurahkan inspirasi yang telah didapat. Ada tulisan saya yang mengkritik salah satu lomba blog dimana pemenangnya adalah orang-orang yang sama. Seperti ada unsur nepotisme disana. Walhasil tulisan ini menyebabkan derasnya virus hacker dan spamer yang datang bertubi2 ke dalam website saya. Meskipun sempat sedikit kelabakan dan down karena saya yang tidak begitu paham dengan spamer dan hacker maka ini adalah bahan bagi tulisan saya selanjutnya. Belum lagi puluhan email yang ditujukan kepada saya yang mengecam tidak menyurutkan keinginan saya untuk menulis. Artinya dengan menuliskan sebuah akibat dari sebab yang ada, maka tulisan yang baru adalah sebagai terapi. Setelah mengklik publish di dashbor, hati terasa lega dan ringan.

Maka apa yang bunda simpan di dalam hati, di dalam otak, tuangkanlah dalam bentuk tulisan. Dan tulisan adalah sebagai ajang untuk mengekspresikan diri, menuangkan inspirasi dalam bentuk tertulis seperti artikel dan karya seni misalnya puisi, prosa dan novel. Kesemuanya itu begitu melegakan setelah tulisan tersebut dibaca oleh netter. Maka sebenarnya, menulis adalah terapi.

Semangat bunda.. 😀